PULAU BANGKA : DARI PANTAI KE PANTAI

Berkat panduan luar biasa dari teman-teman baru kami di Pulau Bangka (Pak Paulus, Yusuf, and Nia), kami bisa puas ngubek-ngubek Pulau Bangka, mengagumi kelenteng-kelenteng, vihara-vihara, hingga kampung Tionghoa kuno, menyaksikan gegap gempitanya Acara Capgomeh, dan menyusuri pantai-pantainya yang bersih dan indah-indah…

26 Feb – 1 Mar 2010

Pantai Pasir Padi ( Pangkal Pinang)

Senja pertamadi Pulau Bangka, kami habiskan di Pantai Pasir Padi di kota Pangkal Pinang. Di pantai ini terdapat resort dan warung-warung makan traditional. Pantai ini sangat landai hingga jauh ke tengah, membentang dari utara ke selatan sepanjang kira-kira 300 meteran. Pasir putihnya yang lembut dan padat sangat nyaman untuk berjalan kaki, bahkan untuk dilalui kendaraan sekalipun, baik motor maupun mobil. Pengunjung tampak cukup ramai senja itu. Beberapa anak muda kota ini sedang beradu nyali balapan motor di atas pasir pantai. Suara motor mereka meraung-raung di seantero pantai.

@ Pantai Pasir Padi  (Foto oleh : Fitri)

Di sini terdapat Pulau Punai yang dapat dikunjungi dengan berjalan kaki ketika laut surut. Lebih jauh lagi terdapat 2 pulau, yaitu Pulau Semujur dan Pulau Panjang, kita harus menggunakan perahu untuk bisa sampai di sana.  Sayangnya kami tidak sempat berkunjung ke kedua pulau tersebut.

Namun pantai ini kurang cocok untuk dikunjungi senja hari, karena letaknya yang menghadap ke arah timur. Tapi tak mengapa, karena suasana senja ini pun cukup indah untuk dinikmati. Bulan yang sebentar lagi akan purnama sempurna tampak pucat berkilau di langit timur. Sedangkan di belahan langit barat, matahari merah keemasan mengintip disela-sela daun nyiur. Tapi tentu saja, menunggu matahari terbit di sini pastilah sangat indah.

Tidak lama kami menikmati senja di pantai ini. Setelah makan malam dengan menu masakan seafood tradisional khas Bangka, kami menuju Kota Sungailiat untuk mencari penginapan. Tapi sebelumnya kami mampir ke tempat akan dilangsungkannya Perayaan Cap Go Meh bertajuk “Imlek Ceria Bangka 2010” untuk melihat prosesi gladiresik dan mengagumi naga hijau raksasa terpanjang di Indonesia yang dihiasi kue keranjang terbanyak yang pernah ada.

 

Pantai Tanjung Penyusuk ( Belinyu)

Keesokan harinya, setelah menjelajahi Kampung Pecinan kuno Kampung Gedong. Kami pergi ke Pantai Tanjung Penyusuk di ujung utara Pulau Bangka, sekitar 6 km dari kota Kecamatan Belinyu, kira-kira 2 jam perjalanan bermobil dari Kota Sungailiat. Jalan raya Sungailiat-Belinyu ini sungguh mulus dan cukup lebar, serta tidak banyak kendaraan yang melintas. Di Kota Belinyu, kami makan siang dengan menu seafood tradisional khas Bangka yang belum pernah kami cicipi sebelumnya dan juga tempat, dimana kami membeli oleh-oleh khas Bangka yaitu kerupuk kemplang, kerupuk getas beraneka rasa, abon ikan dan terasi. Selepas Kota Belinyu, jalan menyempit, melewati hutan dan rawa.

