#AmazingRaceAnambas bersama Garuda Indonesia

#AmazingRaceAnambas bersama Garuda Indonesia

Lagi, ajang Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) tanggal 3 – 5 April 2015, menjadi penunjang bagiku untuk bisa mewujudkan impian mengunjungi salah satu tempat cantik di pelosok Nusantara. Kepulauan Anambas di Prov. Riau Kepulauan adalah si tempat cantik itu.

Konon kabarnya.., waktu terbaik untuk mengunjungi Kepulauan Anambas adalah sekitar bulan April-November karena lautnya sedang teduh. Nahhh….kebetulan di bulan Mei 2015 ini ada long weekend alias “ hari kejepit nasional” tanggal 14, 15, 16, 17 Mei 2015, dan ada open trip ke sana di tanggal-tanggal tersebut. Jadiiii….. mari menabung dan mengajukan cuti.., lalu berangkaaatttt….!!!

Day 0

Day of chaos , first round

Rute umum untuk mencapai Kepulauan Anambas adalah melalui Kota Tanjung Pinang. Jadi…pertama-tama aku dari Jakarta bisa memilih penerbangan langsung dengan Garuda ke Tanjung Pinang, atau terbang dengan Garuda ke Batam dulu, baru kemudian dari Batam naik ferry ke Tanjung Pinang. Dari Tanjung Pinang ke Kota Tarempah (ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna) bisa menggunakan pesawat atau kapal cepat atau kapal lambat. Atau…, bisa juga terbang dulu dari Jakarta or Batam ke Natuna, dari Natuna ke Kota Tarempah (ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna) naik kapal cepat atau kapal Lambat.

Eiitt…, tapii… ternyata tidak semudah itu menentukan kapan berangkat dan kapan pulang, harus menyesuaikan dengan jadwalnya si pesawat atau si kapal cepat ataupun si kapal lambat TanjungPinang – Tarempah (Kota Tarempah , ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna). Kalau tidak pas waktunya, bisa-bisa terdampar di Anambas dan tidak bisa pulang.

Selidik punya selidik, hasil guglang-googling, dan telpon sana sini…, jadwal-jadwal untuk kapal cepat dan kapal lambat selalu berubah-ubah, tidak ada yang bisa memastikan. Jadwal pesawat Tanjung Pinang ke Palmatak lumayan bisa dipegang , ada setiap hari, berangkat dari Tanjung Pinang jam 13an , sedangkan dari Palmatak jam 14:30an, ongkosnya flat 1,25jt sekali jalan , tidak fluktuatif seperti tiket pesawat umum, tapi…tidak bisa dipesan secara on-line jadi harus bayar cash via agen tiket setempat.

Berhubung waktu cutiku yang didapat sangat mepet 14, 15, 16, 17 dan 18 Mei 2015 saja, maka aku hanya bisa mengandalkan si pesawat. Rencanaku begini, tanggal 14 Mei 2015 mengambil flight pertama ke Tanjung Pinang agar bisa mengejar jadwal pesawat yang ke Tarempah jam 13an, itu artinya tidak bisa mengambil flight Garuda karena flight nya terlalu siang. Sedangkan untuk pulangnya, diputuskan mengambil last flight Garuda dari Batam, karena kalau dari Tanjung Pinang jadwalnya tidak ada yang malam.

Di ajang Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) tanggal 3 – 5 April 2015 lumayan dapat tiket promo Garuda rute Batam-Jakarta untuk tanggal 18-Mei-2015. Tiket Nusantara Air Tanjung Pinang – Matak pp juga sudah dibeli melalui agen tiket setempat. Tiket Jakarta – Tanjung Pinang juga sudah dibeli. Biaya trip 14-18 Mei 2015 juga sudah ditransfer, cuti sudah disetujui, mari berangkaaattt…!!!

Tapiii…..

Sehari sebelum keberangkatan, disaat sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan pekerjaan karena mau cuti, tiba-tiba sore-sore dapat kabar mengejutkan via sms dari agen tiket di Kota Tarempah, katanya pesawat Nusantara air rute Tanjung Pinang – Matak untuk penerbangan Kamis (14 Mei 2015) dan Jumat (15 Mei 2015) DIBATALKAN…!!! Semua penumpang dipindahkan ke penerbangan hari Sabtu (16-Mei-2015) atau tiket bisa juga dibatalkan.

Aduh….bagaimana ini…??? Kami semua panik…Whatsapp grup semalaman penuh dengan notifikasi galau dari teman-teman seperjalanan.

Kami berusaha untuk mencari transportasi alternatif menuju Anambas. Harapan terbesar ada pada kapal ferry yang akan berangkat lusa (jumat pagi) dari Tanjung Pinang, tapi katanya sudah penuh penumpangnya. Semalaman kami bergerilya mencari tiket si kapal ferry.

Dengan nanar aku menatap tas backpack dry bag, snorkling set, sendal, kamera, dan segala barang bawaan yang memang sudah dipersiapkan untuk dibawa dalam perjalanan ke Anambas ini.

Jadinya…mau kemana kita…???

Day 1

Terkatung-katung di Tanjung Pinang

Sampai tiba saatnya untuk berangkat ke Tanjung Pinang, pertanyaan tersebut tetap belum jelas jawabannya. Bahkan sampai akhirnya kami mendarat di Bandara Tanjung Pinang pun, masih belum jelas apakah kami bisa berangkat ke Anambas atau tidak…

Kami luntang lantung di Bandara Tanjung Pinang yang sepi, sambil terus mencoba meminta tolong dicarikan tiket ferry kepada agen-agen tiket, dan sambil browsing-browsing kira-kira tempat menarik apa yang bisa dikunjungi di seputar Pulau Bintan dan Pulau Batam, jika seandainya kami tidak berhasil mendapatkan tiket ferry, dan cari-cari rental mobil untuk dipakai ngider-ngider seputar Pulau Bintan ini.

Setelah heboh telpon sana-sini, menjelang tengah hari, kami mendapat kabar baik, agen tiket yang kami mintain tolong, berhasil mendapatkan 8 tiket ferry Tanjung Pinang – Tarempa, berangkat besok jam 7 pagi, horeeeee……..!!!

Tapi harus segera dibayar tunai….!!! Siaaaappp…..!!!

Begitu mobil sewaan datang, kami segera meluncur keluar bandara menuju pusat kota Tanjung Piang, tujuan utama : untuk mencari mesin ATM…!!! Banyak insiden setelah kabar buruk pembatalan pesawat kemarin sore : kartu ATM hilanglah ketinggalan di mesinnya akibat panik dan buru-buru, kartu ATM yang di telan mesin ATM lah , internet banking yang tidak berfungsi, heboh salah hitung uang untuk bayar tiket ferry lah. Haduhh…pusing dehh…

Hati berasa plong ketika akhirnya tiket ferry Tanjung Pinang – Tarempa sudah ditangan…. J

Setelah check in di Hotel Furia yang lokasinya dekat dermaga SriBintan, kami menuju Pantai Trikora. Lumayan jauh juga dari kota ternyata…. Bingung tak tahu arah, akhirnya kami memasuki salah satu spot tepi pantai, yang ternyata adalah restoran seafood. Tempat makannya berupa saung-saung bertiang tinggi, terbuat dari kayu & bambu beratap rumbia/daun bambu, dibangun tepat di bibir pantai. Saat laut surut, posisinya sepertinya sangat tinggi, tapi saat laut pasang tiang-tiangnya akan terendam.

Dengan takjub kami melirik pada berpiring-piring tumpukan-tumpukan cangkang kerang di saung-saung makan, padahal yang makannya hanya 2 atau 3 orang. Kami fikir, “Wahhh…gembul-gembul amat ini orang-orang…, habis sebegitu banyak kerang… Apa ngga enek yaaa…..???”

Kami sebetulnya belum terlalu lapar, karena sebelumnya sudah mencicipi sup ikan yang rasanya sangat juara di Kota Tanjung Pinang tadi. Tapi ketika ada salah satu saung makan yang kosong dan ingin leha-leha duduk-duduk ditepi pantai, tapi artinya kami harus memesan makanan & minuman.   Iseng dan pensaran juga dengan kerang, kami pun memesan masing-masing 1 porsi tumis kerang bulu, siput putih gonggong disebutnya, kerang remis yang kecil-kecil, dan kerang kijing yang pipih & lonjong-lonjong.

Semuanya siap saji ternyata, tidak perlu menunggu lama-lama, pesanan kami pun tiba. Sepiring tumis kerang bulu (memang ada bulu-bulu nya dicangkang kerangnya, seperti lumut) dalam kuah yang berwarna hitam. Sepiring kerang siput bercangkang putih, yang ini tanpa kuah. Sepiring kerang remis yang ukurannya kecil-kecil, dan sepiring kerang kijing berkuah. Hmmmm……enak ngga yaaa…??? Masih teringat dengan angka tingkat kolesterol dalam darah waktu medical check up yang lalu , saya awalnya tidak berani mencicip banyak-banyak… Tapiii….setelah mencicip si kerang bulu yang rupa & bentuknya sangat tidak menarik , setidakmenarik seperti kuahnya yang berwarna kehitaman, hmmmm….saya kalap. Rasanya enaaaaaaaaakkkk….. gurih kenyal mantap… Kerang gonggong juga enak, apalagi setelah dicocol sambal kacang yang berasa asam manis pedas segar itu….

Begitu juga teman-teman yang lainnya, semua kalap melahap semua hidangan. Berkali-kali memesan lagi dan lagi kerang bulu dan gonggong, hingga kekenyangan dan sudah tidak ingat lagi berapa porsi yang tadi sudah dimakan. Ketika datang tagihan , kami girang dengan harga yang harus kami bayar, ternyata tidak semahal yang kami bayangkan…., tapiiii…. apa betul kami makan hanya sejumlah itu porsinya…, sepertinya kami memesan lagi dan lagi dengan membabibuta tadi saking enaknya…

Setelah puas kekenyangan, kami melanjutkan perjalanan lagi mencari Pantai Trikora… Ternyata ketika bertanya-tanya.., sejak tadi juga sudah memasuki area Pantai Trikora yang membentang beberapa kilometer, sehingga ada yang disebut sebagai Pantai Trikora I, Pantai Trikora II, Pantai Trikora III, dan Pantai Trikora IV…

Hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk kembali ke hotel, dan berkumpul dengan teman-teman yang baru datang dari Batam. Dari ibu-ibu penjual bensin eceran , kami mendapat info rute yang katanya lebih dekat, tidak harus memutar melewati jalan yang tadi, akhirnya kami ikuti arahan tersebut. Ternyata rutenya lebih jauh, membelah Pulau Bintan, melalui bentangan areal perkebunan sawit yang sangat luas. Jalanannya lebar, lengang, beraspal mulus, sedikit bergelombang naik turun dan sedikit berkelok.

Malamnya kami membaur bersama orang-orang Tanjung Pinang desebuah taman yang sangat ramai dengan berbagai macam jajanan makanan.

Day-2

Ferry Tanjung Pinang – Tarempa

Jam 6 pagi kami sudah buru-buru check out dari hotel, dan buru-buru jalan kaki dengan segala barang bawaan menuju ke dermaga Sri Bintan. Dermaga sudah penuh dengan para penumpang ferry. Tiket diperiksa para petugas. Tak lupa kami membeli nasi bungkus untuk sarapan dan makan siang di kapal.

Ternyata penumpang kapal ferry ini penuh sekali, mungkin akibat penerbangan-penerbangan yang dibatalkan beberapa hari ini. Saya dan 2 kawan kebagian duduk di kursi paling depan, menghadap ke penumpang-penumpang lainnya. Kawan lainnya mendapat tempat duduk yang terpencar-pencar. Yang penting dapat kursi dehh…!!!

Jam 7 pagi kapal ferry berangkat meninggalkan dermaga Sri Bintan (Tanjung Pinang). Hari itu ombak di Laut Cina Selatan sedang teduh, kami yang didalam ferry tidak terlalu gonjang ganjing. Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan di dalam ferry, hanya duduk sambil ngobrol, duduk sambil tidur, duduk sambil nontonin orang-orang yang sedang nonton TV.

Jam 3 sore kapal mampir berlabuh di Jemaja (Pulau Letung), menurunkan barang & penumpang, menaikan penumpang baru & barang. Dari jauh sudah kelihatan ramai orang di dermaga, campur baur antara petugas, calon penumpang, kuli angkut barang, pengantar, penjemput dan para pedagang asongan yang kebanyakan ibu-ibu. Begitu kapal merapat, para ibu-ibu pedagang asongan dan bapak-bapak kuli angkut dengan gesitnya berebut naik ke atas ferry. Dagangannya seragam, yaitu nasi bungkus, kerupuk, keripik pisang, kue-kue, kacang goreng, kerupuk ikan, limun, kopi. Di dermaga juga banyak yang menggelar lapak dagangannya. Begitu aktifitas bongkar muat selesai, dermaga pun sepi kembali, sampai ada kapal berikutnya yang singgah, kira-kira 2 hari lagi.

Jam 5 sore, kapal berlabuh di Tarempah (Ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna). Alhamdulillah…..

Semua penumpang dan barang tumpah ruah di dermaga. Kami disambut 3 kawan yang sudah terlebih dahulu sampai, beserta 2 kapten speed boat yang akan kami sewa untuk keliling pulau-pulau. Kami tidak sempat melihat-lihat kota, karena langsung berpindah ke dermaga untuk boat-boat kecil. Setelah ini, kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Durai, kira-kira 2 jam lamanya.

Pulau Durai ini tidak berpenghuni, dan terkenalnya sebagai pusat konservasi penyu karena merupakan pulau yang dijadikan sebagai tempat bertelur oleh penyu-penyu. Penyu yang lagi bertelur, pemeliharaan telur hingga tukik dan pelepasan anak penyu alias tukik ke laut menjadi atraksi wisata andalan.

Di pulau ini terdapat beberapa bangunan pusat konservasi penyu, dan tempat tinggal penjaga pulau, ada juga gajebo-gajebo, dan kamar mandi umum untuk pengunjung. Kami mendirikan tenda disini. Menjelang malam sempat melihat 3 ekor penyu yang sedang bertelur. Selain kami, ada juga rombongan pengunjung lain (warga Anambas dari SMK) yang sedang study tour di pulau ini.

Day-3

Orang Laut dari Pulau Mengkait

Pagi-pagi setelah acara masak memasak dan beberes tenda serta segala rupa barang bawaan, kami dibawa keliling pulau Durai dengan boat, lalu sebagian snorkling dan sebagian lagi ikut paket diving.

Ekosistem bawah air disekitar pulau Durai ini tidak begitu banyak dihuni soft coral, ikan-ikan pun sedikit, kurang meriah… Yang diving juga sama bilangnya begitu… Visibility lumayan clear , jarak pandang cukup jauh. Arus laut tidak terlalu terasa, suhu air juga biasa. Menurut saya sihh underwater nya seperti di Pulau Rubiah (Aceh).

Yang seru malah acara manjat-manjat pohon kelapa oleh teman-teman cowok, anak kota coba panjat pohon kelapa.., yang ada baret-baret di dada, perut, paha, kaki, tangan. Seru sekali tapinya…. Acara masak-masakan darurat di bawah pohon dengan alat masak seadanya juga seru. Gara-gara kisruh akibat pembatalan pesawat dan lain sebagainya, Pak Hero (motorist) lupa membawa beberapa peralatan masak , jadinya masak nasi pakai teko, rebus kangkung juga pakai teko, wadahi nasi pakai jerigen bekas minyak goreng Bimoli yang sudah dipotong atasnya, jadi kami menyebutnya nasi bimoli.

Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Mengkait untuk membeli panci.

Pulau Mengkait ini lumayan padat penduduknya, rumah-rumah penduduk nya berupa rumah-rumah panggung terbuat dari kayu. Perahu-perahu tinting berserakan terparkir di perairan dekat dermaga, laut nya biru bening kadang-kadang berhiaskan sampah plastik, siang hari ini laut sedang surut rupanya. Dermaganya sudah terbuat dari beton, ada tembok rendah penahan ombak juga di tepian pantainya. Di dermaga segerombolan ibu-ibu berserta anak-anaknya sedang asik ngobrol. Di dermaga juga ada semacam tempat penyulingan air laut menjadi air tawar bersih. Air bersihnya ditampung dalam tangki-tangki oranye ditepian gang dekat dermaga.  Airnya dijual per jerigen, harganya untuk jerigen besar Rp3000, jerigen sedang Rp2500, jerigen kecil Rp2000.

Gang desa sudah terbuat dari beton. Rumah-rumah panggung bertiang tinggi berderet-deret disepanjang gang. Tiang-tiang rumahnya dari kayu bulat. Dinding rumah dari papan kayu kurnbar, kajang atau daun kelapa yang dianyam secara rapi. Lantai rumahnya terdiri dari papan kayu nibung atau bambu, sedangkan atap dibuat dari daun kelapa dan kajang.

Segerombolan bapak-bapak sedang ngobrol-ngobrol sambil ngopi siang-siang di sebuah warung. Ada beberapa warung minuman jajanan di dekat-dekat dermaga. Dan ada satu toko lumayan besar dan menjual segala rupa kebutuhan dari sayuran sampai sapu, panci, buku, kosmetik, sabun, baju, sepatu, dll. Sepertinya ini Toserba terbesar se Pulau Mengkait. Di Pulau Mengkait juga kami membeli cumi-cumi segar untuk dimasak nanti malam.

Pulau Mengkait ini dihuni oleh orang-orang dari Suku Orang Laut, demikian kata si bapak pengrajin perahu tinting yang saya ajak ngobrol selagi beliau sedang asik menyelesaikan pekerjaannya di bawah terik matahari. Sebuah perahu cadik alias ketinting sepanjang 25 meter sedang dikerjakannya, hmmm…mungkin baru 30-40% terselesaikan.

Suku orang laut , katanya adalah sebutan bagi sekelompok orang yang mengembara di laut, biasanya terdiri dari 10-15 perahu yang masing-masing berisi 6-7 orang. Perahu orang laut ini dikenal sebagai perahu gubang .

Pulau Mengkait ini bertetangga dengan Pulau Tamiang yang memiliki teluk yang sangat tenang karena terlindungi dari ombak. Dulu katanya namanya adalah Pulau Lanun dan Teluk Lanun, karena jaman dahulu kala tempat tersebut dikenal sebagai tempat berlindungnya para lanun alias bajak laut Cina Selatan yang terkenal sangat ganas itu.

Sebetulnya Pulau Tamiang lebih besar dan lebih “pantas” dihuni dibandingkan dengan Pulau Mengkait. Di Pulau Tamiang ada sumber air tawar bersih, di Pulau Mengkait tidak ada. Di Pulau Tamiang masih padat hutannya, dan tanahnya subur sehingga cocok untuk bercocok tanam, sedangkan di P Mengkait gersang dan tandus. Tapi orang laut entah kenapa lebih sreg untuk tinggal di Pulau Mengkait sejak dahulu kala.

Cerita dari Bapak Pengrajin Perahu masih akan terus bergulir jika sekiranya saya masih ada punya waktu di sini, tapi hari semakin sore, jadi kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Bawah, masih sekitar 2-3 jam lagi tergantung ombak.

