Aceh : Rahasia dari Pulau Bunta

Wisata Aceh… kalau kita mencari informasi tentang hal ini, pasti yang muncul adalah tentang Tugu Nol Km di Pulau Weh, snorkling dan diving di sekitar Pulau Rubiah, wisata tsunami, dan Pantai Lampuuk dengan sunsetnya dan ombak besarnya. Beruntung saya dipertemukan dengan Pulau Bunta ini, kalau tidak, pasti perjalanan saya tidak akan seberkesan seperti yang saya rasakan sekarang J

============================

Feb-2011

Pulau Bunta dikenalkan oleh seorang kawan di millist Indobackpacker , yang sampai hari ini pun saya belum bertemu secara langsung dengannya.   Ia merekomendasikan sebuah acara yang dikelola oleh sekelompok pencinta fotografi di Banda Aceh.  Terimakasih Jeng Chusnul Chotimah karena telah menjembatani pertemuan dan pertemanan saya dengan sekelompok orang muda yang “asyik-asyik” ini J

Sebuah perahu kayu kecil sudah terparkir didermaga kayu dekat area dermaga penyebrangan kapal ke Sabang (Pulau Weh).  Sekelompok lelaki muda yang kebanyakan adalah peng-hobby fotografi di Banda Aceh (tapi ada juga yang dari Lhokseumawe) yang dikomandani oleh Bang Hasbi Azhar, sudah berkumpul sambil ngopi-ngopi di kedai dekat dermaga.  Saya akan jadi satu-satunya peserta perempuan, dan dari luar Aceh pula.  Weewww…. siapa takuutt….!!!!

Setelah semuanya siap, kamipun berangkat..!!!  Mengarungi selat Ujong Pancu yang memisahkan tepi terbarat Pulau Sumatra dengan Pulau Batu.  Selat ini adalah “pintu” yang mempertemukan Samudra Hindia dengan Selat Malak.  Cerita-cerita mengenai keganasan Selat Ujong Pancu langsung mengalir dari Bang Jul, Bang Hasbi, dan yang lainnya.  Katanya sudah banyak perahu kecil dan kapal besar yang karam di perairan ini karena arusnya yang bisa tiba-tiba sangat ganas.  Selat itu juga memiliki sebutan “Selat Muka Memberengut” karena setiap nelayan/pelaut yang melewati selat ini, akan berkonsentrasi penuh untuk mengamati dan mengantisipasi arus laut, hingga mukanya tampak memberengut.  Beruntung sekali, saat itu kami tidak harus “memberengut” walaupun memang takut dan was-was, tapi rupanya Samudra Hindia dan Selat Malaka sedang “akur”, arusnya tidak terlalu bergelora.

Satu jam kemudian kami mendarat di pantai Pulau Bunta yang dermaganya sudah porak poranda akibat tsunami, terpaksa kami harus mencemplungkan diri ke laut.  Barang-barang bawaan dijunjung diatas kepala dan diangkat tinggi-tinggi supaya tidak terkena air.  Saya sedang tidak ingin “beremansipasi” waktu itu, jadi saya serahkan urusan angkat mengangkat barang itu pada para cowok J

Bagian pantai tempat kami mendarat, penuh dengan batu-batu, ke sebelah timurnya membentang pantai berpasir putih yang menyilaukan.  Terdapat beberapa rumah bantuan pasca tsunami untuk penduduk yang masih tersisa yang tidak banyak jumlahnya.  Kami menyewa salah satu rumah panggung tersebut, tak ada toilet, tak ada listrik, tak ada apa-apa.  Jalan tembok membentang menghubungkan rumah-rumah yang cuma beberapa itu.  Sumber air bersih bisa diperoleh di satu sumur yang letaknya beberapa puluh meter dari rumah sewaan kami, untuk mandi juga disitu.