Pantai Tanjung Penyusuk dan tetangganya, Pantai Romodong, berada di Selat Kelabat, jadi ombaknya tenang. Pantai ini sungguh indah.  Pasirnya yang putih halus tampak berkilauan cemerlang ditempa sinar matahari yang sangat terik siang ini. Bebatuan berukuran besar tampak berserakan dalam formasi yang indah di sepanjang pantai. Pantai ini cocok untuk menikmati sunset. Lautnya tampak begitu biru bening dan lumayan tenang ombaknya.  Di arah utara tampak pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Putri, Pulau Mentigi, Pulau Baku dan Pulau Lampu. Pulau-pulau ini dapat kita capai dengan menggunakan perahu nelayan.  Di Pulau Lampu terlihat sebuah mercusuar berwarna putih, tinggi menjulang ke angkasa.

Menurut informasi, diantara gugusan pulau-pulau dan pantai terdapat palung laut yang dalam, tempat hidupnya berbagai ikan hias dan terumbu karang berwarna warni, dan juga terdapat bangkai kapal karam (wreck), surga bagi para penyelam. Sayangnya kami hanya menikmati pemandangan pantai saja dari bangunan warung-warung tradisional yang saat itu sedang kosong, sambil menikmati kelapa muda . Warung-warung ini hanya buka pada hari minggu saja, pada saat pantai ini ramai dikunjungi wisatawan. Di sini juga terdapat sarana toilet umum.

 

Pantai Romodong ( Belinyu)

Puas mengagumi keindahan Pantai Tanjung Penyusuk sambil menikmati kelapa muda, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Romodong yang tidak begitu jauh jaraknya dari Pantai Tanjung Penyusuk ini. Di kiri dan kanan jalanan yang cukup sempit ini, banyak terdapat batu-batu raksasa beraneka bentuk, salah satunya menyerupai kodok raksasa. Dua buah batu raksasa tinggi besar yang mengapit jalan, seakan menjadi gerbang selamat datang yang menyambut pengunjung dan menjadi maskot bagi Pantai Romodong ini.

Garis pantainya panjang membentang. Pasirnya halus dan putih berkilauan.  Lautnya tampak tenang dan dihiasi batu-batu raksasa. Beberapa pemancing tengah asik memancing sambil berdiri di laut dangkal sepinggang orang dewasa. Pantai ini juga cocok untuk menikmati sunset.

Bangunan warung-warung sederhana yang saat ini kosong, tampak bertebaran di beberapa lokasi pantai. Sayangnya tidak ada fasilitas lainnya di sini.

 

Pantai Tanjung Pesona ( Sungailiat )

Semarak acara utama Cap Go Meh “Imlek Ceria Bangka 2010” semalam yang dipenuhi tari-tarian kolosal yang memadukan budaya Tionghoa, Melayu, dan Lombok, serta ditutup dengan pesta kembang api yang semarak, masih terbayang jelas dalam ingatan kami pagi itu. Hari ini agenda kami adalah mengunjungi pantai-pantai yang ada di Sungailiat dan beberapa tempat lainnya.

Pagi-pagi kami berangkat ke Pantai Tanjung Pesona, tapi sudah terlalu siang untuk melihat sunrise. Walaupun begitu matahari pagi yang sedang menaiki cakrawala masih menyajikan pemandangan yang indah. Di Pantai Tanjung Pesona terdapat resort dan restoran mewah. Pasir pantainya juga berwarna putih dan halus. Pantai ini juga dihiasi batu-batu besar dan air laut biru jernih yang tenang.

Tidak ada warung makan tradisional di sini. Pantai ini memang sepenuhnya diperuntukan bagi tamu-tamu resort dan restoran. Untuk sarapan, kami terpaksa harus kembali ke Kota Sungailiat, karena restoran di sini belum buka.

Tidak lupa kami mengunjungi kedai kopi terfavorit di kota ini, adanya di Pasar Atas. Kami mencoba kopi O yang menjadi ciri khas. Kedainya tampak sangat ramai pengunjung yang rata-rata adalah Bapak-bapak. Kopi O –nya memang nikmat, walaupun terlalu pahit menurut ukuran lidah saya yang bukan pengopi sejati. Cara memasaknya sangat unik, yaitu diatas tungku tanah liat dan dengan pemanas berupa arang bara api. Kopinya masih mengepul mendidih sewaktu disajikan. Untuk panganannya tersedia berbagai macam kue tradisional khas bangka.