Menjelang matahari terbenam, akhirnya kami sampai di wilayah Pulau Bawah. Pulau Bawah ini ukurannya lumayan besar juga, membentuk bukit berhutan rimbun,tapi tidak berpenduduk,yang ada hanya area Resort Pulau Bawah yang masih sedang dibangun (katanya pembangunannya sudah sekitar 2 tahun). Disekitar Pulau Bawah terdapat pulau-pulau kecil tak berpenghuni.

Sebelum merapat ke salah satu pulau kecil yang ada dihadapan Pulau Bawah untuk mendirikan tenda, kami memutuskan untuk snorkling dulu. Lautnya sedang surut, jadi menyulitkan bagi boat kami untuk berkeliaran mencari spot snorkling yang kira-kira bagus.

Seperti sebelumnya, di spot ini pun dipenuhi dengan batu-batu karang dan hard coral hidup, sedangkan soft coralnya jarang-jarang. Ikan-ikan ada tapi tidak begitu beragam, dan ukurannya kecil-kecil. Tapi saya sempat bertemu dengan 2 ekor ikan pari yang sedang berpacaran sepertinya, didasar laut dibawah sebongkah batu karang bulat. Uhhh…takut sekali saya melihat buntut beracunnya yang panjang mencuat seperti pedang.

Sepertinya kedua ikan pari itu juga merasa terganggu dengan keberadaan saya, sehingga tidak lama mereka melesat melarikan diri entah kemana. Buru-buru saya naik lagi ke atas boat, takut kalau-kalau bersirobok lagi dengan si ikan pari. Lagian matahari juga sudah semakin tenggelam, laut semakin gelap, sudah semakin susah untuk foto-foto ikan & coral tanpa penerangan memadai.

Kami mendarat di salah satu pulau berbukit. Pantainya berpasir putih dan cukup lebar. Sudah ada beberapa tenda yang didirikan oleh pengunjung lain, sepertinya mereka adalah pelajar setempat beserta bapak/ibu guru nya yang sedang mengadakan acara PERSAMI (perkemahan sabtu minggu). Untungnya masih ada tempat untuk kami mendirikan 3 tenda. Sayangnya ternyata tidak ada sumber air tawar disini, jadi terpaksa kami tidak mandi / bilas-bilas setelah bermain seharian ini di laut. Hanya ganti baju saja dengan yang kering jadinya, mandinya besok atau kapan-kapan ketika ketemu air tawar lagi.

Setelah acara mendirikan tenda, tiba saatnya untuk masak-masak lagi. Tumis cumi bimoli karena diwadahi jerigen bekas minyak bimoli. Menggoreng ayam yang sejak kemarin sudah dipotong-potong dibumbui dan direbus. Rebus kangkung lagi untuk bikin gado-gado. Bakar ikan yang tadi dikasih Bapak TNI AL di Pulau Mengkait. Ada orek tempe, ada kerupuk.., aduhh… banyak banget ternyata makanannya.

Malam begitu cerah ceria. Laut beriak sedikit, ombak ada berdebur sedikit dipasir pantai, angin dingin dan segar berhembus dari laut, bintang-bintang berserakan di langit yang begitu cerah. Api unggun tetangga tampak meriah menari-nari di gelapnya malam. Lagu-lagu global masa kini menghentak-hentak dari gadget para tetangga. Ternyata walaupun nun jauh di pulau yang ada di Laut Cina Selatan, lagu-lagu global & budaya global tidak mengalami hambatan untuk bisa menyebar di kalangan muda-mudi Anambas. Acara malam kami lewati dengan ngobrol ngalor ngidul diseputar api unggun bekas bakar-bakar ikan, bermain dengan umang-umang, mengamati polah tingkah tetangga dan ikut-ikutan menertawakan tetangga yang sedang main kartu dan mengerjai yang kalah dengan cara keliling dari tenda ke tenda sambil berlari-lari dan teriak “Aku gilaaa…, aku gilaaa…, aku gilaaa…!!” kocak banget dehh. Kemudian satu persatu tidur, ada yang di dalam tenda, ada yang geletakan di atas matras alias terpal plastik di luar tenda, ada juga yang tidur di kapal.

Day-4

Pendakian yang konyol & pelangi di Pulau Penjalin

Pagi yang cerah, matahari muncul tanpa malu-malu. Para penghuni tenda bermunculan terkantuk-kantuk. Ritual rutinitas pagi urusan MCK terganggu karena ketiadaan sumber air bersih, jadi nyemplung aja langsung di laut. Lanjut acara masak memasak lagi, persediaan makanan masih banyak aja ternyata. Lanjut beberes lagi karena hari ini rencananya kami akan kembali ke Kota Tarempah. Sebagian dari kami, besok rencananya pulang ke Tanjung Pinang, lalu menuju Batam, dan malamnya pulang ke Jakarta. Sebagian lagi, yang masih punya waktu luang akan melanjutkan petualangan menyusuri pulau-pulau di seantero Kepulauan Anambas.

Selesai berkemas, kami menyebrang ke Pulau Bawah, ke tempat pembangunan Resort Pulau Bawah yang belum selesai juga. Bebrapa pekerja bangunan tengah asik mengobrol sambil memandang lautan, mungkin karena masih pagi dan hari minggu pula, jadi masih pada asik bersantai. Pasti ada sumber air tawar disini…, jadi saya meminta ijin untuk menggunakan MCK, ternyata lokasi MCK nya jauh dibelakang, melewati beberapa bangunan resort, melewati kolam renang, melewati aula besar, tapi semuanya belum ada yang rampung. Sumber air tawarnya diperoleh dari sumur, airnya dipompa dengan pompa listrik genset, atau bisa juga ditimba secara manual. Sebenarnya pengen numpang mandi, tapi tidak ada waktu… Kami meminta ijin kepada mandornya untuk mendaki bukit di belakang resort, salah seorang pekerja bersedia menjadi guide kami.

Spot yang ingin kami tuju adalah sebuah spot yang menurut beberapa sumber dari internet, sangat bagus untuk digunakan sebagai spot foto. Pemandangannya lepas ke laut dengan gugusan pulau-pulau kecil dan laguna-laguna nya, pemandangan seperti di Wayag atau Pianemo di Raja Ampat.

Acara trekking diwarnai dengan tersesat kesana kemari, akibat salah komunikasi dengan si guide, kami maksudnya kemanaaa….si guide memahaminya entah kemana… Jadi selama 1 jam kami trekking mendaki puncak bukit, lalu turun lagi menuju bukit satunya , tanpa jelas tujuannya mau kemana… Setelah berembuk lagi barulah si guide faham akan tempat yang ingin kami tuju…, dan ternyataaa…… tempat tersebut hanya dekat saja dari tempat kami mendarat tadi… Hanya perlu 5 menit melipir menyusuri pantai ke arah kiri, melewati deretan homestay-homestay atas laut (homestay mewah tentu nantinya), lalu memanjat batu karang, dan…..walllaaaa….. pemandangan spektakuler terbentang dihadapan.

Dari atas batu karang, kita bisa lepas memandang hingga ke batas cakrawala dimana birunya langit bertemu birunya lautan. Pulau-pulau kecil berserakan. Laguna-laguna terbentuk diantara pulau-pulau karena saat itu laut sedang surut. Laguna-laguna itu dipenuhi air laut dengan gradasi warna biru kelam,biru muda jernih, hijau toska, hingga putih bening. Boat-boat kami tampak cantik ketika melewatinya, bapak-bapak motorist itu katanya mau ambil sesuatu dari temannya yang ada di salah satu pulau.

Kalau tidak kepanasan di atas batu karang itu, saya akan betah berlama-lama di sana. Senja di sana pastilah indah luar biasa. Tapi senja masih jauuuhhhh…., matahari bahkan baru saja merayap naik. Tak tahan dengan panasnya dan lapar pula , saya dan seorang kawan ditemani si guide gadungan , turun duluan menuju boat, dan berkeliaran diseputar laguna. Memanjat-manjat batu karang di salah satu pulau. Walaupun batunya sudah jadi sangat panas karena terik matahari. Lalu kami lanjut snorklingan di seputar laguna.

Lagi, ekosistem bawah lautnya kurang meriah, ikan-ikannya kurang banyak dan kurang beragam, hard coral masih mendominasi, corak warna nya kurang beragam, soft coral ada beberapa disana-sini. Arusnya lumayan deras pagi ini, visibility lebih rendah jadinya.

Usai puas snorkling kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Gembili untuk mengambil stock bensin yang sudah dititipkan oleh Pak Hero di tempat temannya. Di Pulau Gembili kami makan siang dibawah pohon rindang, ditepi pantai yang berpasir putih dan air laut biru jernih. Tapi kami sudah malas untuk snorklingan karena matahari sudah sangat terik.

Dari Pulau Gembili kami melanjutkan lagi perjalanan sekitar 2 jam menuju Pulau Penjalin di utara Kota Tarempah. Disambut hujan deras dan arus deras. Saya yang sudah kambuh malasnya, memilih untuk leha-leha di boat saja, sementara kawan-kawan yang masih bersemangat, sudah asik menceburkan diri ke laut ber-snorkling sana sini, katanya terumbu karangnya lebih bagus dan ikan-ikannya lebih banyak dan besar-besar, tapi saya sudah malas untuk berbasah-basah.

Pulau Penjalin ini dihiasi batu-batu berukuran super besar, mirip seperti di Bangka-Belitung dan Temajuk (kalimantan Barat). Formasi bebatuannya lucu-lucu, ada yang bertengger unik dipuncak batu besar, seperti telur paskah.

Karena arus dan ombak yang kuat, boat jadinya susah untuk merapat ke pulau. Hujan juga masih mengguyur deras, makin deras malah. Kawan-kawan yang sudah menceburkan diri ke laut, berusaha memanjat batu-batu besar dengan susah payah saking licinnya karena lumut.

Lalu hujan mereda, dan muncullah dua lengkung pelangi di balik pulau.  Itulah hadiah dari sang hujan dan sang awan hitam untuk kami di akhir hari ini.. Terimakasiiihhh…

Pulau Penjalin ini ternyata cukup besar ukurannya, disisi lain dihiasi batu-batu super besar, disisi lain nya lagi dihiasi bentangan panjang pantai landai berpasir putih berombak tenang. Kalau masih punya waktu, mau rasanya berkemah lagi semalam di sini. Tapi karena jaraknya cukup jauh dari Kota Tarempah, kami tidak berani ambil resiko. Akhirnya kami harus meninggalkan Pulau Penjalin menuju Kota Tarempah (di Pulau Siantan).

Sekitar jam 7 malam kami mendarat di Kota Tarempah, terseok-seok mengangkuti seluruh barang bawaan dari kapal ke Hotel Hang Tuah yang lokasinya tidak jauh dari dermaga. Kamar-kamar hotelnya ada di lantai 2 dan 3, sementara lantai 1 nya adalah ruko yang berjualan peralatan rumah tangga. Tangganya lumayan curam dan bikin nafas megap-megap. Kamarnya kecil, dilengkapi 2 tempat tidur kecil, 1 unit televisi, 1 unit meja kursi, 1 unit AC, dan kamar mandi (tanpa hot water). Huhhh….segar sekali rasanya mandi setelah 2 hari 1 malam tanpa berbilas air tawar.

Malamnya kami keluyuran di sepanjang jalan protokol Kota Tarempah yang padat dengan ruko-ruko, warung makan, kantor bank (BNI, BRI, Bank Syariah Mandiri, Bank Kepri), kantor-kantor pemerintah, gedung serba guna, puskesmas, dan kedai kopi. Bangunan-bangunan ruko nya banyak yang berupa bangunan lama dengan gaya Tiongkok lama, rupanya Jl.Hang Tuah ini merupakan kompleks Pecinan, tempat para perantau asal Cina daratan yang dahulu datang merantau dari tanah leluhur. Jalanannya sangat padat dengan sepeda motor yang berseliweran. Tukang ojek ada mangkal dimana-mana. Kami mencoba kuliner mie goreng tarempah, penampakannya mirip mie aceh, penuh dengan bumbu, tapi rasanya berbeda.

Day-5

Pulang…., tapii… (Another Day of chaos , 2nd round)

Hari ini saya dan 3 kawan lainnya akan pulang ke Jakarta. Pesawat dari Bandara Matak (di Pulau Palmatak) jadwalnya akan terbang jam 1 siang. Karena berbeda pulau, para penumpang dari sekitar Tarempah diharuskan berkumpul di dermaga sekitar jam 11an untuk kemudian diangkut dengan boat ke dermaga Matak, ongkos boat sudah termasuk dalam ongkos tiket pesawat.

Pagi-pagi kami sudah janjian dengan Bapak Agen Tiket Baik Hati yaitu Pak Jap Jonni untuk ngopi-ngopi di Kedai Kopi Mak Alang depan Pasar Ikan Siantan. Kedai kopinya berupa teras rumah lebar di depan bangunan kayu bergaya Tiongkok lama, bersebrangan dengan Pasar Ikan Siantan. Pengunjungnya laki-laki semua, alias bapak-bapak. Kopinya harum sekali, cemilannya berupa kue-kue jajanan tradisional beraneka rupa, ada juga mie tarempah, mie tiaw sagu, haduhhh…lupa saya nama-nama makanannya. Semuanya enak-enak rasanya.

Pasar ikan diseberang gang juga ramai dengan pembeli, ibu-ibu berseliweran sibuk menawar-nawar. Beraneka ikan, kerang, cumi, udang, bahkan ikan pari, digelar berjejer-jejer. Pasar ikannya cukup resik, tidak berbau seperti Pasar Ikan Muara Angke di jakarta. Sekarang musim tongkol katanya, ikan-ikan tongkol beraneka ukuran berjejeran di lapak-lapak, semuanya segar-segar.

Usai ngopi-ngopi dan berjalan-jalan di pasar ikan, kami berencana untuk memanfaatkan waktu sebelum pulang untuk pergi ke salah satu pulau kecil dan ke Air Terjun Temburun yang berada di sisi lain Pulau Siantan ini. Air terjun nya bisa dicapai melalui jalan darat off road atau melalui laut. Teman kami sudah mencoba jalan darat dengan menyewa 2 motor trail sebelumnya, jadi kali ini kami mencoba jalur laut yang juga lebih singkat. Kami sempat juga singgah di salah satu pulau kecil untuk sekedar foto-foto, ingin snorklingan lagi rasanya tapi waktunya terlalu sempit.

Air terjun Temburun ini airnya mengalir langsung ke laut sebetulnya, tapi sekarang ada jalan yang dibangun sekaligus sebagai pembendung air terjun sehingga membentuk kolam. Jalannya berupa jalan tanah, tempat lalu lalangnya truk-truk pengangkut pasir ke sebuah kilang yang ada dekat situ. Ada beberapa rumah ditepi pantai depan air terjun.

Ukurannya air terjunnya cukup lebar, sehingga bisa terlihat dari kejauhan ketika kita masih menaiki boat. Bentuk air terjunnya berundak-undak, katanya ada 7 tingkatan, tapi saya lupa ada berapa tingkatan. Kalau musim hujan debit airnya besar, melebar kemana-mana, tapi saat ini debit airnya sedikit karena sedang musim kemarau.

Ada jalan beton cukup lebar, menanjak curam di samping kiri air terjun, bersisian dengan pipa air berukuran besar yang katanya dulunya adalah dialirkan ke PLTA, tapi sekarang sudah tidak berfungsi lagi.

Karena debit airnya sedang sedikit, jadi pengunjung, yang saat itu hanya ada kami saja, bisa leluasa melintas menyebrangi sungainya. Ada semacam tembok bendungan di undakan pertama. Pemandangan dari sini sudah cukup leluasa ke arah lautan. Diseberang sungai ada semacam gajebo-gajebo dan bangunan berkaca serta toilet-toilet yang sudah terbengkalai, sudah rusak disana-sini.

Kami yang penasaran, berusaha untuk terus naik mencapai undakan-undakan selanjutnya. Naik melalui akar-akar pohon dan batu-batuan yang penuh dengan semut merah…, hadeuuhhh….ampun dehhh gigitannya mantap… Tapi view dari undakan atas juga sangat mantap. Terlihat jelas pulau-pulau diantara kilau lautan dan kelok teluk , sangat cantik sekali.

Tapi kami tidak bisa berlama-lama, kami harus segera kembali ke Kota Tarempah, harus segera check out dari hotel, dan segera menuju bandara Matak. Masih sempat mandi sekali lagi dan beli oleh-oleh kerupuk ikan dari toko dekat hotel.

Jam 11an kami berempat sudah tiba di dermaga PEMDA, dermaga tempat berkumpulnya para penumpang pesawat, tapi belum ada penumpang lainnya, kata si Mbak penjaga warung minuman biasanya baru kumpul sekitar jam 12an. Dan benarlah, sekitar jam 12an penumpang-penumpang lain berdatangan, 2 boat kuning milik PEMDA yang akan mengangkut kami juga sudah datang. Tidak lama kami diinstruksikan untuk naik ke 2 boat tersebut.

Kami pun berpamitan dengan kawan-kawan yang masih tinggal (7 orang) dan kepada kedua motorist (Pak Hero dan Pak Khaerul), semua barang bawaan sudah dimasukan ke boat. Kami berempat yang akan pulang sudah duduk sumringah di dalam boat, tiba-tiba ada seseorang yang katanya petugas berbicara sambil berjonhgkok dari arah pintu depan boat, katanya pesawat yang akan kami tumpangi itu belum berangkat dari Tanjung Pinang menuju Matak sini, katanya lagi kemungkinan jam 3an baru berangkat dari Tanjung Pinang jadi sekitar jam 4:30an sore baru mendarat di Bandara Matak, jadiiii….dari Bandara Matak akan berangkat sekitar jam 5 sore… Penumpang yang sudah di boat diharap turun lagi, nanti akan dikabari lagi perkembangannya..

“Apaaaaa…???” serempak kami semua kaget.

Antara percaya dan tidak percaya dengan kabar yang barusan kami dengar. Semua penumpang keluar lagi dari boat, naik lagi ke dermaga. Petugas yang tadi ngasih pengumuman kami tanyai lagi. Nanti katanya kami dikasih kabar lagi sekitar jam 2 siang. Aduhh…..bagaimana ini…??? Kami yang bingung luntang lantung di ruang tunggu dermaga, sinyal selular kadang nyambung seringnya sih tidak… Teman-teman yang lain mungkin sudah berangkat ke suatu pulau. Saya kirim sms ke bos di kantor tentang hal ini, takutnya hari ini pesawatnya tidak jadi berangkat, artinya saya tidak bisa pulang malam ini, artinya lagi saya tidak bisa masuk kerja besok pagi.

Dermaga sudah sepi lagi, penumpang-penumpang yang tadi entah pada pergi kemana, mungkin pulang lagi ke rumahnya masing-masing, atau pada pergi ke warung makan. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan juga, yang ada di depan hotel. Ternyata teman-teman yang lain masih ada di hotel, belum berangkat jelajah pulau, dan ikut bingang bingung dengan kami berempat.

Kabar mengenai si pesawat TanjungPinang-Matak juga belum jelas, kenapa sampai ditunda penerbangannya, jadikah tidak kah terbangnya hari ini, atau batalkah…., semuanya masih serba tidak jelas.