Begitu sampai rumah sewaan, kami sudah sibuk mempersiapkan makan siang yang sangat terlambat.  Sedianya Bang Hasbi sudah menyewa 1 orang ibu-ibu penduduk situ untuk memasakan makanan, akan tetapi tiba-tiba si ibu harus pergi ke “darat” karena ada saudaranya yang sakit.  Jadi, mau tak mau kami harus memasak sendiri.  Para cowok itu lumayan cekatan memasak, walaupun terjadi kehebohan sewaktu cabe-cabe yang sedang digoreng meledak-meledak dan mencipratkan minyak panas kemana-mana, karena lupa tidak disayat dulu.

Saya membantu sebisanya, karena sebagai satu-satunya perempuan, malu kan kalau tidak membantu masak, walaupun saya sendiri bisa dikatakan “tidak bisa masak”.  Saya jadi tukang membuat sambal, tapi sewaktu mau beraksi, baru sadar kalau ulekannya ketinggalan, jadi salah satu dari kami “berburu” ulekan di pantai, berupa batok kelapa dan batu lonjong yang sudah super bersih karena dicuci lautan setiap hari, ahh… apapun boleh lahh.  Sambelnya lumayan “mengesankan” katanya.

Menjelang sore, kami berbondong-bondong menyusuri jalan setapak di pinggir pantai ke arah barat.  Trekking menanjak di lereng bukit yang langsung berbatasan dengan laut.  Bertemu dengan babi hutan yang lagi asyik mencari makan di pantai berbatu.  Lalu terus menanjak menerobos hutan yang cukup rimbun.  Sesekali berpapasan dengan nelayan yang akan memancing ataupun yang baru pulang memancing.

Sekeluarnya dari hutan, terbentanglah pemandangan spektakuler diujung barat pulau dekat bekas mercusuar dan puing-puing rumah penjaga mercusuar.  Hamparan rerumputan hijau seperti permadani yang dihamparkan guna menyambut para pengunjung pulau, berbatasan dengan birunya lautan.  Jauh di tengah laut terlihat pulau karang.  Pohon-pohon palem laut menghiasi taman ini, dan ceruk-ceruk gua ditebing yang terkikis gelombang seperti diukir oleh para arsitek ulung, batu-batu berpermukaan halus beraneka bentuk dan warna terhampar di lantai ceruk.  Membuat kami semua tercengang kagum, kecuali Bang Hasbi dan Bang Jul yang sudah pernah ke sini sebelumnya, dan sedang berpuas-puas diri melihat kami-kami yang sedang ternganga kagum melihat rahasia keindahan Pulau Bunta.

Ternyata bukan itu saja kejutannya, tebing-tebing curam yang sangat dalam di tepi selatan, menakjubkan dan sekaligus mengerikan.  Entah serusak apa tubuh kami jika tidak hati-hati dan tergelincir jatuh ke bawah tebing, kearah batu-batu karang runcing dan ombak ganas Samudra Hindia.  Dua teman kami, yang hobby memancing dengan antusias mengikuti 2 nelayan yang juga akan memancing, tapi kehilangan jejaknya dan tau-tau suaranya sudah terdengar dari bawah tebing sana.  Saya tadinya mau ikut juga turun ke bawah tebing, tapi mengurungkan niat dan memilih menunggu sunset diatas.  Sunset yang luar biasa dan layak ditunggu.   Yang membuat pahatan-pahatan ombak di tebing karang menjadi berpendar dengan warna keemasan.

KISAH SI ANAK HILANG

Waktu berlalu tidak terasa karena kami sibuk berfoto-foto mengabadikan apasaja, senjapun menjadi gelap, hanya tinggal sisa-sisa bias yang masih mampu menerangi tanah yang akan dipijak.  Sudah saatnya untuk kembali, tapi kedua teman kami yang sedang memancing dibawah tebing, belum naik juga walaupun sudah kami teriaki.  Suara kami pastilah kalah dengan debur ombak.  Cukup menegangkan juga saat-saat ketika kami menunggu diatas tebing yang sekarang sudah gelap total, tak berani kami beranjak jauh-jauh, takut terlalu ke pinggir dan menghilang di kegelapan lautan dibawah sana.