 

Pantai Matras (Sungailiat)

Dari Pantai Tanjung Pesona, kami mengunjungi berbagai objek lain seperti Objek Pemandian Air Panas Pemali, Kuil Dewi Kwan Yin, dan Kuil Mahayana di Bukit Lubuk Kelik. Siang menuju sore kami mengunjungi Pantai Matras, “pantai sejuta umat” – nya Sungailiat.

Pantainya landai dan berpasir mutih halus.  Berbagai fasilitas wisata umum telah dibangun di sini. Warung-warung makan dan minuman sudah tertata rapi. Siang ini pengunjung cukup banyak. Kami mencari area yang lumayan sepi di bentangan pantai yang sangat panjang ini, kurang lebih 5 km panjangnya. Bebatuan besar juga menghiasi ujung selatan pantai.

 

Pantai Parai (Sungailiat)

Menurut informasi, dulu namanya adalah Pantai Tenggiri, dan sebelumnya lagi bernama Pantai Hakok.  Sekarang ini, sering disebut dengan nama Pantai Parai atau Pantai Parai Tenggiri.

Pantai ini juga sudah dijadikan resort mewah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk spa, karaoke, café, bar, kolam renang dll.  Bahkan ada pulau buatan yang diberi nama Rock Island, tempat sebuah BQ Grill & Bar berdiri dan dihubungkan dengan seruas jembatan beton yang akan berguna jika laut sedang pasang. Untuk dapat masuk ke area pantai, pengunjung harus membayar biaya  retribusi sebesar Rp.15.000. Tapi karena kami datang bersama teman kami yang dari Dinas Pariwisata Bangka, maka kami terbebas dari biaya tersebut.

Pantainya tampak sangat bersih dan indah tentu saja. Batu-batu besar kecil menghiasi pantai ini. Saat itu pengunjung cukup ramai walaupun langit sore tampak mendung gelap.

 

Pantai Tikus (Sungailiat)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Pulau Bangka, nanti siang kami akan menyebrang ke Pulau Belitung menggunakan kapal cepat. Pagi terakhir ini kami gunakan untuk mengunjungi Pantai Tikus. Pantai-pantai lain yang belum dikunjungi sebenarnya masih sangat banyak.

Jalan menuju pantai ini juga sempit seperti jalan yang menuju Pantai Rumodong dan Penyusuk. Mendaki bukit yang diatasnya terdapat bangunan Vihara yang masih jauh dari selesai. Menurut informasi, beberapa tokoh Tionghoa Bangka berencana menjadikan tempat ini sebagai Tempat Wisata Keagamaan terbesar dan terlengkap, di atas bukit ini menghadap ke laut akan didirikan 5 tempat ibadah dari 5 agama yaitu Kong Hu Cu, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam.  Tapi proyek tersebut masih tertunda entah sejak kapan dan sampai kapan.

Pemandangan ke laut lepas memang sangat menakjubkan dari atas sini. Tapi keindahan Pantai Tikus sesungguhnya menanti kita di bawah.

Dengan menuruni tebing batu yang cukup curam, kita akan disambut dengan pemandangan pantai yang menakjubkan. Bebatuan besar dalam formasi, bentuk, dan warna yang unik menghiasi pantai ini. Pasir putih halus dan bersih terhampar di lengkungan pantai. Air laut yang biru bening bebas polusi ini sangat menggoda.  Dikejauhan tampak beberapa pemancing sedang memancing diatas bebatuan. Sedikit ke tengah laut terdapat gugusan bebatuan besar dalam formasi yang unik.