Selesai makan siang, kami memutuskan untuk balik ke hotel dulu, masih ada 3 kamar yang posisinya belum check out. Yang cewek umpel-umpelan di 2 kamar, yang cowok menggerombol di satu kamar dan dilorong hotel. Lumayan lah, masih bisa ngadem di kamar ber-AC.

Menjelang jam 2 siang, sudah ada konfirmasi bahwa pesawat tidak jadi berangkat dari Tanjung Pinang ke Matak hari ini, artinya tidak ada yang bisa mengangkut kami kembali ke Tanjung Pinang… Saya dan 2 kawan yang besok harus kerja, terpaksa harus bolos..!!! Kapal ferry ke Tanjung Pinang sudah berangkat tadi pagi, artinya baru akan ada lagi 3 hari yang akan datang…!!! Kami berusaha untuk mencari tumpangan kapal nelayan, ke Batam atau ke Tanjung Pinang tidak masalah, asalkan bisa keluar dulu dari Kepulauan Anambas…, tapi ternyata tidak ada. Kami juga coba-coba tanya-tanya ke Bapak TNI AL mana tahu ada kapal patrolinya yang akan menuju Batam atau Tanjung Pinang malam ini, kalau ada..kami mau menumpang…., tapi ternyata itu pun tidak ada…

Akhirnya kami pasrah, dan check in lagi di Hotel Hang Tuah. Tiket Batam-Jakarta malam ini saya minta jadwal ulang ke besok malam. Upaya menelpon customer service nun jauh di sebrang lautan itu, dari Tarempah sini juga membutuhkan usaha dan kesabaran tingkat tinggi karena sinyal seluler yang hilang timbul hilang timbul. Soal bayar membayar selisih harga tiket juga jadi masalah karena internet banking tidak berjalan, ATM Bank Mandiri tidak ada, akhirnya pinjam ATM BNI punya teman…

Tapi yang tersusah tentu saja meyakinkan si bos di kantor…. L

Sore-sore sebagai pelipur stress, saya dan kawan sekamar memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar, untuk mencari lagi tukang empek-empek yang tadi pagi sempat kami lihat warungnya dan sepertinya enak. Empek-empek nya memang enak.., si ibu dan bapak penjualnya asli orang Palembang tapi sudah setahun ini merantau di Tarempah, katanya ikut anaknya yang mendapat kerja di sini.

Malamnya, kami berbondong-bondong ke salah satu cafe pinggir pantai untuk mencicipi kuliner Tarempah lainnya. Dilanjutkan dengan acara karokean bersama sebagai obat penghilang stress.

Day-6

Terbang…ngga…. terbaaang….ngga… (Another Day of chaos , 3rd round)

Pagi-pagi kami janjian lagi untuk ngopi-ngopi dan curhat-curhat bersama Pak Jap Jonni di Warung Kopi Mak Alang lagi. Mencicipi lagi aneka makanan jajanan, sampai lupa siapa makan apa dan jumlahnya berapa…

Karena masih ada sedikit waktu, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Kelenteng, menyusuri gang demi gang sempit di seputar kota Tarempah. Benar-benar padat kota ini…!! Di suatu gang, persis sebelum kelenteng, kami melewati sekelompok orang (ada ibu-ibu, anak-anak, dan seorang pemuda) yang sedang membakar ikan tongkol dipinggir gang.

Mungkin melihat gelagat tingkah kami yang menunjukkan bukan orang sini, si pemuda bertanya “Dari mana mas..mbak..??” Pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka keakraban antara kami si pendatang norak dengan mereka yang orang sini. Ketertarikan kami pada si ikan tongkol yang sedang diasapi membawa kami pada icip-icip kuliner andalan Kepulauan Anambas-Natuna, yaitu ikan tongkol lado garom dan sambel pede. Emmmhhh….rasanya enaaaakkk banget itu sambel pede.

Kebetulan kemarin pagi teman sekamarku membeli sebotol sambel pede dari pasar ikan, karena dia sudah biasa memakan produk sejenis tapi beda nama saja di kampung halamannya, Pontianak.  Ahh…menyesal juga jadinya saya tidak ikutan beli kemarin itu, tadi pagi sudah tidak jualan lagi si Bapak yang jualnya. Saking enaknya makan tongkol asap lado garom, akhirnya kami terbujuk oleh untuk membeli ikan tongkol segar dari pasar ikan, Oka dan ibu-ibu itu akan membantu mengasapinya. Kami akan membawanya pulang untuk oleh-oleh.

Mengenai si kelenteng yang menjadi tujuan kami pagi itu, hmmm…, bangunannya cantik, berada di tebing dan menghadap ke lautan. Pemandangannya begitu lepas, bisa melihat ke lautan dan ke segenap penjuru Kota Tarempah yang padat.

Kami berempat hanya sebentar saja disitu, karena harus check out hotel dan berangkat ke dermaga lalu ke bandara Matak. Diperjalanan pulang ke hotel kami mampir ke kantornya agen tiket, dan mendapat kabar yang menyesakkan dada…., katanya pesawat TanjungPinang-Matak hari ini juga batal terbang….!!!!

ALAMAAAAAAKKKKK……!?!&#%**)%#@# agaimana pula nasibku ini…??? BAHHH….!!!  Hari ini sudah bolos kerja…, besok masa harus bolos lagi…??? Bisa dipecat saya….!?!#$@^&!

Bingung alang kepalang kami jadinya….. Bingung apa harus me-reschedule tiket lagi yang untuk ke Jakartanya…, tapii….kalau sudah 3 kali di reschedule akan tidak bisa lagi di re-schedule…!!! Dan.., harus di re-schedule ke tanggal berapa..?? Ke besok..??? Yakin besok pesawatnya yang Tanjung Pinang – Matak ini besok ada..???

Aduh pusiiiiing…… .!?!&#%**)%#@#

Dengar-dengar katanya hari ini ada kapal dari Tanjung Pinang ke sini, artinya besok pagi kapal tersebut akan kembali lagi ke Tanjung Pinang. Maka cepat-cepat kami minta tolong untuk dicarikan si tiket kapal…, syukurlah dapat 4 tiket… Tapii…kalau naik kapal besok, artinya sampai ke Tanjung Pinangnya sore menjelang malam, pesawat paling malam dari Batam pun tidak mungkin terkejar lagi…, artinya baru lusa kami bisa kembali ke Jakarta, artinya tambah 2 hari lagi bolos kerja , besok dan lusa…. Wadooowwww….. alamat jadi langsung dipecat oleh perusahaan…!!!

Tidak lama, ada telpon masuk ke agen tiket dari petugas di Perusda Anambas Sejahtera yang mengelola penerbangan rute Tanjung Pinang – Matak, katanya si pesawat sekitar jam 3an berangkat dari Tanjung Pinang, sampai sekitar jam 4:30an sore baru mendarat di Bandara Matak, jadiiii…. kami dari Bandara Matak akan bisa berangkat ke Tanjung Pinang sekitar jam 5 sore. …!!!

WHATTTT….??/ !?!&#%**)%#@#

Kami sudah terlanjur membeli tiket kapal. Tapi…. yasudahlah apabolehbuat…., syukur-syukur kalau memang si pesawat jadi terbang, walaupun tetap saja kami harus bolos sehari lagi besok…!!!

Kami yang stress berat akhirnya berduyun-duyun menuju Kantor Perusda Anambas Sejahtera yang utk komplain & meminta surat keterangan resmi alasan pembatalan kemarin & penundaan hari ini….. Dua orang pegawai (perempuan) melayani permintaan kami. Si mbak-mbak itu tidak minta maaf atas semua kesulitan yang harus kami hadapi akibat ketidakjelasan jadwal pesawat. Boro-boro dapat pengganti biaya-biaya extra baik akomodasi maupun penggantian biaya tiket Batam-Jakarta yang akhirnya pasti hangus juga itu….. Benar-benar tidak bertanggung jawab..!!!

Sekitar jam 14an akhirnya kami diangkut juga dengan boat PEMDA ke Pulau Palmatak, kurang-lebih 45 menit sudah sampai lagi di dermaga Matak. Dari sana kami lanjut naik taxi (harus bayar lagi) ke Bandara Matak (kurang lebih 10 menit). Berhenti di semacam tempat check in, seperti teras rumah yang berada persis diluar gerbang area bandara.

Masing-masing penumpang harus lapor ke si Bapak Petugas check in yang memegang secarik kertas list penumpang dan sebuah buku tulis besar. Tiap penumpang ditanyai berat badannya. Tak ada timbangan di situ. Bagasi-bagasi ditandai. Kemudian kami naik lagi ke taxi, diangkut ke dalam area bandara.

Area bandara nya asri dan rapi. Mess-mess perusahaan migas berderet rapi di satu sisi. Pintu ruang tunggu bandara masih terkunci, tapi tidak lama kemudian di buka. Ruang tunggu nya kecil tapi bersih dan nyaman ber-AC. Hati masih ketar ketir, karena sudah jam 4 sore, tapi pesawat dari Tanjung Pinang belum juga datang. Tiket ke Jakarta, hangus sudah pasti…!!!

Sekitar jam 4:30an sore si pesawat yang ditunggu-tunggu akhirnya mendarat juga, hati lumayan plong walaupun geram karena sudah pasti kami tidak akan bisa mengejar jadwal pesawat ke Jakarta nya nanti malam.

Jam 17an , kami di suruh masuk pesawat. Pesawatnya Foker50 berbaling-baling, tempat duduknya nyaman, pramugarinya ada 3 orang, setiap penumpang mendapatkan sebotol kecil AMDK dan beberapa permen. Langit sore yang cerah, matahari masih bersinar. Pulau-pulau berserakan di lautan Cina Selatan, kapal-kapal nelayan tampak seperti bintik-bintik. Di langit awan-awan tipis mengambang tenang. Penerbangan Matak-TanjungPinang berlangsung selama 1 jam 20 menit. Pesawat mendarat mulus di Bandara Tanjung Pinang kira-kira jam 18:20.

Penumpang nya full, sebagian besar diisi oleh rombongan guru-guru dari Kab Anambas yang akan menghadiri acara pelatihan di Jakarta. Kami juga berkenalan dengan seorang pemuda dari Bandung yang akan pulang setelah menengok ayahnya sekalian liburan di Anambas. Kami yang merasa sependeritaan, janjian untuk sama-sama mencarter mobil dan mencarter speed boat untuk menyebrang dari Tanjung Pinang ke Batam, karena mereka juga harus mengejar jadwal pesawat terakhir ke Jakarta, sedangkan sudah pasti kapal ferry sudah tidak ada, sudah kemalaman.

Tapi situasi tidak mendukung ternyata.., jalanan kota Tanjung Pinang padat merayap. Selidik punya selidik katanya tadi siang ada demo besar-besaran di depan Kantor PLN , warga yang sudah muak dengan kinerja PLN yang buruk sudah tidak bisa lagi mentoleransi kondisi “mati lampu” yang sudah amat sangat sering melanda Kota Tanjung Pinang dan Batam. Sehingga kami baru bisa sampai di dermaga Sri Bintan Tanjung Pinang ini sekitar jam 8 malam. Pesawat Garuda GA 159 Batam-Jakarta jam 19:20, yang harusnya saya tumpangi, terbang sudah tanpa saya….

Sementara, salah satu teman yang memilih maskapai berbeda dan jadwalnya sedikit lebih malam, masih berusaha untuk mengejar jadwal pesawatnya. Tapiiii…, rencana yang tdai sudah disusun bersama rombongannya si Bapak Guru juga harus gagal karena orang yang menyewakan speedboat nya tiba-tiba menaikan harga sewa yang katanya tadi sudah disepakati… Ya sudahlah…pasrah saja jadinya… Tiket hangus semua…

Malam itu kami terpaksa menginap lagi satu malam di Tanjung Pinang, harus membeli lagi tiket pesawat ke Jakarta, harus meminta permakluman lagi kepada atasan karena besok kami masih belum bisa masuk kerja…. L

Day-7

Aku Pulaaaaaang….

Pagi ini kami akan pulang ke Jakarta, mengambil penerbangan paling pagi, sekitar jam 9:20 berangkatnya.

Pagi-pagi kami menyempatkan diri untuk sedikit berburu kuliner lagi , tidak jauh-jauh dari hotel, hanya berjalan kaki ke daerah sekitar Jalan Pos. Menjajal salah satu kedai kopi dan jajanannya yang enak-enak. Selain itu juga berburu oleh-oleh lagi.

Syukurlah hari kepulangan ini semuanya lancar. Pesawat sesuai jadwal, angkutan DAMRI Bandara Soetta-Bogor juga langsung ada, tol dalam kota Jakarta juga lancar (isu adanya demo mahasiswa besar-besaran tgl 20-Mei-2015 untuk menuntut penurunan Presiden Jokowi ternyata tidak jadi).

Sekitar jam 6 sore, tibalah saya di tempat kerja, langsung lapor atasan menjelaskan keadaan transportasi yang kacau tidak bisa dipegang jadwalnya, sambil menyerahkan semua bukti-bukti tiket dan surat keterangan dari Kantor Perusda Anambas Sejahtera. Hmmm….., catatan merah saya tahun ini L

Jadi begitulah…., salah satu balada seorang kuli pabrik yang hobby nya bertualang ketempat-tempat yang aksesnya sulit….. Seorang kuli pabrik, yang masih ingin menjelajahi pelosok negerinya…., yang tidak puas jika hanya beredar diseputar pabrik-rumah-bank-pasar-pabrik lagi – rumah lagi – warung – bank – pasar…

Yang percaya pada quote “The world is a book, those who do not travel, read only one page”…!!

============================

Advertisements

20130808 Mo ngapain yaa ke Jambi ???

Q : “Mbak sendirian aja ke sini “

A : “Iya Pak..”

Q : “Sudah pernah ke sini sebelumnya ???”

A : “Belum Pak.., baru kali ini”

Q : “Ada saudara di sini…??”

A : “Ngga ada Pak…??”

Q : “Terus..ke sini dalam rangka apa ??? Tugas kuliah..??? Penelitian..??? Wartawan ??? atau tugas kerja…??

A : “Ngga Pak.., saya mau jalan-jalan aja… Saya sering kok jalan-jalan sendirian, ke Aceh, ke Selayar, ke NTT”

Q : “Ada saudara di sana ??”

A : “Di mana Pak ??”

Q : “Yaa…di Aceh misalnya…”

A : “Ngga ada Pak…, emang harus ada saudara di suatu tempat, baru kita boleh ke sana ya Pak..??

Q : “Yaaa…biasanya kan gituu…”

A : “Wahhh…klo saya sihh…, melancong itu kalo bisa sihh ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi Pak… Seru kok Pak, jalan-jalan sendiri ke tempat-tempat asing, ketemu orang lokal dengan logat khas daerah itu, nyicipin makanan lokal, lihat bentuk rumah2nya, pakaiannya, lihat kehidupan sehari2nya, lihat cara memasak misalnya…, nanti juga jadi banyak saudara Pak…”

Q : ???$%#@^%%????

Begitulah sekelumit obrolan saya dengan Mamang Ojek yang mengantarkan saya dari hotel ke agen travel Sungai Penuh. Sepertinya, jawaban-jawab saya tidak “masuk akal” untuk si Mamang sampai kami berpisah kemudian.

Seperti itu pula umumnya obrolan wajib yang terjadi (hampir) setiap kali saya bercakap-cakap dengan penduduk setempat.

==================================

Jadi ceritanya libur lebaran kemarin saya pergi melancong “tiba-tiba” ke Jambi, hampir tanpa persiapan apapun.

Dan inilah ceritanya…..

Hari 1  Spooky Night at Old Jambi Raya Hotel

Tiba sore hari di bandara Kota Jambi yang kecil.  Seperti biasa, sepertinya semua orang pasti dijemput seseorang, atau paling tidak, mereka tau akan menuju kemana dari sini.  Kecuali saya.  Walaupun sudah sedikit mempersiapkan diri dengan informasi hotel , tempat wisata dll, tetap saja saya masih kelihatan seperti “anak hilang”, seperti biasanya.  Dan tentu saja menjadi incaran para tukang ojek, taxi, dan travel.

Mencoba bertanya kepada beberapa penumpang tentang lokasi hotel-hotel yang sudah saya print out, ternyata tidak menghasilkan apa-apa, malah tambah dikerubuti ojek-taxi-travel.  Jadi saya masuk lagi ke lobby bandara, bertanya lagi pada petugas DAMRI.

“Ya sudah nginap di Hotel Jambi Raya saja Mbak, klo itu saya tau pasti ada di tengah kota, dekat Matahari Supermarket, dekat Pizza Hut Novotel, gampang kemana-mana.  Ada banyak hotel-hotel melati kok di sekitar situ…” kata si Mbak penjual tiket DAMRI.

Ya oke lah, dari internet bilangnya juga di situ yang termurah.

Maka setelah ada penumpang lain selain saya sendiri,  melajulah L-300 Travel DAMRI (model nya travel bukan bis, Rp.50rb per orang, diantar sampai tujuan) menuju pusat Kota Jambi.

Waaaawww…..ramai juga ternyata yaaa Kota Jambi ini, mall ada dimana-mana.  Makanan global semuanya ada di sini.

Saya diantar sampai pintu depan Hotel Jambi Raya.   Bangunannya nyungsep di antara parkiran hotel lain, ruko-ruko gelap, Matahari DeptStore, pantat NOVOTEL Hotel, dan tidak punya halaman sama sekali.  Ragu-ragu saya masuk ke lobby yang menurut saya penerangannya kurang.  Menghadap resepsionis untuk melapor.

Well…, sewaktu googling, katanya itu adalah hotel termurah di pusat kota.  Well…, hmm…ternyata tidak semurah itu….   Untuk standard room dengan AC+TV+Hot shower+kulkas berisi minuman ringan, tarifnya Rp.190rb per kamar per malam , tambah deposit kalau-kalau kita makan ini itu cemilan dan minuman, jadi Rp.300rb.

Tidak ada pemandangan indah apapun dari jendela kamar ketika saya menyibakan gorden putih tebal, hanya sebuah rumah tua yang agak terbengkalai di area yang juga terbengkalai. Lorong-lorong kamarnya berliku-liku, bikin tersesat waktu pertama kali masuk, cat dindingnya sudah kusam, kaca-kaca rayben gelap memantulkan bayangan apapun.  Langit-langitnya kamarnya bocor,  AC nya juga bocor menetes-netes, lampunya tidak bisa dimatikan kecuali lampu toilet atau semuanya sekalian powernya dimatikan.

Setelah mandi, saya berjalan-jalan sebentar di kota, mencari makan malam.  Ternyata memang ada beberapa hotel metali di deretan Hotel Jambi Raya, tapi sepertinya kondisinya sama mencurigakannya atau bahkan lebih mencurigakan.  Saya berkeliling-keliling menyusuri kios-kios di Pasar Mayang Lama, mencari makanan tradisional yang katanya “wajib dicoba” yaitu  Pindang ( Pindang Tulang , Pindang Patin, Pindang Udang), dendeng betokok, mie celor, empek-empek dll.   Tapi, yang saya temukan cuma jajanan umum biasa : bakso. nasi padang dimana-mana, sate padang dimana-mana, mie ayam, siomay, pecel lele, soto betawi…

Capek berputar-putar, saya akhirnya memilih “Warung Pecel Lele Teh Ekka”, memesan sop iga yang rasanya lumayan enak.  Ketika membayar, iseng-iseng saya bertanya dimana bisa mencari ojek untuk mengantar saya keliling kota, ehhh….ternyata si Teteh Ekka yang punya warung adalah orang Bandung asli, ngobrollah saya dalam Bahasa Sunda berasa di Bandung….