Kadang-kadang kami bisa melihat sekilas-sekilas sinar lampu senter, yang lalu kami teriaki supaya mereka tau arah, tapi mereka tidak juga datang, bahkan 2 diantara kami pergi menyusulnya tapi pulang dengan tangan hampa.   Lalu bertambah khawatir karena sempat melihat sekilas sinar lampu senter yang terus menjauhi arah kami, bahkan lalu menghilang.

Kami menunggu dan terus menunggu dengan khawatir, tanpa makanan secuilpun, tak juga air minum, semua bekal masing-masing yang memang tidak membawa banyak, sudah habis tak bersisa.   Untunglah awan-awan gelap yang tadi sempat membuat khawatir akan turunnya hujan, sudah pergi dari langit.  Bintang-bintang mulai bermunculan, dan di laut lampu-lampu petromax dari perahu nelayan terlihat disana sini.

Tapi lalu sebuah teriakan lamat-lamat dan secercah sinar lampu senter yang lemah, memperbesar harapan kami.  Segera saja Bang Hasbi dan seorang kawan lainnya menyongsong arah datangnya suara dan sinar lampu, yang lain tetap menunggu ditempat semula karena keterbatasan lampu senter.  Syukurlah, akhirnya mereka muncul, tak ada yang terluka serius hanya kehausan, dan kelaparan serta kecapean luar biasa.  Rupanya memang mereka sempat salah jalan, makanya sempat kami lihat sinar lampu senternya menjauh.  Mereka kehilangan salah satu lampu senter, dan sendal jepit mereka ada yg putus, jadi makin memperlambat perjalanan. Tapi syukurlah, akhirnya kami bisa berkumpul lagi semuanya.

Bintang-bintang di langit menemani perjalanan kami, kembali menyusuri jalan setapak di lereng tebing di pinggir pulau.  Berselang seling antara yang membawa senter dengan yang tidak.  Beberapa kali dikagetkan bunyi krosakan belukar yang diterjang babi hutan yang kaget dengan keberadaan kami.  Rasanya begitu melegakan ketika sampai dilokasi tebing yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa yang seolah-olah seperti jarum pentul yang ditusukan pada sesuatu benda bundar.  Di sini kami sudah bisa menertawakan “malapetaka hilangnya” kedua teman kami tadi, karena tempat ini sudah tidak jauh lagi dari lokasi rumah-rumah.

Sudah hampir jam 10 malam ketika akhirnya kami sampai di rumah sewaan, sangat kelelahan, tapi kami masih harus mempersiapkan makan malam yang sangat telat, memanaskan sisa makanan tadi siang untuk supaya tidak harus tidur dengan menahan lapar.

Saya tidur pulas sekali di dalam sleeping bag yang digelar diatas lantai papan kayu di salah satu kamar yang saya tempati sendiri, walupun tadinya ingin berbaring diluar, diatas pasir pantai, dibawah bintang-bintang.

OMBAK SI MUKA MEMBERENGUT

Paginya diisi dengan hunting sunrise di timur pulau dan sedikit bermain air, lalu kembali menjadi pembuat sambel yang “numero uno !!” kata teman-teman yang lain.  Saya sendiri terpikat oseng-oseng ikan yang diberi bumbu khas Aceh yang berupa belimbing wuluh kering, lupa saya namanya apa, tapi rasanya enak sekali.

Perahu penjemput kami akhirnya tiba menjelang tengah hari, ukurannya bahkan lebih kecil lagi dibandingkan dengan yang kami pakai kemarin sewaktu berangkat, tangan kita bisa dengan mudah menjangkau air laut di sekeliling perahu.  Kami diperingatkan tukang perahu untuk memakai jaket pelampung dan memasukan backpack-backpack dan barang-barang lainnya ke dalam kantung plastik, karena katanya kalau siang arusnya kencang.