 

———————————-00000———————————–

Special thanks to

: Pak Paulus, Yusuf, and Nia

Many Thanks To Para Indo-gembolaner : Fitri, Kurnia N, Ririn, Yani

Advertisements

BELITONG : PANTAI PUTIH BERBATU RAKSASA DAN LASKAR PELANGI

24/12/2011

 

 

Itulah yang menjadi ikon bagi Pulau Belitung saat ini, pantai berbatu raksasa dan Laskar Pelangi. Baligo besar di pinggir jalan pun bertuliskan salam selamat datang dengan kata-kata “SELAMAT DATANG DI NEGERI LASKAR PELANGI”. Ya, begitu besar pengaruh keterkenalan novel karya Andrea Hirata beserta filmnya itu di tanah kelahirannya ini. Sampai-sampai Pulau Belitung menyebut dirinya sebagai NEGERI LASKAR PELANGI.   Hmmmm…, dulu motonya apa ya sebelum fenomena LASKAR PELANGI ???

Awal Maret 2010

FENOMENA LASKAR PELANGI

Belahan bumi Belitong bagian Timur yang sebelumnya kurang diminati sebagai tempat tujuan wisata, kini menjadi menu andalan berbagai Biro Perjalanan, juga berkat Si Laskar Pelangi yang fenomenal ini.   Tempat-tempat yang ada dalam novel dan film Laskar Pelangi, seperti Kota kecil Gantong dan Manggar yang lebih besar, kini seakan menjadi tempat wajib untuk dikunjungi bila Anda ke Belitong.   Para pelancong ini akan sangat merasa bangga bila berhasil bertemu dengan salah satu tokoh didalam novel dan film tersebut.

Bagi saya sendiri, rasa-rasanya tidak terlalu terobsesi dengan Sang Fenomenal “Laskar Pelangi” walaupun tentu saja sangat kagum dengan karya Andrea Hirata ini.   Jadi, tidak ada salahnya juga untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut, menyambangi SD Muhammadiyah Gantong yang sekarang telah didirikan kembali di suatu area yang disebut sebagai Kompleks Wisata Laskar Pelangi seperti yang tertulis di pintu gerbangnya yang cukup megah.

Area ini cukup luas, tipenya berupa area rawa-rawa.  Tanahnya tampak berwarna putih , membuat mata silau di terik siang ini.  Suatu bangunan seperti aula yang diperuntukan bagi pengunjung untuk beristirahat, tampak sedikit terendam air rawa.

Saya juga sempat mencicipi kopi hitam yang dijajakan di warung-warung kopi di seantero Kota Gantong yang disebut-sebut sebagai “Kota Seribu Kedai Kopi”.

Hal yang membuat saya penasaran di Belitong ini sebetulnya adalah pantainya yang berpasir super putih dan dihiasi batu-batu granit super besar itu.

 

Pantai  Bukit Berahu

Pantai Bukit Berahu ini terdapat di Wilayah Belitong Barat, berjarak kurang lebih 18 km dari kota Tanjung Pandan.  Sebuah restoran berdiri megah dipuncak bukit, pemandangan yang sangat cantik terbentang dari jendela-jendelanya.  Dibagian bawah bukit terdapat kolam renang, dan sederet tangga beton yang meliuk  menurun akan membawa kita tepat ke bibir pantai berpasir putih yang rimbun.  Sederet cottage yang sangat asri terdapat di sini.

Pantainya juga dihiasi batu-batu, tapi tidak begitu besar ukurannya.  Di sebelah kiri pantai yang berbatu-batu dan berair jernih ini terdapat sebuah pulau kecil.  Di sebelah kanan pantai, agak jauh di tengah laut yang sedikit berombak saat itu, terdapat banyak perahu nelayan yang dilengkapi alat penangkap ikan yang besar, “pagan” kalau tidak salah sebutannya.  Katanya mereka adalah nelayan-nelayan Bugis yang terkenal itu, perkampungannya tidak jauh dari sini.

Kami melewatinya sewaktu akan menuju Pantai Kelayang.  Rumahnya banyak yang masih terbuat dari kayu dan bertiang tinggi, menghindari air laut yang naik ketika pasang tiba.  Ukuran pintu rumahnya kecil-kecil bila dibandingkan pintu-pintu di rumah kebanyakan, hanya sedikit lebih besar daripada ukuran jendelanya.  Serupa dengan rumah-rumah nelayan Bugis yang ada di Kepulauan Kangean – Madura Timur.  Menurut ibu-ibu yang sedang menobrol di belakang sebuah rumah, hari itu para nelayan di sini tidak banyak yang pergi melaut, karena bulan sedang tinggi purnama, air laut akan pasang dan berombak, tidak akan banyak ikan yang didapat biasanya.