Mamang ojek yang dicarikan suaminya Teteh Eka, mengantar saya melihat Jembatan Makalam dan Mesjid Seribu Tiang.   Panjang juga ini Jembatan Makalam, ada beberapa pedagang jagung bakar yang mangkal di trotoarnya.  Mesjid Seribu Tiang, sperti namanya, memang bertiang sangat banyak.  Saat itu sepertinya penuh diisi jemaah yang sedang shalat tarawih terakhir di bulan ramadhan tahun ini.

Mesjid Seribu Tiang (jambi)

Saya diantar kembali ke hotel, sudah lumayan malam waktu itu.  Kembali naik menyusuri lorongnya yang berliku-liku dengan kaca-kaca rayben nya yang gelap.  Sepertinya tamu yang menginap cuma saya sendiri malam ini.  Waduhhh….  Cepat-cepat saya masuk kamar.

Nahh…sewaktu menonton TV sambil FBan, tiba-tiba volume TV membesar sendiri, padahal remote nya tergeletak di meja….

Wewwww…..sepertinya ada penghuni lain selain saya di kamar ini… Jadi.., buru-buru saya minum obat flu biar bisa cepet tidur pulas, menyusup ke dalam sleeping bag liner, dengan semua lampu tetap menyala………….

Day 2.  Looong  Way to Kerinci

Sudah tak sabar pengen cepet-cepet ngabur dari hotel tua bin spooky ini.  Jadi jam 7 pagi saya sudah check-out.

Susah juga mencari ojek dijalanan kota Jambi yang masih sangat sepi.  Ojek menarik ongkos Rp.20rb untuk mengantar saya ke pool Travel jurusan Sungai Penuh (Kab. Kerinci).  Dengan Mamang ojek ini lah Frequent Question & Answer (FAQ) bagi solo traveller seperti saya diatas itu terjadi.

Mobil travel nya berupa Suzuki AVP.  Mobil berputar-putar nyasar-nyasar dulu ke seantero kota Jambi menjemput penumpang  yang rupanya  1 keluarga anggota polisi senior berpangkat.  Weww…pantesan aja wajib dijemput..!!!

Sekitar jam 9 an lebih baru akhirnya si travell melaju ke jurusan yang kami tuju, Kerinci.  Per orang dikenakan tarif 180rb, tarif lebaran.  Musik melayu mulai diputar kencang-kencang, buru-buru saya tutupi si speaker yang ada disamping kiri saya dengan tas.  Beberapa lama bengang-bengong mengamati daerah yang dilewati, saya pun mengantuk.  Langit mendung dan gerimis.  Saya tidur-bangun-tidur-bangun berkali-kali, setengah sadar setengah tidak.

Beberapa kali saya merasakan si mobil tersendat-sendat bahkan kadang berhenti.  Tapi waktu saya tanya supirnya apakah ada masalah dengan mobil, katanya tidak ada.  Baru beberapa lama berjalan sehabis istirahat, jalanannya  mobil bergoyang-goyang.

“Pak.., lebih baik berhenti aja dulu Pak, check mobilnya” seru kami semua hampir bersamaan pada Pak Supir.  Cak-cek-cak-cek, ternyata baut-baut ban kiri depan pada kendor semua, hampir saja ban depan kiri itu mendahului kami semua ke Sungai Penuh :-p

Setelah insiden itu, tidak ada insiden apapun lagi.  Cuma…, jalanan yang dari tadi mulus lurus, sekarang jadi keriting grinjal-grinjul bikin mual.  Hari hampir mendekati maghrib ketika kami meliuk-liuk grinjal-grinjul menyusuri pinggang gunung berpepohonan lebat dan berkabut.  Untung masih ada warung makan yang buka, belum pada pulang kampung semua rupanya ini orang-orang.

Kira-kira 3 jam  dari sana, akhirnya kami memasuki Kota Sungai Penuh.

Kota kecil ini macet riuh rendah oleh aktifitas warga yang konvoi malam keliling kota menyambut lebaran, sepeda motor memenuhi jalanan, mobil bak terbuka penuh diisi warga tua muda anak-anak ABG pria dan wanita, ada juga yang jalan kaki sambil membawa obor dari batang bambu, ada yang mengarak bedug, ada yang menabuh rebana, darderdor petasan dan kembang api dimana-mana.  Waduhhh…heboh nyaaaa….

Sulit sekali bergerak mengantarkan masing-masing penumpang ke alamat dan mengantarkan saya mencari hotel di pusat kota disuasana macet kacau balau seperti ini.  Tapi akhirnya dapat juga, Hotel Masgo yang sederhana (Rp100rb per kamar per malam, 2 single bed, kamar mandi dalam).  Hotel ini tanpa hot shower, padahal di sini dingin seperti di Puncak Bogor-Cianjur, akhirnya saya minta dimasakin air panas setengah ember setiap kali mau mandi.

Penat akibat perjalanan seharian, membuat saya langsung terlelap di bawah selimut tebal.

Day 3.  Kemcer Lebaran di Tepi Danau Gunung Tujuh

Lebaraaaannnn….!!!

Pagi-pagi buta lorong tengah hotel sudah berisik dengan aktifitas.  Sepertinya tamu-tamu lain pada check-out terburu-buru guna melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya masing-masing supaya masih sempat Sholat Ied di kampung bersama seluruh keluarga.

Hari ini saya berencana untuk pergi ke Kayu Aro, kaki Gunung Kerinci, itu pun kalau ada angkutan yang ke sana.  Kemaren saya sudah browsing untuk mencari guide yang mungkin bisa mengantar saya, paling tidak ke Danau Gunung Tujuh.  Dan menemukan 1 di facebook, melalui page Kerinci Travelling, sudah sms an beberapa kali, tapi rencana belum fix mau kemana-kemana nya karena saya keburu kehabisan batere hp.

Untungnya si Fredi (guide Kerinci) ini orangnya baik dan bisa diajak nekat, mendaki tanpa persiapan matang, hehee…  Setelah dia berhasil mendapat pinjaman motor , lalu packing buru-buru segala keperluan camping, berangkatlah kami menembus gerimis menuju Kayu Aro.

Jalanannya kecil berliku-liku menanjak.  Kira-kira 1 jam kemudian kami sampai di Perkebunan Teh Kayu Aro yang sangat luas.  Di suatu titik pandang, kita bisa melihat Kota Sungai Penuh di ujung cakrawala.  Gunung Kerinci ada di sebelah kiri, menjulang dengan puncak berselimutkan awan putih.  Suatu saat, awan-awan menyibak, dan wooowwww….puncaknya yang berlereng terjal dan gundul tanpa pepohonan terlihat jelas, galur-galur tanah terpahat seperti ukiran.

Di sebuah toko dekat patung harimau Kerinci, kami berhenti untuk membeli sarung tangan, kupluk, dan kaus kaki tebal, maklum tadinya tidak berniat untuk benar-benar mendaki gunung dan camping.  Tadinya saya hanya sekedar ingin menginap di salah satu homestay di Desa Kersik Tuo, dekat pintu rimba, pos awal pendakian Gunung Kerinci.

Gunung Kerinci dan Kebun teh Kayu Aro
Gunung Kerinci dan Kebun teh Kayu Aro

Dari sana, kami masih melanjutkan perjalanan kira-kira 15 menit lagi ke pintu pendakian Gunung Tujuh, menitipkan motor sekalian melapor kepada tetua setempat.

Sekitar jam 4:30 sore, kami melangkah melewati  gerbang pendakian, menyusuri jalanan berbatu ditengah areal ladang penduduk, lalu melalui hutan dan mulai menanjak-menanjak-dan-menanjak.

Saya yang dalam setahun paling cuma mendaki satu gunung, tentu saja langsung ngos-ngosan didera tanjakan dan udara dingin, sebentar-sebentar berhenti, sebentar-sebentar berhenti…  Day pack yang saya gendong sejak tadi akhirnya saya serahkan ke Ferdi, karena sepertinya saya bertambah lambat, sedangkan hari sudah semakin gelap dan dingin.

Senter-senter pun dinyalakan.  Selepas maghrib kami akhirnya sampai di area bekas menara pengamatan satwa yang sekarang cuma tinggal 1 tiang besi patah saja.  Ketinggian sekitar 2300 MDPL.  Dari sana, kami berbelok kekiri, menuruni turunan terjal nan licin.  Suara gemuruh air terjun ada di sebelah kiri.  Itu kata Ferdi adalah air yang berasal dari Danau Gunung Tujuh.  Sekitar 7 lebih kami sampai ditepian danau, walaupun yang terlihat cuma sedikit saja yang dekat ke tepian.  Ujungnya tidak terlihat.  Semuanya gelap gulita, dilangit tidak ada bintang, dan gerimis akhirnya datang menyembut kami.

Dengan cekatan Ferdi mendirikan tenda, saya membantu sebisanya.  Gerimis semakin menderas.  Untungnya tenda sudah berhasil didirikan.  Matras-matras pun di gelar, backpack dan daypack segera diamankan ke dalam tenda.  Saya juga buru-buru masuk ke tenda, membereskan letak barang-barang, mengamankan kamera dan handphone.  Ferdi masih mondar-mandir di luar, memasang raincoat sebagai flysheet, memasang patok, mengambil air untuk dimasak dll.  Bajunya sudah basah diguyur gerimis, tapi spertinya dia tenang-tenang saja, tidak menggigil kedinginan.  Bendar-benar pendaki sejati.

Kami memasak nasi dan mie goreng serta menyeduh kopi.  Lalu ngobrol ngalor ngidul sampai larut malam, mengobrolkan tentang pendakian-pendakian Ferdi ke Kerinci (tahun ini saja dia sudah 5 kali mendaki Kerinci, meng-Guide pendaki-pendaki dari luar daerah bahkan luar negri).  Saya menceritakan pengalaman saya mendaki gunung-gunung di Jawa Barat (G Gede, G.Tampomas, G.Papandayan, G.Galungggung, G.Ciremai) dan G.Semeru di Jawa Timur.  Juga perjalanan-perjalanan saya ke pulau-pulau.  Asyik sekali kami bertukar cerita, sampai-sampai tidak tahu sejak kapan gerimis mereda.

Udara semakin dingin, dan kami segera menyusup ke dalam sleeping bag dan sleeping bag liner (yang lebih tipis).

Day 4.   Kemcer Lebaran di Tepi Danau Gunung Tujuh (the sequel)

Teringat cerita Ferdi bahwa katanya matahari terbit tepat dari seberang danau di depan tenda, bangun-bangun saya langsung mengintip ke luar, berharap mudah-mudahan hari ini cerah, dan saya akan dapat pemandangan sunrise spectaculer seperti ketika di Ranu Kumbolo (Semeru).

Fajar baru saja akan merekah, semburat warna merah mulai menghiasi awan-awan, tapi hanya itu saja cahaya di luar sana, suasana masih gelap dan dingin, batasan luas nya si danau belum kelihatan.

Perlahan-lahan semuanya semakin tersingkap, kabut tipis mulai terlihat mengambang diatas permukaan air danau yang tenang, siluet si gunung kotak di seberang danau mulai jelas terbentuk.  Dua ekor elang besar baru saja keluar dari sarangnya untuk mencari sarapan pagi, kami sempat mendengar suaranya berkaok-kaok kemarin sore, tapi wujudnya tersembunyi dedaunan.  Hanya sekilas mereka melintas tepian hutan di pinggir danau, tidak sempat saya foto…. L

Air danau serasa sedingin air kulkas ketika saya membasuh muka dan gosok gigi.

Sunrise spectaculer menjadi hadiah lebaran yang amat sangat indah..!!!

Dinginnya Pagi di Danau Gunung Tujuh
Dinginnya Pagi di Danau Gunung Tujuh
Thanks a lot for the super Sunrise
Thanks a lot for the super Sunrise

Hangat cahaya matahari pelan-pelan mengusir hawa dingin.  Kemah kami tersorot sepenuhnya oleh sang raja siang…

Usai sarapan pagi , kami langsung membongkar tenda dan bersiap turun gunung.  Tapi rutenya dimulai dengan tanjakan aduhai kurang lebih 200 meter hingga ke lokasi puncak bekas menara pengawas satwa, baru kemudian menurun dan terus menurun.

Kali ini jempol dan jari kaki serta lutut harus extra bekerja keras menahan tubuh.  Rasanya tidak habis-habis turunannya…..

Kami berpapasan dengan 1 orang pemancing lokal, 1 orang pendaki lokal, dan 1 keluarga turis asing yang bisa sedikit berbahasa Indonesia.

Tengah hari barulah kami sampai di pos pintu masuk, tempat kami menitipkan motor kemarin sore.  Rencananya kami akan mampir ke Air Terjun Kayu Aro, tapi ketika sampai di pintu masuk lokasi air terjun….,  alamaaaaakkkkk…..alangkah ramainya !!!   Rupanya masyarakat Sungai Penuh tumpah ruah di kawasan Kayu Aro ini, yang memang merupakan pusat wisata pegunungan…… setara dengan Puncak nya Bogor-Cianjur.  Mobil-mobil dan sepeda motor memenuhi parkiran dan pinggir jalan, pedagang dadakan menggelar lapak dadakannya dimana-mana.

Ramainya suasana membuat saya malas mampir ke air terjun.  Saya malah asyik jajan beraneka gorengan.  Ada goreng jagung utuh yang membuat saya takjub karena baru kali itu melihat dan mencicipnya, biasanya yang saya tahu cuma sebatas jagung bakar atau jagung rebus saja.  Saking takjubnya, saya dengan norak meminta si Mbak penjual gorengan untuk memperagakan cara menggorengnya…!!!

Jajanan di Kayu aro  KiKa : Tahu isi, perkedel jagung, goreng jagung, goreng tempe
Jajanan di Kayu aro
KiKa : Tahu isi, perkedel jagung, goreng jagung, goreng pisang, goreng tempe

Setelah puas memfoto-foto si Mbak penjual gorengan, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Sungai Penuh, mampir lagi ke sumber air panas di dekat kota.  Nahh…yang terbayang di otak saya ketika membaca tentang sumber air panas ini adalah semacam kolam renang air panas / pemandian seperti di Cipanas (Garut), Ciater (Subang), yang di Galunggung (Tasikmalaya), yang di Sumedang , atau yang di dekat Serang (Banten).   Sudah terbayang betapa nikmatnya merendam badan yang penat akibat perjalanan turun gunung.

Tapiiiiii……olalalaaaaaa……lain lubuk lain belalang memang….., tidak seyogyanya kita menyama-nyamakan memang….  Salah sendiri saya sudah menanam image seperti itu….!!!!  Tidak sepantasnya saya sekecewa itu..!!!

Tapi..yahhhh….sayang seribu sayang memang kalau potensi suatu daerah tidak di “utak-atik” , sehingga begituuuuuu…….rrrrr…… “seadanya”…

Yasudah….akhirnya saya tidak jadi mandi hari itu…baik air panas maupun air biasa…  Malamnya saya ikut travel yang untungnya sudah ada yg beroperasi di H+2 lebaran, kembali ke Kota Jambi.  Sepanjang malam tidur meringkuk bersama 2 penumpang lainnya di bangku belakang Suzuki AVP.

Day 4.   Bersampan ke SEKOJA demi Batik Jambi

Sekitar jam 4 dini hari saya sudah sampai kembali di Kota Jambi.  Badan remuk redam akibat naik turun gunung, kurang istirahat, kepala cekot-cekot, tenggorokan sakit bukan main.  Sepertinya saya mulai terserang flu….

Sambil menunggu jam 6 pagi, saya nongkrong sambil ngopi-ngopi dan ngobrol ngalor ngidul tentang Jambi sama si Bapak yang punya warung makan masakan Padang di lokasi Pasar Mayang lama di tengah Kota Jambi.

Hari ini rencananya saya mau pergi ke Kuala Tungkal, suatu kota pelabuhan yang menghubungkan Jambi dengan Batam.  Konon kabarnya, disana ada pasar loak barang-barang second murah ex Singapura/Malaysia.  Saya mau berburu barang elektronik…

Tapi ternyata, susah juga mencari travel yang beroperasi ke arah sana di hari ke-3 lebaran ini… L

Akhirnya saya hanya sempat ke SEKOJA alias Seberang Kota Jambi, sebutan untuk wilayah yang ada di seberang Sungai Hari alias Batang Hari yang super lebar itu.  Saya naik getek alias sampan dari dekat Kawasan Mall WTC Jambi.  Tarifnya Rp.3000 per orang.  Sampannya bermotor tunggal.  Tempat duduknya berupa palang-palang kayu melintang.  Satu palang untuk 3 orang.  Ada sekitar 5 palang kayu per sampan.  Sampan yang saya tumpangi ini penuh penumpang.  Payung-payung mulai dibuka ketika gerimis turun dari langit mendung.  Sampan bergoyang-goyang ditengah alunan air sungai berwarna coklat, bikin hati saya ketar-ketir…

Yuhuuu....ke SEKOJA yuukkk
Yuhuuu….ke SEKOJA yuukkk

Di seberang, ada beberapa dermaga.  Penumpang-penumpang turun di dermaga yang terdekat ke tujuannya, layaknya halte bis.  Saya turun di dermaga Desa Medang Laut, karena menurut ibu-ibu yang saya ajak mengobrol di sampan tadi, di sini lah letak Balai Kerajinan Rakyat Jambi “Selaras Pinang Masak”.

Hujan mengguyur semakin deras.  Sayangnya balai kerajinan ini tutup karena libur lebaran.  Hanya ada 2 orang pemuda yang sedang berteduh sambil ngobrol-ngobrol di terasnya.  Dari mereka, saya dapat informasi bahwa salah satu pengrajin batik Jambi yang saya cari itu, berada di belakang bangunan Balai Kerajinan Rakyat ini.

Tepat di belakang bangunan balai kerajinan, terdapat sebuah rumah panggung bertuliskan “Sanggar Batik Al Hadad – Jambi.   Bang Hadad yang rupanya adalah anak bungsu dari Ibu Hj. Maryam sang pemilik sanggar, mempersilahkan saya naik dan masuk ke rumahnya.  Dengan ragu-ragu saya melangkah masuk, takut mengganggu acara lebaran sang mpunya rumah.  Dan benar saja, didalam ada besan, mantu, dan anak-anak Bu Hj. Maryam yang sedang bersilaturahmi.  Waduhhh….mengganggu dong saya….??  Walaupun demikian saya tetap disambut dengan ramah.