Perjalanan awal memasuki Selat Ujong Pancu, peringatan tukang perahu itu masih seperti mengada-ada, ombaknya masih seperti kemarin, jadi saya belum memakai jaket pelampung, yang malah saya pakai sebagai sandaran di dinding perahu, lalu tertidur nikmat diayun gelombang.  Lalu terbangun karena merasakan siraman air, ternyata pecahan ombak yang diterjang laju perahu.  Saya cuma membuka mata sebentar, membetulkan tutup kepala jas hujan yang saya pakai, dan kembali meringkuk karena masih ngantuk.  Tapi siraman air laut terasa semakin sering, membuat saya bangun sepenuhnya dan sadar bahwa ombak tidak lagi jinak, perahu kami terangguk-angguk turun naik puncak ombak.  Bang Hasbi menyuruh saya untuk segera memakai jacket pelampung, ternyata yang lainnya sudah memakainya, dan semuanya sudah basah kuyup terguyur cipratan ombak yang kebanyakan datang dari arah samping kiri, maka sayapun pindah ke sisi kanan supaya tidak terlalu basah kuyup walaupun sudah sangat terlambat.

Kami berpegang erat-erat pada tepian perahu yang melambung lalu terhempas berulang-ulang.  Untung saja saat itu kondisi badan saya sedang lumayan fit jadi tidak masuk angin ataupun mabuk laut.  Malah bisa dibilang saya “menikmati” setiap lambungan dan hempasan perahu.  Ombak tak juga menjinak kendatipun kota Banda Aceh sudah tampak.  Kami baru merasa lega ketika perahu sudah memasuki perairan yang ada diantara bantaran pemecah ombak.  Dan merasa benar-benar lega ketika akhirnya perahu kami berhasil tertambat di dermaga.  Daratan berasa oleng ketika saya menginjaknya, padahal keseimbangan otak saya lah yang masih terpengaruh ombak lautan.

Sebenarnya masih banyak pulau-pulau lain di dekat-dekat Pulau Bunta, seperti Pulau Batu, Pulau Nasi, Pulau Bereuh, Pulau Keureusik, dll, yang tentu saja, bagi saya, sangat menarik untuk dijelajahi.  Tapi sayangnya belum ada kesempatan untuk saat ini.

===================================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/aceh-rahasia-dari-pulau-bunta/   Oleh : Dian Sundari

Aceh : Tsunami, Cafe Ber-free-wifi, dan kopi

Saya senang menyebut kata Nusantara untuk negara kepulauan ini. Dan saya bangga karena sudah berhasil ke batas terbaratnya di Pulau Weh.

=========================

04-11 Feb 2011

Kuteraja

Tidak seperti ketika akan berangkat bertualang ke tempat-tempat lain, terutama tentang pakaian, yang biasanya cukup dengan kaos oblong, celana pendek, dan celana kargo panjang, ketika akan ke Aceh ini saya berasa akan pergi menginap di pesantren (walaupun belum pernah merasakannya).  Itu karena informasi mengenai ketatnya pelaksanaan Hukum Syariat Islam di sana.  Jadi untuk menghormatinya, maka walaupun saya bukan seorang muslim yang taat, minimal saya harus menghormati hukum adat tuan rumah.  Mudah-mudahan bisa ketularan taat  ^_^

Saya merasa sangat beruntung selama di Kuteraja Banda Aceh karena bertemu dengan banyak dewa penolong yang memanjakan saya.  Mengantar-antar saya berkeliling Kuteraja yang ternyata membuat saya tercengang-cengang dengan “kemodernan” dan keteraturannya.

Kota ini bersih dan teratur, sungainya yang membelah kota juga bersih, lengkap dengan taman bunga di pinggiran kali.  Toko-toko berjejer rapi.  Supermarket dan mall juga ada disana-sini.  Terminal labi-labi nya (angkot) juga cukup bersih dan tertib.  Labi-labi nya lucu, seperti angkutan pedesaan jaman dulu di Jawa, kalau mau turun, kita harus memencet bel.

Ada banyak sekali becak bermotor, yang tempat duduk penumpangnya ada di pinggir pengemudi.  Tidak ada ojek sepeda motor, mungkin karena Hukum Syariat Islam nya melarang wanita berboncengan dengan yang bukan muhrimnya (suami atau saudara/famili laki-laki).