 

Pantai Tanjung Tinggi

Saya sudah takjub melihat batu-batu super besar yang ada di pantai-pantai Pulau Bangka, tapi di Pantai Tanjung Tinggi ini batu yang besarnya saya kagumi tadi ternyata ukurannya tidak seberapa.  Yang ada di sini bukan main besarnya.  Entah darimana datangnya batu-batu super besar ini.  Saya jadi teringat makam-makam batu yang ada di Tanah Tana Toraja – Sulawesi Selatan sana, seandainya batu-batu raksasa ini ada di sana, pasti sudah dipahat, dibolongi dan dijadikan makam keluarga-keluarga.

Ingin rasanya memanjat menaiki batu-batu tinggi menjulang  tersebut dan melihat pemandangan ke arah lautan yang tentu akan sangat menakjubkan.  Tapi tampaknya tak mungkin dilakukan tanpa alat bantu memadai.  Mungkin seharusnya dibuat semacam tangga atau apa supaya pengunjung bisa naik ke atas sana.

Pantai ini berbentuk teluk kecil.  Pasirnya sungguh putih, walaupun saat itu banyak dikotori oleh semacam daun-daunan berwarna coklat kehitaman.  Air lautnya sendiri begitu bening, ombaknya hanya berupa riak-riak kecil.

Plang penanda bahwa tempat ini telah dijadikan sebagai salah satu tempat syuting film Laskar Pelangi dan sekuelnya “Sang Pemimpi” terpasang di pinggir pantai di 2 lokasi terpisah.  Di sini terdapat cukup banyak warung makan seafood.  Dekat dari sini terdapat Resort Lor Inn yang katanya milik Tomy Soeharto , si Anak Emas rezim terdahulu.

 

Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas, Pulau Burung, dan Pulau Babi

Berjarak kurang lebih 25 km dari kota Tanjung Pandan.  Pasirnya juga putih dan dihiasi bebatuan granit di tepi baratnya.  Perahu-perahu tampak di tambatkan di tepi pantai.  Perahu-perahu nelayan itu biasanya disewakan kepada wisatawan yang ingin mengunjungi pulau kecil, seperti Pulau Lengkuas yang bermercusuar, Pulau Burung, Pulau Babi, dan pulau-pulau lainnya.  Di sini terdapat restoran dan penginapan/cottage.

Kami sudah menyewa sebuah perahu bermotor dari salah seorang nelayan untuk menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar sini dan ber-snorkel .  Bekal makanan dan minuman selama di pulau telah dibeli tadi di Pantai Tanjung Tinggi tadi.  Jaket pelampung dan alat snorkling sudah disewa.   Semuanya sudah siap berperahu menuju Pulau Lengkuas yang berjarak kurang lebih 3 mil laut dari Pantai Tanjung Kelayang.  Melewati sebuah pulau kecil yang berhiaskan gugusan bebatuan yang membentuk formasi seperti seekor burung, sehingga dinamakan sebagai Pulau Burung.

Semakin ke tengah, ombak terasa semakin besar mengombang ambingkan perahu.  Kami berpapasan dengan seorang nelayan yang sedang asik memancing diatas perahunya yang kecil.  Dia tampak seperti sedang main jungkat jungkit akibat perahu kecilnya yang diayun ambingkan gelombang cukup tinggi ini.  Tapi tampaknya dia tenang saja dan melambaikan tangan sambil tersenyum kepada kami semua.  Seringkali gelombang yang cukup tinggi melambungkan perahu ke atas lalu menghempaskannya seketika, disambung lagi menerjang gelombang dihadapan, membuat air laut muncrat memasuki perahu.  Saya dan teman-teman yang sudah sering main-main di lautan berombak, berteriak-teriak seru setiap kali perahu naik dan terhempas gelombang.  Pak Sayuti, sopir mobil sewaan kami, memeluk erat-erat gabus putih berukuran sebesar bola sepak dengan tangan kanan karena beliau tidak kebagian jaket pelampung, sedangkan tangan kirinya berpegang erat-erat pada tiang perahu.  Pasti beliau sangat ketakutan waktu itu, karena kemudian setelah sampai di pulau, beliau mengaku tidak bisa berenang.