Mata saya langsung melirik ke arah kue-kue panganan lebaran khas Jambi tampak berderet rapi di atas tikar bertaplak plastik cantik.   Juga tentu saja ke arah kain-kain batik tulis dan batik cap yang cantik-cantik .  Rupanya sang Ibu Besan sedang bersilaturahmi sekaligus berbelanja.  Suasana begitu hangat dan akrab. Obrolan dan selorohan dalam bahasa Jambi-Padang campur bahasa Indonesia berlogat Jambi-Padang memenuhi seisi ruangan.  Kadang-kadang saya bisa menangkap artinya, tapi seringnya sih tidak…

Sanggar Batik Al-Hadad - Ibu Hj. Maryam (Kp. Mudung Laut, Sekoja, Jambi)
Sanggar Batik Al-Hadad – Ibu Hj. Maryam (Kp. Mudung Laut, Sekoja, Jambi)

Aduh…pusing sekali menentukan pilihan kain batik mana yang akan dibeli dengan dana terbatas seperti saya.  Semuanya cantik-cantik dan bagus-bagus.  Ibu Hj. Maryam dengan bersemangat menjelaskan berbagai-bagai macam motif batik, antara lain: Flap Rilis, Truffles, Batang Hari, Gong, Ayam, Matohari, Anggur, Patah Duren, Kaco Dish, Kupu-kupu, Pauh, Bunga Duren, Taro, Angsoduo, Bayam Ginseng, Kapal sanggat, Atlas,  Buah Anggur, Kaca Piring, Kampung Manggis, Tampuk Manggis, Riang -Riang, Pauh, Melati, Merak Ngerem, Kepiting, Kapal Sangat, Durian Pecah,  Bungo Matahari, Bungo Kopi, Bungo Keladi,  Bungo Cendawan, Biji Timun, dan yang terkini adalah motif SBY.

Motif batik SBY ini disebut demikian karena merupakan motif yang khusus diciptakan untuk Bapak Presiden Republik Indonesia yang sekarang , Bapak Susilo Bambang Yudhoyono alias Pak SBY alias lagi Pak Beye.  Sewaktu beliau melakukan kunjungan kerja ke Jambi, Pak Beye ini mengenakan baju batik motif khusus tersebut.  Sekarang ini motif  SBY menjadi incaran pembeli, selalu laris manis, kata Ibu Hj. Maryam.

Jenis batik yang dijual Ibu Hj. Maryam ada batik cap yang harganya lebih murah dan batik tulis yang harganya lumayan mahal karena pengerjaan nya yang rumit dan memerlukan waktu panjang dalam penyelesaiannya.  Yang termahal adalah batik tulis diatas kain sutra, ada yang harganya 1,5jt per lembar.  Kain batik tulis bukan sutra rata-rata dijual diatas Rp.600.000 per lembar, batik cap ada yang seharga hanya 250rb saja.

Setelah lama menimbang-nimbang, menawar-nawar, tang-ting-tung isi dompet, mebanding-bandingkan antara satu motif dengan lainnya yang semuanya cantik, akhirnya saya membeli selembar batik tulis non sutra seharga 550rb , oleh-oleh untuk si Mak nya di kampung….., hadiah pasca lebaran hehe….

Hari sudah sangat sore menjelang maghrib ketika saya pulang menyebrang kembali ke Kota Jambi.  Lumayan susah juga mencari ojek sampan maghrib-maghrib begini.

Day-5  Penyebrangan Super AdrenalineVenture menuju Candi Muaro Jambi

Hari ini adalah hari terakhir saya di jambi.  Rencananya saya akan pergi ke Candi Muaro Jambi.  Kemarin siang, saya sudah janjian sama mamang ojek untuk dijemput di hotel sekitar jam 7:30 pagi dengan biaya 100rb.  Dia adalah mamang ojek ke 4 yang saya sewa selama di Kota Jambi.  Ojek memang andalan transportasi di Jambi sepertinya, cari angkot susah dan jalurnya putar-putar.

Tunggu punya tunggu sang ojek tidak datang datang….  Akhirnya datang kabar via sms katanya ban motornya kempes dan harus ditambal dulu.  Alamaaakkk…..padahal saya tidak punya waktu banyak hari ini, jam 2 siang saya sudah harus check-out dari hotel.  Sekitar jam 9 si Mamang Ojek akhirnya muncul, kami langsung melaju ke arah utara Jambi.  Menjelang batas luar kota Jambi, tiba-tiba ban nya kempes lagi, nah…lhoo….  Sedangkan waktu saya semakin mepet, tidak mungkin menunggu acara tambal menambal ban segala….  Akhirnya saya mencegat ojek lainnya, dan minta diantarkan ke Candi Muara Jambi.

Di pertigaan lampu merah yang ada penanda arah belok kiri menuju Candi Muara Jambi, si Mamang Ojek tanya, “Mau lewat mana Mbak..???” tanyanya.

“Lewat mana aja deh Pak, yang penting cepet…, saya ngga punya banyak waktu.., jam 11 sudah harus kembali ke Jambi,” kata saya.  Lhaaa…mana saya tahu harus lewat mana, ya kan..???

“Ya udah…, lurus aja ya Mbak…, sebenernya sama aja sihh jaraknya mau belok kiri maupun lurus,” kata si Mamang Ojek.

Saya nurut aja dehh…

Semakin lama, jalanan semakin sempit dan kondisinya semakin rusak.  Banyak bagian pinggir jalan yang amblas seperti keberatan muatan.  Oh rupanya di arah sini banyak terdapat industri, seperti industri pengolahan kelapa sawit, industri karet, industri tepung, industri kayu, industri kopi, bahkan ada kilang minyak stock nya Pertamina.  Berderet-deret di sepanjang tepi Batang Hari.

Nah…lama-lama jalan aspalnya habis, buntu… bersambung ke jalan tanah becek yang mengarah ke Batang Hari yang sangat lebar itu.  Di ujung tanah becek ada sebuah dermaga kayu, dan diujung dermaga kayu itu ada sebuah perahu kayu.  Ukurannya lebih besar dibandingkan sampan yang saya naiki kemarin sore, kira-kira ukurannya 3 kali lipat lebih besar.  Dua orang awak perahu tengah mengarahkan beberapa laki-laki yang sedang mendorong sepeda motor nya masing-masing naik ke atas perahu.  Beberapa perempuan telah naik duluan dan berdiri di bagian tengah, berpegangan pada atap kabin supir perahu.

Lagi-lagi menyebrang Batang Hari
Lagi-lagi menyebrang Batang Hari

Di ujung jalan aspal, di bawah sebatang pohon, si Mamang Ojek berhenti, lalu meminta saya untuk turun dari sepeda motor.

“Lhoo….kita mau kemana Pak…??” tanya saya kebingungan.

“Mau ke sana, nyebrang…” kata si Mamang sambil menunjuk arah perahu dengan dagunya, karena tangannya sibuk menyeimbangkan motor yang tengah didorong nya di atas tanah becek dan licin.

“HAAHHHH…???  SERIUSAN PAK…KITA MAU NYEBRANG…??? NAIK PERAHU ITU…???” tanya saya terkaget-kaget dan panik.  Haduhhh….masih terbayang ngeri nya kemarin nyebrang naik sampan membelah Batang Hari yang super lebar itu…., pasti dalamnya seperti lautan itu…, perahu-perahu tongkang besar-besar pengangkut minyak bumi, minyak sawit, kelapa sawit , batu bara, dlsb saja bisa lewat kok…

“Memang candi nya dimana Pak…??” tanya saya yang masih tetap belum beranjak dari tempat tadi turun sepeda motor.

Seingat saya, tidak ada blog atau cerita perjalanan ke Candi Muaro Jambi di internet yang melibatkan penyebrangan dengan perahu.

“ Iya.., kita menyebrang, dengan perahu itu.  Candi nya ada di sebrang, di belakang kampung sana itu…”  kata si Mamang dengan kalem.  “Ayoo…naik…. ngga apa-apa kok Mbak…. saya biasa nyebrang seperti ini, rumah saya kan di kampung sebrang itu..” kata si Mamang lagi sambil mesem-mesem demi dilihatnya saya yang masih ragu bin takut dan belum beranjak dari bawah pohon.

Waduhhh….ya sudah laahhh….  Dengan ragu-ragu saya melangkah ke tanah becek, meniti titian bilah-bilah papan kayu, meniti ke dermaga, lalu dengan was-was melangkah ke papan buritan lantai perahu, berjalan diantara sepeda motor, dan berdiri di bagian tengah perahu, di dekat ibu-ibu yang membawa anaknya dan 3 gadis ABG.   Kami semua para perempuan berpegangan pada atap kabin supir perahu.  Para lelaki berdiri di ujung lantai buritan perahu, memegangi sepeda motor masing-masing.

Jadi totalnya ada 5 perempuan, 1 anak, 3 lelaki, 2 awak perahu, dan 3 sepeda motor dalam perahu ini.   Salah satu awak perahu sedang sibuk menyeroki air yang menggenang di dasar perahu.  Waduhhh….jangan-jangan bocor…, pikir saya dengan tambah was-was.

Perahu didorong menggunakan galah menjauhi dermaga, mesin dihidupkan.  Lalu mulailah penyebrangan mendebarkan selama 15 menit membelah lebarnya sungai Hari yang airnya keruh kecoklatan.  Gelombang sungainya mengombang-ambingkan perahu, membuat si Ibu-ibu beberapa kali berteriak dan berdoa terus menerus, ketiga gadis ABG sudah sejak tadi merengek ketakutan, saya ketar-ketir dan berpegangan erat serta memancang kaki dalam posisi kuda-kuda yang kukuh untuk menahan goyangan.  Saya cuma balas nyengir ketakutan sewaktu si Mamang Ojek dan para lelaki menertawai saya.  Jelas ketahuan bahwa saya “bukan orang sini”.

Rasanya lamaaaaaa…sekali baru perahu akhirnya merapat di dermaga sebrang.  Huhhh…..ampun dehhh….. sepertinya saya baru bisa bernafas lagi setelah kaki menginjak dermaga.  Saya membayar Rp 10rb untuk saya + Mamang Ojek + Sepeda motor.

Daratan, posisinya lumayan tinggi.  Jadi sepeda motor harus didorong naik melalui bilah-bilah kayu, dan baru bisa dinaiki ketika sudah sampai di gang. Kami pun menderu di gang bertembok beton menuju areal Kompleks Percandian Muaro Jambi.

Ramainyaaaaa
Ramainyaaaaa

Alamaaaakkkkk…..ramai sekaliiii….   Sepertinya seisi Kota Jambi sedang berpiknik di areal ini.  Jalan masuknya padat dengan pengunjung yang berjalan kaki , bersepeda motor, maupun bermobil.  Karcis masuk yang dijajakan oleh beberapa petugas di tengah jalanan, makin menambah kemacetan.  Belum lagi pedagang asongan kagetan dan persewaan sepeda.

Di area dalam kompleks, pengunjung ada dimana-mana.  Menaiki bangunan-bangunan candi, menggelar tikar dibawah pohon, di warung-warung, di area depan panggung hiburan, dan bersepeda di jalan-jalan batu di sekeliling kompleks.

Bangunan candinya tersebar di areal seluas 155.269,58 hektar, sepuluh kali lebih luas dari situs Candi Borobudur, dibangun menggunakan batu merah sekitar abad 4-5 Masehi pada masa Kerajaan Malayu (Melayu Tua yang bercorak Budha). Peninggalan ini terbentang dari desa Muaro Jambi dan desa Danau Lamo di bagian barat hingga desa Kemingking Dalam, Kecamatan Muaro Sebo di bagian Timur, Kabupaten Muara Jambi (dikutip dari berbagai sumber).

Belum banyak bangunan candi yang berhasil di pugar dan direstorasi.

Di kawasan ini juga terdapat kanal kuno menuju Batang Hari, sekarang dijadikan objek wisata air, seperti main rakit & restoran apung.

Saya hanya sempat sedikit berkeliling.  Lagipula saya sedang diburu waktu.  Jadi tidak lama disana, sayapun pulang ke Kota Jambi.  Kali ini si Mamang Ojek mengambil rute “resmi”, yang tenyata walaupun jalanannya kecil tapi kondisi nya lumayan bagus, tapi maceeeeeettttt…….karena pengunjung yang masih pada berdatangan.

Nahh usai lah sudah waktu petualangan saya di Jambi…, saatnya pulang kandang…  See you in next journey

Biaya-biaya :

Tiket Jakarta-Jambi-Jakarta Rp.1.2jt

Damri Bandara – Hotel Rp.50rb

Hotel Jambi Raya (1 malam, 1 orang, AC, TV, Hot shower, Makan Sahur) Rp.190rb

Ojek ke Mesjid 1000 Tiang Rp.15rb

Ojek ke pool travel-travel Sungai Penuh Rp.20rb

Travel Jambi-SungaiPenuh Rp.180rb

Hotel Masgo (2 single bed, kamar mandi dalam, no hot water) Rp.100rb

Guide mendaki Gunung Tujuh plus perbekalan Rp.300rb

Travel SungaiPenuh- Jambi Rp.180rb

Hotel Pandu Rezeki – Jambi  (1 malam, 1 orang, AC, TV, Hot shower) Rp.170rb

Ojek ke Empek-empek Selamat (Sipin) Rp.10rb

Ojek ke WTC Rp.5rb

Sampan Ke SEKOJA pp Rp.6rb

Nyebrang perahu ke Candi Rp.10rb

Ojek ke Candi Muaro Jambi pp Rp.70rb

Ojek ke Bandara Rp.20rb

Total biaya diluar makan & oleh-oleh : Rp. 2 526.000

Aceh : Rahasia dari Pulau Bunta

Wisata Aceh… kalau kita mencari informasi tentang hal ini, pasti yang muncul adalah tentang Tugu Nol Km di Pulau Weh, snorkling dan diving di sekitar Pulau Rubiah, wisata tsunami, dan Pantai Lampuuk dengan sunsetnya dan ombak besarnya. Beruntung saya dipertemukan dengan Pulau Bunta ini, kalau tidak, pasti perjalanan saya tidak akan seberkesan seperti yang saya rasakan sekarang J

============================

Feb-2011

Pulau Bunta dikenalkan oleh seorang kawan di millist Indobackpacker , yang sampai hari ini pun saya belum bertemu secara langsung dengannya.   Ia merekomendasikan sebuah acara yang dikelola oleh sekelompok pencinta fotografi di Banda Aceh.  Terimakasih Jeng Chusnul Chotimah karena telah menjembatani pertemuan dan pertemanan saya dengan sekelompok orang muda yang “asyik-asyik” ini J

Sebuah perahu kayu kecil sudah terparkir didermaga kayu dekat area dermaga penyebrangan kapal ke Sabang (Pulau Weh).  Sekelompok lelaki muda yang kebanyakan adalah peng-hobby fotografi di Banda Aceh (tapi ada juga yang dari Lhokseumawe) yang dikomandani oleh Bang Hasbi Azhar, sudah berkumpul sambil ngopi-ngopi di kedai dekat dermaga.  Saya akan jadi satu-satunya peserta perempuan, dan dari luar Aceh pula.  Weewww…. siapa takuutt….!!!!

Setelah semuanya siap, kamipun berangkat..!!!  Mengarungi selat Ujong Pancu yang memisahkan tepi terbarat Pulau Sumatra dengan Pulau Batu.  Selat ini adalah “pintu” yang mempertemukan Samudra Hindia dengan Selat Malak.  Cerita-cerita mengenai keganasan Selat Ujong Pancu langsung mengalir dari Bang Jul, Bang Hasbi, dan yang lainnya.  Katanya sudah banyak perahu kecil dan kapal besar yang karam di perairan ini karena arusnya yang bisa tiba-tiba sangat ganas.  Selat itu juga memiliki sebutan “Selat Muka Memberengut” karena setiap nelayan/pelaut yang melewati selat ini, akan berkonsentrasi penuh untuk mengamati dan mengantisipasi arus laut, hingga mukanya tampak memberengut.  Beruntung sekali, saat itu kami tidak harus “memberengut” walaupun memang takut dan was-was, tapi rupanya Samudra Hindia dan Selat Malaka sedang “akur”, arusnya tidak terlalu bergelora.

Satu jam kemudian kami mendarat di pantai Pulau Bunta yang dermaganya sudah porak poranda akibat tsunami, terpaksa kami harus mencemplungkan diri ke laut.  Barang-barang bawaan dijunjung diatas kepala dan diangkat tinggi-tinggi supaya tidak terkena air.  Saya sedang tidak ingin “beremansipasi” waktu itu, jadi saya serahkan urusan angkat mengangkat barang itu pada para cowok J

Bagian pantai tempat kami mendarat, penuh dengan batu-batu, ke sebelah timurnya membentang pantai berpasir putih yang menyilaukan.  Terdapat beberapa rumah bantuan pasca tsunami untuk penduduk yang masih tersisa yang tidak banyak jumlahnya.  Kami menyewa salah satu rumah panggung tersebut, tak ada toilet, tak ada listrik, tak ada apa-apa.  Jalan tembok membentang menghubungkan rumah-rumah yang cuma beberapa itu.  Sumber air bersih bisa diperoleh di satu sumur yang letaknya beberapa puluh meter dari rumah sewaan kami, untuk mandi juga disitu.

Begitu sampai rumah sewaan, kami sudah sibuk mempersiapkan makan siang yang sangat terlambat.  Sedianya Bang Hasbi sudah menyewa 1 orang ibu-ibu penduduk situ untuk memasakan makanan, akan tetapi tiba-tiba si ibu harus pergi ke “darat” karena ada saudaranya yang sakit.  Jadi, mau tak mau kami harus memasak sendiri.  Para cowok itu lumayan cekatan memasak, walaupun terjadi kehebohan sewaktu cabe-cabe yang sedang digoreng meledak-meledak dan mencipratkan minyak panas kemana-mana, karena lupa tidak disayat dulu.

Saya membantu sebisanya, karena sebagai satu-satunya perempuan, malu kan kalau tidak membantu masak, walaupun saya sendiri bisa dikatakan “tidak bisa masak”.  Saya jadi tukang membuat sambal, tapi sewaktu mau beraksi, baru sadar kalau ulekannya ketinggalan, jadi salah satu dari kami “berburu” ulekan di pantai, berupa batok kelapa dan batu lonjong yang sudah super bersih karena dicuci lautan setiap hari, ahh… apapun boleh lahh.  Sambelnya lumayan “mengesankan” katanya.

Menjelang sore, kami berbondong-bondong menyusuri jalan setapak di pinggir pantai ke arah barat.  Trekking menanjak di lereng bukit yang langsung berbatasan dengan laut.  Bertemu dengan babi hutan yang lagi asyik mencari makan di pantai berbatu.  Lalu terus menanjak menerobos hutan yang cukup rimbun.  Sesekali berpapasan dengan nelayan yang akan memancing ataupun yang baru pulang memancing.

Sekeluarnya dari hutan, terbentanglah pemandangan spektakuler diujung barat pulau dekat bekas mercusuar dan puing-puing rumah penjaga mercusuar.  Hamparan rerumputan hijau seperti permadani yang dihamparkan guna menyambut para pengunjung pulau, berbatasan dengan birunya lautan.  Jauh di tengah laut terlihat pulau karang.  Pohon-pohon palem laut menghiasi taman ini, dan ceruk-ceruk gua ditebing yang terkikis gelombang seperti diukir oleh para arsitek ulung, batu-batu berpermukaan halus beraneka bentuk dan warna terhampar di lantai ceruk.  Membuat kami semua tercengang kagum, kecuali Bang Hasbi dan Bang Jul yang sudah pernah ke sini sebelumnya, dan sedang berpuas-puas diri melihat kami-kami yang sedang ternganga kagum melihat rahasia keindahan Pulau Bunta.