Kota ini sudah bangkit sepenuhnya dari bencana tsunami yang dahsyat di tahun 2004 lalu itu sepertinya.  Bencana itu sekarang sudah jadi komoditas wisata andalan Kuteraja.  Wisata Tsunami, dengan beberapa obyek wisata seperti Kapal PLTU Apung yang terdampar di tengah pemukiman, kapal nelayan yang bertengger di atap rumah, musium tsunami, serta kuburan-kuburan massal untuk ribuan korban tsunami  Foto-foto mayat korban tsunami yang sudah tidak utuh dan sudah menggembung busuk di pinggiran pantai, terpajang begitu saja di musium yang ada di dekat tempat terdamparnya kapal PLTU Apung.  Terpampang begitu saja untuk semua pengunjung, termasuk anak-anak kecil.  Warung-warung seafood dan jagung bakar berjejer diseberang kuburan massal.  Obrolan-obrolan tentang kedahsyatan bencana tsunami diperbincangkan dengan “ringan” sekarang, sambil menikmati jagung bakar dikala sunset di tepi pantai, atau dikala ngopi-ngopi di cafe-cafe ber-wifi.

Nah, itu dia, cafe-cafe ber-wifi, satu lagi hal yang membuat saya tercengang-cengang.  Cafe-cafe itu menjamur diseantero Kuteraja.  Dan pagi-siang-malam, cafe-cafe itu penuh dengan pengunjung, laki-laki dan perempuan, dari mulai remaja ABG pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, PNS, pekerja LSM, bos-bos, semuanya bersosialisasi di cafe-cafe.  Bukan cuma sekedar untuk ngopi-ngopi, tapi juga sebagai tempat untuk mengerjakan PR misalnya, belajar bersama lah, pacaran, pertemuan bisnis, diskusi, sekedar ngobrol-ngobrol, berdiskusi, nonton bareng pertandingan sepak bola, atau sekedar chating-chatinng YM-an, Fban, Tweeter-an memanfaatkan fasilitas free-wifi nya.

Sedikitnya saya sempat diajak mampir di 5 cafe berbeda selama disana, termasuk ke Kedai Kopi Solong yang tertua dan paling terkenal dikalangan wisatawan.  Mencoba kopi tariknya yang benar-benar pahit, mencicipi “sanger” (kopi dengan susu sedikit), dan kopi susu (kopi dengan susu banyak).  Mencoba kue-kue nya, dan tidak lupa pula mencicipi mie Razalie dengan kepiting yang sangat enak itu.

Saya tidak merasakan ketatnya pelaksanaan Hukum Syariat Islam selama disana.  Perempuan-perempuan muslim di sana memang hampir semuanya berjilbab, tapi sekarang sudah lazim dijumpai perempuan-perempuan di tempat umum seperti cafe bahkan hingga larut malam.  Tidak ada jam malam, seperti yang saya baca dibeberapa website.  Pelaksanaan Hukum Syariat Islam masih terasa di sekitar Mesjid Agung Baitul Rahman.  Dengan corong pengeras suara portable nya, satpam mesjid akan menyuruh siapapun yang berkeliaran di halaman dan sekitar mesjid untuk shalat jika kedapatan terdapat disana pada jam-jam shalat.

Polisi Syariat juga akan berpatroli di sepanjang pantai-pantai Kuteraja, men-sweeping pasangan-pasangan bukan muhrim yang kadang-kadang berpacaran disana.  Mereka akan berkeliling diatas mobil bak terbuka seperti Petugas Tantrib di Jakarta yang mengusiri pedagang kaki lima dan pengemis dari jalanan.

Selain kopi, kain tenun songket Aceh juga menjadi komoditi yang dicari.  Saya beruntung karena sempat mengunjungi kampung sentra pengrajin tenun songket khas Aceh, yang jumlahnya kian hari kian menurun.  Di daerah pinggiran Kuteraja, masih bisa dijumpai rumah adat Aceh yang berupa rumah panggung kayu dengan ornamen-ornamen khasnya itu.  Yang paling gampang, Anda bisa menjumpainya di daerah Lamno, rumahnya Tjut Nya Dien (Sang Pahlawan Wanita dari Aceh), dan sekarang sudah dijadikan musium.