Satu jam kemudian kami sampai di Pulau Lengkuas, lumayan lama karena posisi kami yang melawan arus gelombang.  Pulau ini sangat cantik.  Laut dangkal mengelilingi pantai-pantainya yang berpasir putih dan berhiaskan batu-batu.  Ditengah pulau terdapat bangunan kompleks mercusuar terbuat dari tembok dan ditengah kompleks tersebut menjulanglah sebuah bangunan mercusuar setinggi kurang lebih 30 m yang sudah berdiri sejak tahun 1882 dan masih berfungsi hingga sekarang.

Dibawah pohon-pohon yang rindang di tepi pantai, terdapat bangku-bangku dan meja kayu untuk beristirahat, lokasi yang tepat untuk membuka bekal makan siang.   Laut yang jernih, dari tadi telah membuat kami tidak sabar ingin ber-snorkling.  Tapi tidak banyak terumbu karang hidup yang kami temukan, kebanyakan sudah mati dan berwarna coklat, mungkin karena bukan spot andalan.  Untung saja sempat terhibur oleh ikan-ikan Clownfish berwarna merah berkelir putih yang tengah sibuk menjaga sarang anemon-nya.  Beberapa angle fish juga kami jumpai di sana dan banyak lagi ikan-ikan lainnya yang tidak kami tahu namanya.  Bintang laut berwarna serupa pasir, merah dan biru juga banyak kami jumpai.

Satu hal lagi yang membuat kami penasaran yaitu pemandangan apa yang ditawarkan dari puncak mercusur.  Dengan seijin petugas penjaga mercusuar, kami memasuki kompleks menara, disambut dengan bangunan-bangunan tembok bersekat sekat mirip kamar-kamar, sekilas seperti kamar penjara, berderet-deret mengelilingi mercusuar.  Pintu mercusuar yang berada di ujung satunya ditutup oleh gerbang jeruji besi yang sudah karatan, tapi tidak terkunci.

Sedikit merinding sewaktu pertama kali menginjakkan kaki ke dalam dasar menara yang gelap dan dingin.  Terdapat jeruji besi mirip jeruji penjara membelah diameter menara.  Tangga terbuat dari besi berkarat  terdapat didinding kiri, naik hingga ke lantai diatasnya.   Ditengah bangunan menara utama, terdapat bangunan serupa menara yang ukurannya jauh lebih kecil dan tidak bersekat-sekat seperti bangunan induknya.  Seutas tali tambang besar tampak menjuntai dari ujung teratas menara yang terlihat sebagai sebuah lubang terang diatas sana.

Kami menaiki jenjang-jenjang anak tangga besi ini lantai demi lantai, dan melongok ke jendela beberapa kali, menikmati pemandangan seputar Pulau Lengkuas.   Perahu kami tampak sangat kecil, ditambatkan di pantai berpasir putih yang melengkung.  Jaket-jaket pelampung diatas hidung perahu tampak seperti hiasan warna-warni.  Di bagian pulau sebelah barat tampak segerumbulan pepohonan hijau , banyak burung-burung bertenggeran di sana.  Nyanyiannya terdengar bersahutan.

Di bagian teratas menara, ternyata pemandangannya tidak begitu leluasa, karena sekeliling sisinya ditutupi oleh kaca.  Kami lebih memilih untuk turun satu lantai yang pemandangannya lebih leluasa.  Di lantai ini ada sebuah pintu ke arah teras menara yang dipagari besi.  Angin laut berhembus kencang dari arah timur laut.  Hati sedikit ngeri sewaktu melihat ke bawah.  Teman kami yang tidak ikut naik tampak sangat kecil sekali.  Pemandangan sunset dari sini, pastilah sangat luar biasa.  Tapi sunset masih lama, sedangkan kami masih berniat mengunjungi tempat-tempat lainnya , seperti Pulau Babi dan Pulau Burung.