Ternyata bukan itu saja kejutannya, tebing-tebing curam yang sangat dalam di tepi selatan, menakjubkan dan sekaligus mengerikan.  Entah serusak apa tubuh kami jika tidak hati-hati dan tergelincir jatuh ke bawah tebing, kearah batu-batu karang runcing dan ombak ganas Samudra Hindia.  Dua teman kami, yang hobby memancing dengan antusias mengikuti 2 nelayan yang juga akan memancing, tapi kehilangan jejaknya dan tau-tau suaranya sudah terdengar dari bawah tebing sana.  Saya tadinya mau ikut juga turun ke bawah tebing, tapi mengurungkan niat dan memilih menunggu sunset diatas.  Sunset yang luar biasa dan layak ditunggu.   Yang membuat pahatan-pahatan ombak di tebing karang menjadi berpendar dengan warna keemasan.

KISAH SI ANAK HILANG

Waktu berlalu tidak terasa karena kami sibuk berfoto-foto mengabadikan apasaja, senjapun menjadi gelap, hanya tinggal sisa-sisa bias yang masih mampu menerangi tanah yang akan dipijak.  Sudah saatnya untuk kembali, tapi kedua teman kami yang sedang memancing dibawah tebing, belum naik juga walaupun sudah kami teriaki.  Suara kami pastilah kalah dengan debur ombak.  Cukup menegangkan juga saat-saat ketika kami menunggu diatas tebing yang sekarang sudah gelap total, tak berani kami beranjak jauh-jauh, takut terlalu ke pinggir dan menghilang di kegelapan lautan dibawah sana.

Kadang-kadang kami bisa melihat sekilas-sekilas sinar lampu senter, yang lalu kami teriaki supaya mereka tau arah, tapi mereka tidak juga datang, bahkan 2 diantara kami pergi menyusulnya tapi pulang dengan tangan hampa.   Lalu bertambah khawatir karena sempat melihat sekilas sinar lampu senter yang terus menjauhi arah kami, bahkan lalu menghilang.

Kami menunggu dan terus menunggu dengan khawatir, tanpa makanan secuilpun, tak juga air minum, semua bekal masing-masing yang memang tidak membawa banyak, sudah habis tak bersisa.   Untunglah awan-awan gelap yang tadi sempat membuat khawatir akan turunnya hujan, sudah pergi dari langit.  Bintang-bintang mulai bermunculan, dan di laut lampu-lampu petromax dari perahu nelayan terlihat disana sini.

Tapi lalu sebuah teriakan lamat-lamat dan secercah sinar lampu senter yang lemah, memperbesar harapan kami.  Segera saja Bang Hasbi dan seorang kawan lainnya menyongsong arah datangnya suara dan sinar lampu, yang lain tetap menunggu ditempat semula karena keterbatasan lampu senter.  Syukurlah, akhirnya mereka muncul, tak ada yang terluka serius hanya kehausan, dan kelaparan serta kecapean luar biasa.  Rupanya memang mereka sempat salah jalan, makanya sempat kami lihat sinar lampu senternya menjauh.  Mereka kehilangan salah satu lampu senter, dan sendal jepit mereka ada yg putus, jadi makin memperlambat perjalanan. Tapi syukurlah, akhirnya kami bisa berkumpul lagi semuanya.

Bintang-bintang di langit menemani perjalanan kami, kembali menyusuri jalan setapak di lereng tebing di pinggir pulau.  Berselang seling antara yang membawa senter dengan yang tidak.  Beberapa kali dikagetkan bunyi krosakan belukar yang diterjang babi hutan yang kaget dengan keberadaan kami.  Rasanya begitu melegakan ketika sampai dilokasi tebing yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa yang seolah-olah seperti jarum pentul yang ditusukan pada sesuatu benda bundar.  Di sini kami sudah bisa menertawakan “malapetaka hilangnya” kedua teman kami tadi, karena tempat ini sudah tidak jauh lagi dari lokasi rumah-rumah.

Sudah hampir jam 10 malam ketika akhirnya kami sampai di rumah sewaan, sangat kelelahan, tapi kami masih harus mempersiapkan makan malam yang sangat telat, memanaskan sisa makanan tadi siang untuk supaya tidak harus tidur dengan menahan lapar.

Saya tidur pulas sekali di dalam sleeping bag yang digelar diatas lantai papan kayu di salah satu kamar yang saya tempati sendiri, walupun tadinya ingin berbaring diluar, diatas pasir pantai, dibawah bintang-bintang.

OMBAK SI MUKA MEMBERENGUT

Paginya diisi dengan hunting sunrise di timur pulau dan sedikit bermain air, lalu kembali menjadi pembuat sambel yang “numero uno !!” kata teman-teman yang lain.  Saya sendiri terpikat oseng-oseng ikan yang diberi bumbu khas Aceh yang berupa belimbing wuluh kering, lupa saya namanya apa, tapi rasanya enak sekali.

Perahu penjemput kami akhirnya tiba menjelang tengah hari, ukurannya bahkan lebih kecil lagi dibandingkan dengan yang kami pakai kemarin sewaktu berangkat, tangan kita bisa dengan mudah menjangkau air laut di sekeliling perahu.  Kami diperingatkan tukang perahu untuk memakai jaket pelampung dan memasukan backpack-backpack dan barang-barang lainnya ke dalam kantung plastik, karena katanya kalau siang arusnya kencang.

Perjalanan awal memasuki Selat Ujong Pancu, peringatan tukang perahu itu masih seperti mengada-ada, ombaknya masih seperti kemarin, jadi saya belum memakai jaket pelampung, yang malah saya pakai sebagai sandaran di dinding perahu, lalu tertidur nikmat diayun gelombang.  Lalu terbangun karena merasakan siraman air, ternyata pecahan ombak yang diterjang laju perahu.  Saya cuma membuka mata sebentar, membetulkan tutup kepala jas hujan yang saya pakai, dan kembali meringkuk karena masih ngantuk.  Tapi siraman air laut terasa semakin sering, membuat saya bangun sepenuhnya dan sadar bahwa ombak tidak lagi jinak, perahu kami terangguk-angguk turun naik puncak ombak.  Bang Hasbi menyuruh saya untuk segera memakai jacket pelampung, ternyata yang lainnya sudah memakainya, dan semuanya sudah basah kuyup terguyur cipratan ombak yang kebanyakan datang dari arah samping kiri, maka sayapun pindah ke sisi kanan supaya tidak terlalu basah kuyup walaupun sudah sangat terlambat.

Kami berpegang erat-erat pada tepian perahu yang melambung lalu terhempas berulang-ulang.  Untung saja saat itu kondisi badan saya sedang lumayan fit jadi tidak masuk angin ataupun mabuk laut.  Malah bisa dibilang saya “menikmati” setiap lambungan dan hempasan perahu.  Ombak tak juga menjinak kendatipun kota Banda Aceh sudah tampak.  Kami baru merasa lega ketika perahu sudah memasuki perairan yang ada diantara bantaran pemecah ombak.  Dan merasa benar-benar lega ketika akhirnya perahu kami berhasil tertambat di dermaga.  Daratan berasa oleng ketika saya menginjaknya, padahal keseimbangan otak saya lah yang masih terpengaruh ombak lautan.

Sebenarnya masih banyak pulau-pulau lain di dekat-dekat Pulau Bunta, seperti Pulau Batu, Pulau Nasi, Pulau Bereuh, Pulau Keureusik, dll, yang tentu saja, bagi saya, sangat menarik untuk dijelajahi.  Tapi sayangnya belum ada kesempatan untuk saat ini.

===================================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/aceh-rahasia-dari-pulau-bunta/   Oleh : Dian Sundari

Aceh : Tsunami, Cafe Ber-free-wifi, dan kopi

Saya senang menyebut kata Nusantara untuk negara kepulauan ini. Dan saya bangga karena sudah berhasil ke batas terbaratnya di Pulau Weh.

=========================

04-11 Feb 2011

Kuteraja

Tidak seperti ketika akan berangkat bertualang ke tempat-tempat lain, terutama tentang pakaian, yang biasanya cukup dengan kaos oblong, celana pendek, dan celana kargo panjang, ketika akan ke Aceh ini saya berasa akan pergi menginap di pesantren (walaupun belum pernah merasakannya).  Itu karena informasi mengenai ketatnya pelaksanaan Hukum Syariat Islam di sana.  Jadi untuk menghormatinya, maka walaupun saya bukan seorang muslim yang taat, minimal saya harus menghormati hukum adat tuan rumah.  Mudah-mudahan bisa ketularan taat  ^_^

Saya merasa sangat beruntung selama di Kuteraja Banda Aceh karena bertemu dengan banyak dewa penolong yang memanjakan saya.  Mengantar-antar saya berkeliling Kuteraja yang ternyata membuat saya tercengang-cengang dengan “kemodernan” dan keteraturannya.

Kota ini bersih dan teratur, sungainya yang membelah kota juga bersih, lengkap dengan taman bunga di pinggiran kali.  Toko-toko berjejer rapi.  Supermarket dan mall juga ada disana-sini.  Terminal labi-labi nya (angkot) juga cukup bersih dan tertib.  Labi-labi nya lucu, seperti angkutan pedesaan jaman dulu di Jawa, kalau mau turun, kita harus memencet bel.

Ada banyak sekali becak bermotor, yang tempat duduk penumpangnya ada di pinggir pengemudi.  Tidak ada ojek sepeda motor, mungkin karena Hukum Syariat Islam nya melarang wanita berboncengan dengan yang bukan muhrimnya (suami atau saudara/famili laki-laki).

Kota ini sudah bangkit sepenuhnya dari bencana tsunami yang dahsyat di tahun 2004 lalu itu sepertinya.  Bencana itu sekarang sudah jadi komoditas wisata andalan Kuteraja.  Wisata Tsunami, dengan beberapa obyek wisata seperti Kapal PLTU Apung yang terdampar di tengah pemukiman, kapal nelayan yang bertengger di atap rumah, musium tsunami, serta kuburan-kuburan massal untuk ribuan korban tsunami  Foto-foto mayat korban tsunami yang sudah tidak utuh dan sudah menggembung busuk di pinggiran pantai, terpajang begitu saja di musium yang ada di dekat tempat terdamparnya kapal PLTU Apung.  Terpampang begitu saja untuk semua pengunjung, termasuk anak-anak kecil.  Warung-warung seafood dan jagung bakar berjejer diseberang kuburan massal.  Obrolan-obrolan tentang kedahsyatan bencana tsunami diperbincangkan dengan “ringan” sekarang, sambil menikmati jagung bakar dikala sunset di tepi pantai, atau dikala ngopi-ngopi di cafe-cafe ber-wifi.

Nah, itu dia, cafe-cafe ber-wifi, satu lagi hal yang membuat saya tercengang-cengang.  Cafe-cafe itu menjamur diseantero Kuteraja.  Dan pagi-siang-malam, cafe-cafe itu penuh dengan pengunjung, laki-laki dan perempuan, dari mulai remaja ABG pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, PNS, pekerja LSM, bos-bos, semuanya bersosialisasi di cafe-cafe.  Bukan cuma sekedar untuk ngopi-ngopi, tapi juga sebagai tempat untuk mengerjakan PR misalnya, belajar bersama lah, pacaran, pertemuan bisnis, diskusi, sekedar ngobrol-ngobrol, berdiskusi, nonton bareng pertandingan sepak bola, atau sekedar chating-chatinng YM-an, Fban, Tweeter-an memanfaatkan fasilitas free-wifi nya.

Sedikitnya saya sempat diajak mampir di 5 cafe berbeda selama disana, termasuk ke Kedai Kopi Solong yang tertua dan paling terkenal dikalangan wisatawan.  Mencoba kopi tariknya yang benar-benar pahit, mencicipi “sanger” (kopi dengan susu sedikit), dan kopi susu (kopi dengan susu banyak).  Mencoba kue-kue nya, dan tidak lupa pula mencicipi mie Razalie dengan kepiting yang sangat enak itu.

Saya tidak merasakan ketatnya pelaksanaan Hukum Syariat Islam selama disana.  Perempuan-perempuan muslim di sana memang hampir semuanya berjilbab, tapi sekarang sudah lazim dijumpai perempuan-perempuan di tempat umum seperti cafe bahkan hingga larut malam.  Tidak ada jam malam, seperti yang saya baca dibeberapa website.  Pelaksanaan Hukum Syariat Islam masih terasa di sekitar Mesjid Agung Baitul Rahman.  Dengan corong pengeras suara portable nya, satpam mesjid akan menyuruh siapapun yang berkeliaran di halaman dan sekitar mesjid untuk shalat jika kedapatan terdapat disana pada jam-jam shalat.

Polisi Syariat juga akan berpatroli di sepanjang pantai-pantai Kuteraja, men-sweeping pasangan-pasangan bukan muhrim yang kadang-kadang berpacaran disana.  Mereka akan berkeliling diatas mobil bak terbuka seperti Petugas Tantrib di Jakarta yang mengusiri pedagang kaki lima dan pengemis dari jalanan.

Selain kopi, kain tenun songket Aceh juga menjadi komoditi yang dicari.  Saya beruntung karena sempat mengunjungi kampung sentra pengrajin tenun songket khas Aceh, yang jumlahnya kian hari kian menurun.  Di daerah pinggiran Kuteraja, masih bisa dijumpai rumah adat Aceh yang berupa rumah panggung kayu dengan ornamen-ornamen khasnya itu.  Yang paling gampang, Anda bisa menjumpainya di daerah Lamno, rumahnya Tjut Nya Dien (Sang Pahlawan Wanita dari Aceh), dan sekarang sudah dijadikan musium.

Di Pantai Lhok Ngaa, saya mendapatkan pemandangan sunset yang spektakuler, disela-sela cerita tentang bencana tsunami yang meluluh-lantakan bangunan pabrik semen Andalas yang ada di seberang jalan di tepi pantai itu.  Katanya, 2 kapal super besar besar pengangkut batubara dan bahan baku pembuatan semen, terangkat ombak tsunami dan jatuh menimpa bangunan pabrik.  Di Lamno, juga ada resort wisata cantik dibibir tebing.

Lebih ke timur dari Lamno, ada Puncak Gerute, dengan jalannya yang meliuk-liuk di pinggang bukit yang berbatasan dengan samudra luas.  Di sana juga ada bukti kedahsyatan bencana tsunami berupa terpisahnya sebuah daratan menjadi pulau tersendiri, lepas dari induknya, Pulau Sumatra.  Kampung-kampung yang dulunya ada di area itu, tersapu bersih ke lautan.

Lebih ke timur lagi dari Puncak Gerute, ada Lampuuk yang juga menyisakan bukti tsunami berupa sisa-sisa bangunan jembatan.  Rumah-rumah bantuan pasca tsunami dari berbagai pihak, dibangun di sana-sini.

Pulau Weh

Perjalanan dengan kapal ferry lambat memakan waktu kira-kira 1,5 jam dari Pelabuhan Ulee Leu di Banda Aceh ke Pelabuhan Sabang di Pulau Weh.

Pulau ini menjadi sangat penting bagi Nusantara.  Di sana terdapat titik nol kilometernya negri ini.  Walau penting dan dibanggakan, tapi seperti biasanya, monumen ini tampak tidak terurus.  Kejahilan pengunjung terlihat disana-sini berupa coretan-coretan di dinding, bahkan di prasasti Nol Kilometer, juga sampah-sampah yang berserakan.  Waktu saya kesana, tidak ada penjaga bahkan warungpun kosong melompong.  Hanya ada sekelompok monyet-monyet yang menunggu makanan gratisan.  Sangar-sangar juga ternyata monyet-monyet itu.  Saya yang sedang asyik memotret-motret mereka hampir diserang monyet paling besar diantara gerombolan itu.

Memang lokasi monumen itu terdapat di area hutan lindung yang cukup rimbun dan gelap.  Kadang-kadang babi hutan lari memotong jalan.  Cukup jauh juga jaraknya dari Kota Sabang, kira-kira 2,5 jam.

Saya menginap 2 malam di Pantai Iboih, sebuah lokasi wisata di dekat Pulau Rubiah.  Lokasi wisata snorkling dan diving favorit di Aceh. Iboih ini penuh dengan wisatawan asing.  Mereka menginap berminggu-minggu disana, menikmati wisata diving.

Saya menemukan dua orang teman baru disana, lumayan untuk patungan biaya sewa perahu keliling Pulau Rubiah.  Perahunya dilengkapi kaca untuk mengintip ke bawah laut.  Anemon-anemon cantik dan penghuninya, si clown fish, terlihat di beberapa tempat.  Snorkling di spot yang ditunjukan tukang perahu tidak terlalu memuaskan.  Koral-koralnya sudah mati dan terkena dampak “coral bleaching” akibat tingginya suhu air laut, tapi ikan-ikannya lumayan banyak.

Dibawah dermaga Iboih, koral-koral muda yang sedang berjuang tumbuh terlihat disana-sini.  Warga dan penggiat wisata bahari serta pencinta konservasi laut, sedang bahu membahu mengembalikan keindahan koral-koral terumbu karang di Pulau Rubiah yang hancur akibat tsunami dan pemanasan global.

=========0000=========

Terimakasih kepada teman-teman di Aceh : Chusnul Chotimah, Bang Hasbi Azhar, Bang Udi Djamil, Anen, Yanti, Kak Nur, Kang Rudi, Bang Jul, Bang Zacky, dll yang sudah memanjakan saya selama di sana.

Dan juga kepada teman-teman baru yang bertemu di Pulau Weh : Bang Ami, Tika dan  Abdan

 ============

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/aceh-tsunami-cafe-ber-free-wifi-dan-kopi/   Oleh : Dian Sundari

Krakatau : Bolat vs Bonung

Gunung Krakatau telah menarik minat petualangan saya sejak lama, karena riwayat sejarahnya yang luar biasa, yang telah memusnahkan suatu peradaban Atlantis (katanya), yang debu letusannya sampai ke benua Eropa, yang juga telah membuat Jawa dan Sumatra terpisah. Kesempatan pertama datang pada September 2007, nekat menyebrang dari Pantai Carita (Anyer, Banten) menggunakan speedboat fiber double engine yang melonjak-lonjak menunggangi ombak Selat Sunda yang sedang “lumayan” ganas. Kesempatan kedua datang 2 bulan kemudian, November 2007, dengan rute berebda, yaitu dari Desa Canti di Kalianda (Lampung). Kali ini lebih nekat lagi, karena saat itu sang Anak Gunung Krakatau sedang meletusss…!!!