Di Pantai Lhok Ngaa, saya mendapatkan pemandangan sunset yang spektakuler, disela-sela cerita tentang bencana tsunami yang meluluh-lantakan bangunan pabrik semen Andalas yang ada di seberang jalan di tepi pantai itu.  Katanya, 2 kapal super besar besar pengangkut batubara dan bahan baku pembuatan semen, terangkat ombak tsunami dan jatuh menimpa bangunan pabrik.  Di Lamno, juga ada resort wisata cantik dibibir tebing.

Lebih ke timur dari Lamno, ada Puncak Gerute, dengan jalannya yang meliuk-liuk di pinggang bukit yang berbatasan dengan samudra luas.  Di sana juga ada bukti kedahsyatan bencana tsunami berupa terpisahnya sebuah daratan menjadi pulau tersendiri, lepas dari induknya, Pulau Sumatra.  Kampung-kampung yang dulunya ada di area itu, tersapu bersih ke lautan.

Lebih ke timur lagi dari Puncak Gerute, ada Lampuuk yang juga menyisakan bukti tsunami berupa sisa-sisa bangunan jembatan.  Rumah-rumah bantuan pasca tsunami dari berbagai pihak, dibangun di sana-sini.

Pulau Weh

Perjalanan dengan kapal ferry lambat memakan waktu kira-kira 1,5 jam dari Pelabuhan Ulee Leu di Banda Aceh ke Pelabuhan Sabang di Pulau Weh.

Pulau ini menjadi sangat penting bagi Nusantara.  Di sana terdapat titik nol kilometernya negri ini.  Walau penting dan dibanggakan, tapi seperti biasanya, monumen ini tampak tidak terurus.  Kejahilan pengunjung terlihat disana-sini berupa coretan-coretan di dinding, bahkan di prasasti Nol Kilometer, juga sampah-sampah yang berserakan.  Waktu saya kesana, tidak ada penjaga bahkan warungpun kosong melompong.  Hanya ada sekelompok monyet-monyet yang menunggu makanan gratisan.  Sangar-sangar juga ternyata monyet-monyet itu.  Saya yang sedang asyik memotret-motret mereka hampir diserang monyet paling besar diantara gerombolan itu.

Memang lokasi monumen itu terdapat di area hutan lindung yang cukup rimbun dan gelap.  Kadang-kadang babi hutan lari memotong jalan.  Cukup jauh juga jaraknya dari Kota Sabang, kira-kira 2,5 jam.

Saya menginap 2 malam di Pantai Iboih, sebuah lokasi wisata di dekat Pulau Rubiah.  Lokasi wisata snorkling dan diving favorit di Aceh. Iboih ini penuh dengan wisatawan asing.  Mereka menginap berminggu-minggu disana, menikmati wisata diving.

Saya menemukan dua orang teman baru disana, lumayan untuk patungan biaya sewa perahu keliling Pulau Rubiah.  Perahunya dilengkapi kaca untuk mengintip ke bawah laut.  Anemon-anemon cantik dan penghuninya, si clown fish, terlihat di beberapa tempat.  Snorkling di spot yang ditunjukan tukang perahu tidak terlalu memuaskan.  Koral-koralnya sudah mati dan terkena dampak “coral bleaching” akibat tingginya suhu air laut, tapi ikan-ikannya lumayan banyak.

Dibawah dermaga Iboih, koral-koral muda yang sedang berjuang tumbuh terlihat disana-sini.  Warga dan penggiat wisata bahari serta pencinta konservasi laut, sedang bahu membahu mengembalikan keindahan koral-koral terumbu karang di Pulau Rubiah yang hancur akibat tsunami dan pemanasan global.

=========0000=========

Terimakasih kepada teman-teman di Aceh : Chusnul Chotimah, Bang Hasbi Azhar, Bang Udi Djamil, Anen, Yanti, Kak Nur, Kang Rudi, Bang Jul, Bang Zacky, dll yang sudah memanjakan saya selama di sana.

Dan juga kepada teman-teman baru yang bertemu di Pulau Weh : Bang Ami, Tika dan  Abdan

 ============

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/aceh-tsunami-cafe-ber-free-wifi-dan-kopi/   Oleh : Dian Sundari