Kami mendarat di Pulau Babi Kecil, batu-batu besar menghiasi sebagian besar pulau.  Pulau besar yang disebelahnya itu, bernama Pulau Babi Besar tapi kami tidak pergi ke sana karena hari semakin sore dan langit mendung.  Kami hanya bermain di atas batu besar di bagian sebelah barat.  Katanya laut sini ombaknya semakin sore semakin besar, jadi kami segera berperahu pulang kembali ke Pantai Tanjung Kelayang.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena mengikuti arus, dan ternyata gelombangnya tidak setinggi tadi ketika berangkat.  Di tengah-tengah perjalanan, kami dihadiahi dengan seberkas pelangi yang sangat indah.  Benar-benar Negeri Laskar Pelangi !!

 

Pantai Nyiur Melambaidan Pantai Serdang

Hari terakhir kami di Belitong digunakan untuk mengunjungi Wilayah Kabupaten Belitong Timur.  Setelah menyambangi Kota Gantong dengan Sekolah Laskar Pelangi-nya, kami menuju kota Manggar, ibukota Kabupaten Belitung Timur, untuk mengunjungi Pantai Nyiur Melambai, nah ini adalah pantai “seribu umat”-nya Pulau Belitong.

Di pantai ini banyak ditumbuhi pohon cemara, mungkin harusnya namanya adalah “Pantai Cemara Melambai”.  Di sini telah dibangun berbagai fasilitas wisata.

Tidak jauh dari Pantai Nyiur Melambai terdapat Pantai Serdang.  Jauhnya sekitar 1 km dari kota Manggar.   Ciri khasnya berupa perahu-perahu yang sangat ramping dan berwarna-warni.  Penduduk menamainya sebagai Perahu Kater.  Perahu ini mungkin rata-rata hanya bisa memuat 3 orang, dilengkapi dengan layar warna warni .

Saat itu banyak perahu Kater yang diparkir disepanjang pantai berpasir putih yang membentang hingga lebih dari 2 km itu.  Di pantai ini, bukan hanya pohon nyiur yang mendominasi, tapi juga pohon pinus.  Ombaknya cukup tenang kala itu.

Di salah satu sisi pantai tampak 2 buah perahu Kater yang sedang siap-siap berlayar.  Kedua perahunya bercat putih, tapi yang satu dipasangi layar berwarna putih dan satunya lagi berlayar biru kotak-kotak.   Yang berlayar putih diawaki oleh 2 orang pemuda dan yang berlayar biru diawaki juga oleh 2 pemuda beserta 1 orang penumpang perempuan bertopi caping bambu berbentuk kerucut.   Begitu melihat saya yang datang mendekat sambil membawa kamera saku, mereka langsung berteriak dan berpose minta di foto yang dengan senang hati saya turuti.

Rupanya mereka bukan mau pergi menangkap ikan, katanya mereka hanya akan main-main ke pulau yang ada disebelah timur pantai ini, kira-kira 1 jam berlayar dan akan pulang lagi sore harinya.   Katanya di rumah sedang tidak ada pekerjaan, mungkin alasannya sama seperti nelayan Bugis di dekat Pantai Bukit Berahu, mereka tidak melaut mencari ikan karena bulan sedang purnama.

Mereka melambaikan tangan kepada saya ketika akan berangkat, lalu mendorong perahunya ke lautan.  Layarpun terkembang tertiup angin dan membawa mereka melaju semakin jauh meninggalkan saya.  Ahhh….kalau saja saya belum membeli tiket pulang, saya akan ikut berlayar dengan mereka.

Jangan lupa pula mampir di kedai mie Belitong di Simpang Patung di Kota Tanjong Pandan, dan ikan gangan kuah kuning di Manggar.

———————————-00000———————————–

Thanks to para gerombolan : Fitri, Kurnia N, Ririn, Yani