=======================

Bolat vs Bonung

Sabtu pagi, kru kapal beserta speed boatnya sudah menunggu kami bertujuh di suatu muara sungai tempat perahu-perahu nelayan bersandar, di daerah Pantai Carita (Anyer, Banten). Semakin ke tengah, ombaknya semakin besar.  Speed boat kami terlonjak-lonjak menerjang ombak Selat Sunda.  Ombak yang terpecah menghasilkan cipratan-cipratan air yang langsung mengguyur para penumpang.  Laju speed boat yang melonjak-lonjak juga membikin perut bergolak, muka salah satu kawan saya yang memang sering mabuk laut, berubah hijau pucat.   Sementara saya duduk terkantuk-kantuk akibat minum Antimo ™, tangan saya berpegangan erat-erat ke bibir perahu.  Kami semua sudah memakai jaket pelampung.  Safety first !!!

Lagi enak-enaknya terkantuk-kantuk sambil nyender ke pegangan besi di pinggir speed boat dan sesekali terciprati pecahan ombak, tiba-tiba dibangunin teriakan teman-teman… sewaktu membuka mata, di depan sana tampak Pulau Rakata lengkap dengan anak Gunung Krakatau yang berwarna hitam dan puncaknya yang berwarna putih, sedangkan di sisi kiri dan kanan ada juga pulau-pulau lain yang rimbun ditumbuhi pepohonan tropis.

Jam 11 kami merapat di pantai pulau Rakata,  pasirnya berwarna hitam legam dan puanaaaassss…..  Membuat kami meloncat-loncat seperti anak kijang. Kami di sambut plang ucapan “Selamat Datang di Taman Wisata Gunung Anak Krakatau”, juga ada semacam display berisi sejarah letusan Krakatau beserta jenis-jenis batuan vulkanik dan flora-fauna nya, serta ada saung jagawana.

Dengan berbekal air minum, cemilan, dan kamera (tak lupa pula mengolesi lagi kulit dengan lebih banyak sun block), kami memulai trekking  mendaki Anak Gunung Krakatau.  Pasir hitam yang dulunya adalah lahar panas, sekarang juga tampak dan terasa panas membara di telapak kaki kami.

Teman-teman yang benar-benar bocah laut, kali ini benar-benar saltum (salah kostum – red).  Cowok-cowoknya rata-rata cuma  memakai kaos oblong, celana pendek, dan topi.  Alas kakinya ada yang cuma memakai sendal jepit dan ada juga yang memakai boothist yang biasa dipakai double bersama fin saat snorkling atau menyelam.  Alhasil yang pakai sendal jepit harus berkernyit-kernyit gara-gara telapak kakinya kepanasan dan tertusuk-tusuk pasir hitam krakatau yang bergerigi tajam, sampai-sampai ada yang menyerah, tidak bisa mendaki lagi.  Sendal gunung plus kaos kaki yang saya pakai cukup menghindarkan kaki saya dari derita pasir panas dan tajam itu.

Jalur yang kami lalui melulu adalah pasir hitam, semakin ke atas pepohonan pinus semakin jarang dan akhirnya tidak ada sama sekali.  Matahari memanggang dengan teriknya.  Berjalan menjadi sangat sulit, karena pasirnya selalu menelan kaki hingga mata kaki.  Berjalan mundur ternyata sangat membantu tapi harus hati-hati karena banyak bongkahan batu berwarna hitam.

Sewaktu mendaki dengan cara berjalan mundur, tampaklah pemandangan luar biasa ke laut lepas.  Di depan sana terlihat pulau yang hijau ditumbuhi tanaman tropis, di sebelah kanan juga ada pulau serupa, sedangkan nun jauh di sebelah kiri samar-samar  tampak pulau Sebesi.  Dan ketika membalik badan lagi, anak gunung krakatau yang gersang dan berwarna hitam tampak menjulang menghadang kami.  Saking panasnya, dari atas pasir hitam ini tampak seperti ada asap membentuk kaca fatamorgana.

Satu per satu kami sampai di pos 1 yang landai.  Di sini ada semacam alat pemancar satelit, katanya untuk penelitian vulcanology, pembangkit energy-nya memakai solar system, tampak berkilauan di terangi teriknya cahaya matahari.  Pemandangan ke laut lepas sangat luar biasa, kalau sore dan pagi hari pasti pemandangannya lebih luar biasa lagi.  Tak ada satu pun pepohonan tumbuh di sini.

Mengingat kami benar-benar saltum, akhirnya diputuskan pendakian hanya sampai di sini saja.  Saya yang sangat penasaran ingin mendaki sampai puncak memang merasa kecewa, tapi sadar dengan resiko jika memaksakan diri.  Kata Pak Saeful, orang yang biasa menjadi guide bagi wisatawan, dari sini  ke puncak cuma sekitar 700 meter lagi, tapi medannya sangatlah berat, bahkan kadang-kadang harus merangkak segala saking terjalnya…..

Seperti biasa kalau sehabis jalan menanjak, maka jalan menurun adalah surga.  Dan memang tidak terlalu berat.  Dengan menumpukkan berat badan di tumit yang langsung melesek dalam pasir, perjalanan turun menjadi lebih cepat dan lebih nyaman.  Cumaaa…..debunya yang ditinggalkan langkah teman yang berada di depan membuat mata pedas dan nafas sesak, apalagi kalau arah angin sedang naik.

Teman-teman yang cuma memakai sendal jepit, begitu kepayahan dengan sengatan panas dan tajamnya pasir, berjingkrang-jingkrak terburu-buru menuruni lereng menuju keteduhan pohon pinus.  Ingin rasanya langung rebahan di atas tumpukan tebal dan empuknya daun-daun pinus yang berguguran dan terhampar di bawah batang pohon.

Playing with Danger..!!!

“Yaaa…kok meletusnya kecil..:(

Itu komentar konyol, sangat konyol, dari saya yang sejak tadi siap dengan si Olly (kamera poket Ollympus milik saya), bertengger diujung perahu, menunggu-nunggu “letusan spektakuler” dari kawah Anak Gunung Krakatau yang memang sedang aktif.

Saya sadar bahwa saya sedang bermain-main dengan bahaya.  Saya juga tahu kalau saya saat ini tidak sedang melihat acara TV tentang letusan Krakatau, melainkan sedang ada disana, di zona bahaya letusan.  Tapi, anehnya rasa takut seperti hilang entah kemana, yang ada hanyalah kagum dan takjub dengan fenomena yang ada dihadapan.  Saya tidak sendiri, selusin orang teman lainnya pun terdiam takjub mengagumi fenomena dahsyat itu.

Pemandangan menakjubkan dari sang Anak Gunung Krakatau yang sedang mengepul-ngepul langsung menghilangkan semua penat dan puyeng,,, Asapnya yang berwarna putih coklat kehitaman membumbung tinggi ke langit biru…, membentuk jamur raksasa yang terus membumbung tinggi dan membesar…seperti asap hasil letusan bom atom yang ada di buku-buku… lalu angin membelokkan arah asap itu.  Sinar matahari agak terhalangi, dan butiran debunya terasa menimpa kami , untungnya cuma sedikit.  Di permukaan laut banyak terhampar debu putih yang mengalir terayun-ayun gelombang. Semakin tinggi asap itu pun bercampur dengan awan putih… Tidak tercium bau belerang…yang tercium adalah bau seperti aspal terbakar.

Perahu memutari sang Anak Gunung Krakatau hingga berada persis di depan lubang kawah, yang ternyata tidak berada persisi di puncaknya, melainkan agak melipir di punggungan gunung.  Lokasi ini dinilai aman karena tidak berada dalam arah angin asap…  Dari lokasi ini, kami bisa melihat dengan jelas sewaktu suatu letusan dimulai…, lalu batu-batu terlontar ke udara dan mendarat di lereng gunung yang gundul gersang dan hitam legam…  Batu-batu itu pecah selama menggelinding menuruni lereng…, sewaktu pecah jelas terlihat warna merah membara dari bagian dalam batu…. dan batu-batu pijar itu akan tiba dilaut…. cessss…..pijarnya musnah didinginnya air laut.

Perahu memutari Pulau Rakata lagi, kami mendarat di pantainya yang dulu sempat saya datangi itu.  Lokasi ini juga dinilai aman, karena bersebrangan dengan lokasi lereng berkawah, walaupun arah angin seringkali membawa awan panas berwarna kecoklatan tepat diatas lokasi kami, tapi tidak membahayakan.

Kami asyik memasak makan siang dan bersnorkling di situ, seolah-olah kondisi Gunung Krakatau masih dalam keadaan normal saja.  Salah satu teman yang bisa disebut sebagai perintis wisata volcano, Mas Andi Azimuth, ditemani salah seorang awak perahu, setelah memperlengkapi diri dengan safety yang memadai, memulai expedisi mendaki Sang Anak Gunung Krakatau yang sedang terbatuk-batuk, menantang bahaya demi pengalaman tak terkira….  Saya juga penasaran, tapi saya tidak seberani dia dan tidak memiliki perlengkapan safety apa-apa, serta tidak berpengalaman.

Saya bergidik ngeri sewaktu ingat cerita dari Pak Saeful waktu itu, tentang korban-korban yang terkena hamburan batu-batu pijar.

O ya, di kali kedua menyambangi Krakatau ini, kami mengambil rute penyebrangan dari Pelabuhan Canti (Kalianda, Lampung), karena lebih murah sewanya.  Perahu kayu yang kami sewa tidak dilengkapi kursi-kursi untuk penumpang, kami duduk-duduk dan tiduran di atas lantai kayu dalam lambung perahu, beralaskan tikar.  Begitu memasuki perairan dalam, ombak mulai membuat perahu oleng ke kiri ke kanan ke depan dan ke belakang… walahhh… gawat… bisa-bisa ….. Goyangan perahu semakin menggila… benar-benar seperti permainan kora-kora goyang bebasss….seperti di Dufan.. Suatu kali, perahu terangkat tinggi akibat ombak besar, dan begitu turun lagi sudah dihadang ombak besar lainnya dan seketika air laut mengguyur masuk dari arah depan mengguyur kami yang sedang tidur di lantai lambung kapal…waaaaa…..semua pun menjerit karena kaget… Lantai perahu dan tikar serta sebagian backpack teman-teman menjadi basah…

Pulangnya kami memakai rute yang sama, bermalam semalam di Pulau Sebesi.  Dan menghabiskan waktu dengan bersnorkling disana sini, walaupun tidak begitu nyaman karena arusnya yang sedang tidak tenang.

Krakatau memang menyuguhkan pengalaman petualangan yang sangat lengkap, baik bocah gunung (bonung) yang suka naik-naik ke puncak gunung, maupun bagi bocah laut (bolat) yang suka bermain-main dengan lautan untuk bersnorkling ataupun diving.

Jadi siapkan sepatu trekking terbaik Anda, juga fin, snorkling gear, diving gear juga, serta kamera pada saat akan mengunjungi Krakatau ^_^

==========

Thanks to bolat n bonung : Ridwan, Mamats, Darwin, Dee, Endro, DewiSt, Mas Andy Azimuth, Charlie, the 3 musketeer bule, Mbak Aya, Pak Saeful dan Kru perahu

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/krakatau-bolat-vs-bonung/   Oleh : Dian Sundari

PULAU BANGKA : DARI PANTAI KE PANTAI

Berkat panduan luar biasa dari teman-teman baru kami di Pulau Bangka (Pak Paulus, Yusuf, and Nia), kami bisa puas ngubek-ngubek Pulau Bangka, mengagumi kelenteng-kelenteng, vihara-vihara, hingga kampung Tionghoa kuno, menyaksikan gegap gempitanya Acara Capgomeh, dan menyusuri pantai-pantainya yang bersih dan indah-indah…

26 Feb – 1 Mar 2010

Pantai Pasir Padi ( Pangkal Pinang)

Senja pertamadi Pulau Bangka, kami habiskan di Pantai Pasir Padi di kota Pangkal Pinang. Di pantai ini terdapat resort dan warung-warung makan traditional. Pantai ini sangat landai hingga jauh ke tengah, membentang dari utara ke selatan sepanjang kira-kira 300 meteran. Pasir putihnya yang lembut dan padat sangat nyaman untuk berjalan kaki, bahkan untuk dilalui kendaraan sekalipun, baik motor maupun mobil. Pengunjung tampak cukup ramai senja itu. Beberapa anak muda kota ini sedang beradu nyali balapan motor di atas pasir pantai. Suara motor mereka meraung-raung di seantero pantai.

@ Pantai Pasir Padi  (Foto oleh : Fitri)

Di sini terdapat Pulau Punai yang dapat dikunjungi dengan berjalan kaki ketika laut surut. Lebih jauh lagi terdapat 2 pulau, yaitu Pulau Semujur dan Pulau Panjang, kita harus menggunakan perahu untuk bisa sampai di sana.  Sayangnya kami tidak sempat berkunjung ke kedua pulau tersebut.

Namun pantai ini kurang cocok untuk dikunjungi senja hari, karena letaknya yang menghadap ke arah timur. Tapi tak mengapa, karena suasana senja ini pun cukup indah untuk dinikmati. Bulan yang sebentar lagi akan purnama sempurna tampak pucat berkilau di langit timur. Sedangkan di belahan langit barat, matahari merah keemasan mengintip disela-sela daun nyiur. Tapi tentu saja, menunggu matahari terbit di sini pastilah sangat indah.

Tidak lama kami menikmati senja di pantai ini. Setelah makan malam dengan menu masakan seafood tradisional khas Bangka, kami menuju Kota Sungailiat untuk mencari penginapan. Tapi sebelumnya kami mampir ke tempat akan dilangsungkannya Perayaan Cap Go Meh bertajuk “Imlek Ceria Bangka 2010” untuk melihat prosesi gladiresik dan mengagumi naga hijau raksasa terpanjang di Indonesia yang dihiasi kue keranjang terbanyak yang pernah ada.

 

Pantai Tanjung Penyusuk ( Belinyu)

Keesokan harinya, setelah menjelajahi Kampung Pecinan kuno Kampung Gedong. Kami pergi ke Pantai Tanjung Penyusuk di ujung utara Pulau Bangka, sekitar 6 km dari kota Kecamatan Belinyu, kira-kira 2 jam perjalanan bermobil dari Kota Sungailiat. Jalan raya Sungailiat-Belinyu ini sungguh mulus dan cukup lebar, serta tidak banyak kendaraan yang melintas. Di Kota Belinyu, kami makan siang dengan menu seafood tradisional khas Bangka yang belum pernah kami cicipi sebelumnya dan juga tempat, dimana kami membeli oleh-oleh khas Bangka yaitu kerupuk kemplang, kerupuk getas beraneka rasa, abon ikan dan terasi. Selepas Kota Belinyu, jalan menyempit, melewati hutan dan rawa.

Pantai Tanjung Penyusuk dan tetangganya, Pantai Romodong, berada di Selat Kelabat, jadi ombaknya tenang. Pantai ini sungguh indah.  Pasirnya yang putih halus tampak berkilauan cemerlang ditempa sinar matahari yang sangat terik siang ini. Bebatuan berukuran besar tampak berserakan dalam formasi yang indah di sepanjang pantai. Pantai ini cocok untuk menikmati sunset. Lautnya tampak begitu biru bening dan lumayan tenang ombaknya.  Di arah utara tampak pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Putri, Pulau Mentigi, Pulau Baku dan Pulau Lampu. Pulau-pulau ini dapat kita capai dengan menggunakan perahu nelayan.  Di Pulau Lampu terlihat sebuah mercusuar berwarna putih, tinggi menjulang ke angkasa.

Menurut informasi, diantara gugusan pulau-pulau dan pantai terdapat palung laut yang dalam, tempat hidupnya berbagai ikan hias dan terumbu karang berwarna warni, dan juga terdapat bangkai kapal karam (wreck), surga bagi para penyelam. Sayangnya kami hanya menikmati pemandangan pantai saja dari bangunan warung-warung tradisional yang saat itu sedang kosong, sambil menikmati kelapa muda . Warung-warung ini hanya buka pada hari minggu saja, pada saat pantai ini ramai dikunjungi wisatawan. Di sini juga terdapat sarana toilet umum.

 

Pantai Romodong ( Belinyu)

Puas mengagumi keindahan Pantai Tanjung Penyusuk sambil menikmati kelapa muda, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Romodong yang tidak begitu jauh jaraknya dari Pantai Tanjung Penyusuk ini. Di kiri dan kanan jalanan yang cukup sempit ini, banyak terdapat batu-batu raksasa beraneka bentuk, salah satunya menyerupai kodok raksasa. Dua buah batu raksasa tinggi besar yang mengapit jalan, seakan menjadi gerbang selamat datang yang menyambut pengunjung dan menjadi maskot bagi Pantai Romodong ini.

Garis pantainya panjang membentang. Pasirnya halus dan putih berkilauan.  Lautnya tampak tenang dan dihiasi batu-batu raksasa. Beberapa pemancing tengah asik memancing sambil berdiri di laut dangkal sepinggang orang dewasa. Pantai ini juga cocok untuk menikmati sunset.

Bangunan warung-warung sederhana yang saat ini kosong, tampak bertebaran di beberapa lokasi pantai. Sayangnya tidak ada fasilitas lainnya di sini.

 

Pantai Tanjung Pesona ( Sungailiat )

Semarak acara utama Cap Go Meh “Imlek Ceria Bangka 2010” semalam yang dipenuhi tari-tarian kolosal yang memadukan budaya Tionghoa, Melayu, dan Lombok, serta ditutup dengan pesta kembang api yang semarak, masih terbayang jelas dalam ingatan kami pagi itu. Hari ini agenda kami adalah mengunjungi pantai-pantai yang ada di Sungailiat dan beberapa tempat lainnya.

Pagi-pagi kami berangkat ke Pantai Tanjung Pesona, tapi sudah terlalu siang untuk melihat sunrise. Walaupun begitu matahari pagi yang sedang menaiki cakrawala masih menyajikan pemandangan yang indah. Di Pantai Tanjung Pesona terdapat resort dan restoran mewah. Pasir pantainya juga berwarna putih dan halus. Pantai ini juga dihiasi batu-batu besar dan air laut biru jernih yang tenang.

Tidak ada warung makan tradisional di sini. Pantai ini memang sepenuhnya diperuntukan bagi tamu-tamu resort dan restoran. Untuk sarapan, kami terpaksa harus kembali ke Kota Sungailiat, karena restoran di sini belum buka.

Tidak lupa kami mengunjungi kedai kopi terfavorit di kota ini, adanya di Pasar Atas. Kami mencoba kopi O yang menjadi ciri khas. Kedainya tampak sangat ramai pengunjung yang rata-rata adalah Bapak-bapak. Kopi O –nya memang nikmat, walaupun terlalu pahit menurut ukuran lidah saya yang bukan pengopi sejati. Cara memasaknya sangat unik, yaitu diatas tungku tanah liat dan dengan pemanas berupa arang bara api. Kopinya masih mengepul mendidih sewaktu disajikan. Untuk panganannya tersedia berbagai macam kue tradisional khas bangka.

 

Pantai Matras (Sungailiat)

Dari Pantai Tanjung Pesona, kami mengunjungi berbagai objek lain seperti Objek Pemandian Air Panas Pemali, Kuil Dewi Kwan Yin, dan Kuil Mahayana di Bukit Lubuk Kelik. Siang menuju sore kami mengunjungi Pantai Matras, “pantai sejuta umat” – nya Sungailiat.

Pantainya landai dan berpasir mutih halus.  Berbagai fasilitas wisata umum telah dibangun di sini. Warung-warung makan dan minuman sudah tertata rapi. Siang ini pengunjung cukup banyak. Kami mencari area yang lumayan sepi di bentangan pantai yang sangat panjang ini, kurang lebih 5 km panjangnya. Bebatuan besar juga menghiasi ujung selatan pantai.

 

Pantai Parai (Sungailiat)

Menurut informasi, dulu namanya adalah Pantai Tenggiri, dan sebelumnya lagi bernama Pantai Hakok.  Sekarang ini, sering disebut dengan nama Pantai Parai atau Pantai Parai Tenggiri.

Pantai ini juga sudah dijadikan resort mewah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk spa, karaoke, café, bar, kolam renang dll.  Bahkan ada pulau buatan yang diberi nama Rock Island, tempat sebuah BQ Grill & Bar berdiri dan dihubungkan dengan seruas jembatan beton yang akan berguna jika laut sedang pasang. Untuk dapat masuk ke area pantai, pengunjung harus membayar biaya  retribusi sebesar Rp.15.000. Tapi karena kami datang bersama teman kami yang dari Dinas Pariwisata Bangka, maka kami terbebas dari biaya tersebut.

Pantainya tampak sangat bersih dan indah tentu saja. Batu-batu besar kecil menghiasi pantai ini. Saat itu pengunjung cukup ramai walaupun langit sore tampak mendung gelap.

 

Pantai Tikus (Sungailiat)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Pulau Bangka, nanti siang kami akan menyebrang ke Pulau Belitung menggunakan kapal cepat. Pagi terakhir ini kami gunakan untuk mengunjungi Pantai Tikus. Pantai-pantai lain yang belum dikunjungi sebenarnya masih sangat banyak.

Jalan menuju pantai ini juga sempit seperti jalan yang menuju Pantai Rumodong dan Penyusuk. Mendaki bukit yang diatasnya terdapat bangunan Vihara yang masih jauh dari selesai. Menurut informasi, beberapa tokoh Tionghoa Bangka berencana menjadikan tempat ini sebagai Tempat Wisata Keagamaan terbesar dan terlengkap, di atas bukit ini menghadap ke laut akan didirikan 5 tempat ibadah dari 5 agama yaitu Kong Hu Cu, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam.  Tapi proyek tersebut masih tertunda entah sejak kapan dan sampai kapan.

Pemandangan ke laut lepas memang sangat menakjubkan dari atas sini. Tapi keindahan Pantai Tikus sesungguhnya menanti kita di bawah.

Dengan menuruni tebing batu yang cukup curam, kita akan disambut dengan pemandangan pantai yang menakjubkan. Bebatuan besar dalam formasi, bentuk, dan warna yang unik menghiasi pantai ini. Pasir putih halus dan bersih terhampar di lengkungan pantai. Air laut yang biru bening bebas polusi ini sangat menggoda.  Dikejauhan tampak beberapa pemancing sedang memancing diatas bebatuan. Sedikit ke tengah laut terdapat gugusan bebatuan besar dalam formasi yang unik.

 

———————————-00000———————————–

Special thanks to

: Pak Paulus, Yusuf, and Nia

Many Thanks To Para Indo-gembolaner : Fitri, Kurnia N, Ririn, Yani

BELITONG : PANTAI PUTIH BERBATU RAKSASA DAN LASKAR PELANGI

24/12/2011

 

 

Itulah yang menjadi ikon bagi Pulau Belitung saat ini, pantai berbatu raksasa dan Laskar Pelangi. Baligo besar di pinggir jalan pun bertuliskan salam selamat datang dengan kata-kata “SELAMAT DATANG DI NEGERI LASKAR PELANGI”. Ya, begitu besar pengaruh keterkenalan novel karya Andrea Hirata beserta filmnya itu di tanah kelahirannya ini. Sampai-sampai Pulau Belitung menyebut dirinya sebagai NEGERI LASKAR PELANGI.   Hmmmm…, dulu motonya apa ya sebelum fenomena LASKAR PELANGI ???

Awal Maret 2010

FENOMENA LASKAR PELANGI

Belahan bumi Belitong bagian Timur yang sebelumnya kurang diminati sebagai tempat tujuan wisata, kini menjadi menu andalan berbagai Biro Perjalanan, juga berkat Si Laskar Pelangi yang fenomenal ini.   Tempat-tempat yang ada dalam novel dan film Laskar Pelangi, seperti Kota kecil Gantong dan Manggar yang lebih besar, kini seakan menjadi tempat wajib untuk dikunjungi bila Anda ke Belitong.   Para pelancong ini akan sangat merasa bangga bila berhasil bertemu dengan salah satu tokoh didalam novel dan film tersebut.

Bagi saya sendiri, rasa-rasanya tidak terlalu terobsesi dengan Sang Fenomenal “Laskar Pelangi” walaupun tentu saja sangat kagum dengan karya Andrea Hirata ini.   Jadi, tidak ada salahnya juga untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut, menyambangi SD Muhammadiyah Gantong yang sekarang telah didirikan kembali di suatu area yang disebut sebagai Kompleks Wisata Laskar Pelangi seperti yang tertulis di pintu gerbangnya yang cukup megah.

Area ini cukup luas, tipenya berupa area rawa-rawa.  Tanahnya tampak berwarna putih , membuat mata silau di terik siang ini.  Suatu bangunan seperti aula yang diperuntukan bagi pengunjung untuk beristirahat, tampak sedikit terendam air rawa.

Saya juga sempat mencicipi kopi hitam yang dijajakan di warung-warung kopi di seantero Kota Gantong yang disebut-sebut sebagai “Kota Seribu Kedai Kopi”.

Hal yang membuat saya penasaran di Belitong ini sebetulnya adalah pantainya yang berpasir super putih dan dihiasi batu-batu granit super besar itu.

 

Pantai  Bukit Berahu

Pantai Bukit Berahu ini terdapat di Wilayah Belitong Barat, berjarak kurang lebih 18 km dari kota Tanjung Pandan.  Sebuah restoran berdiri megah dipuncak bukit, pemandangan yang sangat cantik terbentang dari jendela-jendelanya.  Dibagian bawah bukit terdapat kolam renang, dan sederet tangga beton yang meliuk  menurun akan membawa kita tepat ke bibir pantai berpasir putih yang rimbun.  Sederet cottage yang sangat asri terdapat di sini.

Pantainya juga dihiasi batu-batu, tapi tidak begitu besar ukurannya.  Di sebelah kiri pantai yang berbatu-batu dan berair jernih ini terdapat sebuah pulau kecil.  Di sebelah kanan pantai, agak jauh di tengah laut yang sedikit berombak saat itu, terdapat banyak perahu nelayan yang dilengkapi alat penangkap ikan yang besar, “pagan” kalau tidak salah sebutannya.  Katanya mereka adalah nelayan-nelayan Bugis yang terkenal itu, perkampungannya tidak jauh dari sini.

Kami melewatinya sewaktu akan menuju Pantai Kelayang.  Rumahnya banyak yang masih terbuat dari kayu dan bertiang tinggi, menghindari air laut yang naik ketika pasang tiba.  Ukuran pintu rumahnya kecil-kecil bila dibandingkan pintu-pintu di rumah kebanyakan, hanya sedikit lebih besar daripada ukuran jendelanya.  Serupa dengan rumah-rumah nelayan Bugis yang ada di Kepulauan Kangean – Madura Timur.  Menurut ibu-ibu yang sedang menobrol di belakang sebuah rumah, hari itu para nelayan di sini tidak banyak yang pergi melaut, karena bulan sedang tinggi purnama, air laut akan pasang dan berombak, tidak akan banyak ikan yang didapat biasanya.

 

Pantai Tanjung Tinggi

Saya sudah takjub melihat batu-batu super besar yang ada di pantai-pantai Pulau Bangka, tapi di Pantai Tanjung Tinggi ini batu yang besarnya saya kagumi tadi ternyata ukurannya tidak seberapa.  Yang ada di sini bukan main besarnya.  Entah darimana datangnya batu-batu super besar ini.  Saya jadi teringat makam-makam batu yang ada di Tanah Tana Toraja – Sulawesi Selatan sana, seandainya batu-batu raksasa ini ada di sana, pasti sudah dipahat, dibolongi dan dijadikan makam keluarga-keluarga.

Ingin rasanya memanjat menaiki batu-batu tinggi menjulang  tersebut dan melihat pemandangan ke arah lautan yang tentu akan sangat menakjubkan.  Tapi tampaknya tak mungkin dilakukan tanpa alat bantu memadai.  Mungkin seharusnya dibuat semacam tangga atau apa supaya pengunjung bisa naik ke atas sana.

Pantai ini berbentuk teluk kecil.  Pasirnya sungguh putih, walaupun saat itu banyak dikotori oleh semacam daun-daunan berwarna coklat kehitaman.  Air lautnya sendiri begitu bening, ombaknya hanya berupa riak-riak kecil.

Plang penanda bahwa tempat ini telah dijadikan sebagai salah satu tempat syuting film Laskar Pelangi dan sekuelnya “Sang Pemimpi” terpasang di pinggir pantai di 2 lokasi terpisah.  Di sini terdapat cukup banyak warung makan seafood.  Dekat dari sini terdapat Resort Lor Inn yang katanya milik Tomy Soeharto , si Anak Emas rezim terdahulu.

 

Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas, Pulau Burung, dan Pulau Babi

Berjarak kurang lebih 25 km dari kota Tanjung Pandan.  Pasirnya juga putih dan dihiasi bebatuan granit di tepi baratnya.  Perahu-perahu tampak di tambatkan di tepi pantai.  Perahu-perahu nelayan itu biasanya disewakan kepada wisatawan yang ingin mengunjungi pulau kecil, seperti Pulau Lengkuas yang bermercusuar, Pulau Burung, Pulau Babi, dan pulau-pulau lainnya.  Di sini terdapat restoran dan penginapan/cottage.

Kami sudah menyewa sebuah perahu bermotor dari salah seorang nelayan untuk menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar sini dan ber-snorkel .  Bekal makanan dan minuman selama di pulau telah dibeli tadi di Pantai Tanjung Tinggi tadi.  Jaket pelampung dan alat snorkling sudah disewa.   Semuanya sudah siap berperahu menuju Pulau Lengkuas yang berjarak kurang lebih 3 mil laut dari Pantai Tanjung Kelayang.  Melewati sebuah pulau kecil yang berhiaskan gugusan bebatuan yang membentuk formasi seperti seekor burung, sehingga dinamakan sebagai Pulau Burung.

Semakin ke tengah, ombak terasa semakin besar mengombang ambingkan perahu.  Kami berpapasan dengan seorang nelayan yang sedang asik memancing diatas perahunya yang kecil.  Dia tampak seperti sedang main jungkat jungkit akibat perahu kecilnya yang diayun ambingkan gelombang cukup tinggi ini.  Tapi tampaknya dia tenang saja dan melambaikan tangan sambil tersenyum kepada kami semua.  Seringkali gelombang yang cukup tinggi melambungkan perahu ke atas lalu menghempaskannya seketika, disambung lagi menerjang gelombang dihadapan, membuat air laut muncrat memasuki perahu.  Saya dan teman-teman yang sudah sering main-main di lautan berombak, berteriak-teriak seru setiap kali perahu naik dan terhempas gelombang.  Pak Sayuti, sopir mobil sewaan kami, memeluk erat-erat gabus putih berukuran sebesar bola sepak dengan tangan kanan karena beliau tidak kebagian jaket pelampung, sedangkan tangan kirinya berpegang erat-erat pada tiang perahu.  Pasti beliau sangat ketakutan waktu itu, karena kemudian setelah sampai di pulau, beliau mengaku tidak bisa berenang.

Satu jam kemudian kami sampai di Pulau Lengkuas, lumayan lama karena posisi kami yang melawan arus gelombang.  Pulau ini sangat cantik.  Laut dangkal mengelilingi pantai-pantainya yang berpasir putih dan berhiaskan batu-batu.  Ditengah pulau terdapat bangunan kompleks mercusuar terbuat dari tembok dan ditengah kompleks tersebut menjulanglah sebuah bangunan mercusuar setinggi kurang lebih 30 m yang sudah berdiri sejak tahun 1882 dan masih berfungsi hingga sekarang.

Dibawah pohon-pohon yang rindang di tepi pantai, terdapat bangku-bangku dan meja kayu untuk beristirahat, lokasi yang tepat untuk membuka bekal makan siang.   Laut yang jernih, dari tadi telah membuat kami tidak sabar ingin ber-snorkling.  Tapi tidak banyak terumbu karang hidup yang kami temukan, kebanyakan sudah mati dan berwarna coklat, mungkin karena bukan spot andalan.  Untung saja sempat terhibur oleh ikan-ikan Clownfish berwarna merah berkelir putih yang tengah sibuk menjaga sarang anemon-nya.  Beberapa angle fish juga kami jumpai di sana dan banyak lagi ikan-ikan lainnya yang tidak kami tahu namanya.  Bintang laut berwarna serupa pasir, merah dan biru juga banyak kami jumpai.

Satu hal lagi yang membuat kami penasaran yaitu pemandangan apa yang ditawarkan dari puncak mercusur.  Dengan seijin petugas penjaga mercusuar, kami memasuki kompleks menara, disambut dengan bangunan-bangunan tembok bersekat sekat mirip kamar-kamar, sekilas seperti kamar penjara, berderet-deret mengelilingi mercusuar.  Pintu mercusuar yang berada di ujung satunya ditutup oleh gerbang jeruji besi yang sudah karatan, tapi tidak terkunci.

Sedikit merinding sewaktu pertama kali menginjakkan kaki ke dalam dasar menara yang gelap dan dingin.  Terdapat jeruji besi mirip jeruji penjara membelah diameter menara.  Tangga terbuat dari besi berkarat  terdapat didinding kiri, naik hingga ke lantai diatasnya.   Ditengah bangunan menara utama, terdapat bangunan serupa menara yang ukurannya jauh lebih kecil dan tidak bersekat-sekat seperti bangunan induknya.  Seutas tali tambang besar tampak menjuntai dari ujung teratas menara yang terlihat sebagai sebuah lubang terang diatas sana.

Kami menaiki jenjang-jenjang anak tangga besi ini lantai demi lantai, dan melongok ke jendela beberapa kali, menikmati pemandangan seputar Pulau Lengkuas.   Perahu kami tampak sangat kecil, ditambatkan di pantai berpasir putih yang melengkung.  Jaket-jaket pelampung diatas hidung perahu tampak seperti hiasan warna-warni.  Di bagian pulau sebelah barat tampak segerumbulan pepohonan hijau , banyak burung-burung bertenggeran di sana.  Nyanyiannya terdengar bersahutan.

Di bagian teratas menara, ternyata pemandangannya tidak begitu leluasa, karena sekeliling sisinya ditutupi oleh kaca.  Kami lebih memilih untuk turun satu lantai yang pemandangannya lebih leluasa.  Di lantai ini ada sebuah pintu ke arah teras menara yang dipagari besi.  Angin laut berhembus kencang dari arah timur laut.  Hati sedikit ngeri sewaktu melihat ke bawah.  Teman kami yang tidak ikut naik tampak sangat kecil sekali.  Pemandangan sunset dari sini, pastilah sangat luar biasa.  Tapi sunset masih lama, sedangkan kami masih berniat mengunjungi tempat-tempat lainnya , seperti Pulau Babi dan Pulau Burung.

Kami mendarat di Pulau Babi Kecil, batu-batu besar menghiasi sebagian besar pulau.  Pulau besar yang disebelahnya itu, bernama Pulau Babi Besar tapi kami tidak pergi ke sana karena hari semakin sore dan langit mendung.  Kami hanya bermain di atas batu besar di bagian sebelah barat.  Katanya laut sini ombaknya semakin sore semakin besar, jadi kami segera berperahu pulang kembali ke Pantai Tanjung Kelayang.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena mengikuti arus, dan ternyata gelombangnya tidak setinggi tadi ketika berangkat.  Di tengah-tengah perjalanan, kami dihadiahi dengan seberkas pelangi yang sangat indah.  Benar-benar Negeri Laskar Pelangi !!

 

Pantai Nyiur Melambaidan Pantai Serdang

Hari terakhir kami di Belitong digunakan untuk mengunjungi Wilayah Kabupaten Belitong Timur.  Setelah menyambangi Kota Gantong dengan Sekolah Laskar Pelangi-nya, kami menuju kota Manggar, ibukota Kabupaten Belitung Timur, untuk mengunjungi Pantai Nyiur Melambai, nah ini adalah pantai “seribu umat”-nya Pulau Belitong.

Di pantai ini banyak ditumbuhi pohon cemara, mungkin harusnya namanya adalah “Pantai Cemara Melambai”.  Di sini telah dibangun berbagai fasilitas wisata.

Tidak jauh dari Pantai Nyiur Melambai terdapat Pantai Serdang.  Jauhnya sekitar 1 km dari kota Manggar.   Ciri khasnya berupa perahu-perahu yang sangat ramping dan berwarna-warni.  Penduduk menamainya sebagai Perahu Kater.  Perahu ini mungkin rata-rata hanya bisa memuat 3 orang, dilengkapi dengan layar warna warni .

Saat itu banyak perahu Kater yang diparkir disepanjang pantai berpasir putih yang membentang hingga lebih dari 2 km itu.  Di pantai ini, bukan hanya pohon nyiur yang mendominasi, tapi juga pohon pinus.  Ombaknya cukup tenang kala itu.

Di salah satu sisi pantai tampak 2 buah perahu Kater yang sedang siap-siap berlayar.  Kedua perahunya bercat putih, tapi yang satu dipasangi layar berwarna putih dan satunya lagi berlayar biru kotak-kotak.   Yang berlayar putih diawaki oleh 2 orang pemuda dan yang berlayar biru diawaki juga oleh 2 pemuda beserta 1 orang penumpang perempuan bertopi caping bambu berbentuk kerucut.   Begitu melihat saya yang datang mendekat sambil membawa kamera saku, mereka langsung berteriak dan berpose minta di foto yang dengan senang hati saya turuti.

Rupanya mereka bukan mau pergi menangkap ikan, katanya mereka hanya akan main-main ke pulau yang ada disebelah timur pantai ini, kira-kira 1 jam berlayar dan akan pulang lagi sore harinya.   Katanya di rumah sedang tidak ada pekerjaan, mungkin alasannya sama seperti nelayan Bugis di dekat Pantai Bukit Berahu, mereka tidak melaut mencari ikan karena bulan sedang purnama.

Mereka melambaikan tangan kepada saya ketika akan berangkat, lalu mendorong perahunya ke lautan.  Layarpun terkembang tertiup angin dan membawa mereka melaju semakin jauh meninggalkan saya.  Ahhh….kalau saja saya belum membeli tiket pulang, saya akan ikut berlayar dengan mereka.

Jangan lupa pula mampir di kedai mie Belitong di Simpang Patung di Kota Tanjong Pandan, dan ikan gangan kuah kuning di Manggar.

———————————-00000———————————–

Thanks to para gerombolan : Fitri, Kurnia N, Ririn, Yani