Krakatau : Bolat vs Bonung

Gunung Krakatau telah menarik minat petualangan saya sejak lama, karena riwayat sejarahnya yang luar biasa, yang telah memusnahkan suatu peradaban Atlantis (katanya), yang debu letusannya sampai ke benua Eropa, yang juga telah membuat Jawa dan Sumatra terpisah. Kesempatan pertama datang pada September 2007, nekat menyebrang dari Pantai Carita (Anyer, Banten) menggunakan speedboat fiber double engine yang melonjak-lonjak menunggangi ombak Selat Sunda yang sedang “lumayan” ganas. Kesempatan kedua datang 2 bulan kemudian, November 2007, dengan rute berebda, yaitu dari Desa Canti di Kalianda (Lampung). Kali ini lebih nekat lagi, karena saat itu sang Anak Gunung Krakatau sedang meletusss…!!!

=======================

Bolat vs Bonung

Sabtu pagi, kru kapal beserta speed boatnya sudah menunggu kami bertujuh di suatu muara sungai tempat perahu-perahu nelayan bersandar, di daerah Pantai Carita (Anyer, Banten). Semakin ke tengah, ombaknya semakin besar.  Speed boat kami terlonjak-lonjak menerjang ombak Selat Sunda.  Ombak yang terpecah menghasilkan cipratan-cipratan air yang langsung mengguyur para penumpang.  Laju speed boat yang melonjak-lonjak juga membikin perut bergolak, muka salah satu kawan saya yang memang sering mabuk laut, berubah hijau pucat.   Sementara saya duduk terkantuk-kantuk akibat minum Antimo ™, tangan saya berpegangan erat-erat ke bibir perahu.  Kami semua sudah memakai jaket pelampung.  Safety first !!!

Lagi enak-enaknya terkantuk-kantuk sambil nyender ke pegangan besi di pinggir speed boat dan sesekali terciprati pecahan ombak, tiba-tiba dibangunin teriakan teman-teman… sewaktu membuka mata, di depan sana tampak Pulau Rakata lengkap dengan anak Gunung Krakatau yang berwarna hitam dan puncaknya yang berwarna putih, sedangkan di sisi kiri dan kanan ada juga pulau-pulau lain yang rimbun ditumbuhi pepohonan tropis.

Jam 11 kami merapat di pantai pulau Rakata,  pasirnya berwarna hitam legam dan puanaaaassss…..  Membuat kami meloncat-loncat seperti anak kijang. Kami di sambut plang ucapan “Selamat Datang di Taman Wisata Gunung Anak Krakatau”, juga ada semacam display berisi sejarah letusan Krakatau beserta jenis-jenis batuan vulkanik dan flora-fauna nya, serta ada saung jagawana.

Dengan berbekal air minum, cemilan, dan kamera (tak lupa pula mengolesi lagi kulit dengan lebih banyak sun block), kami memulai trekking  mendaki Anak Gunung Krakatau.  Pasir hitam yang dulunya adalah lahar panas, sekarang juga tampak dan terasa panas membara di telapak kaki kami.

Teman-teman yang benar-benar bocah laut, kali ini benar-benar saltum (salah kostum – red).  Cowok-cowoknya rata-rata cuma  memakai kaos oblong, celana pendek, dan topi.  Alas kakinya ada yang cuma memakai sendal jepit dan ada juga yang memakai boothist yang biasa dipakai double bersama fin saat snorkling atau menyelam.  Alhasil yang pakai sendal jepit harus berkernyit-kernyit gara-gara telapak kakinya kepanasan dan tertusuk-tusuk pasir hitam krakatau yang bergerigi tajam, sampai-sampai ada yang menyerah, tidak bisa mendaki lagi.  Sendal gunung plus kaos kaki yang saya pakai cukup menghindarkan kaki saya dari derita pasir panas dan tajam itu.

Jalur yang kami lalui melulu adalah pasir hitam, semakin ke atas pepohonan pinus semakin jarang dan akhirnya tidak ada sama sekali.  Matahari memanggang dengan teriknya.  Berjalan menjadi sangat sulit, karena pasirnya selalu menelan kaki hingga mata kaki.  Berjalan mundur ternyata sangat membantu tapi harus hati-hati karena banyak bongkahan batu berwarna hitam.

Sewaktu mendaki dengan cara berjalan mundur, tampaklah pemandangan luar biasa ke laut lepas.  Di depan sana terlihat pulau yang hijau ditumbuhi tanaman tropis, di sebelah kanan juga ada pulau serupa, sedangkan nun jauh di sebelah kiri samar-samar  tampak pulau Sebesi.  Dan ketika membalik badan lagi, anak gunung krakatau yang gersang dan berwarna hitam tampak menjulang menghadang kami.  Saking panasnya, dari atas pasir hitam ini tampak seperti ada asap membentuk kaca fatamorgana.

Satu per satu kami sampai di pos 1 yang landai.  Di sini ada semacam alat pemancar satelit, katanya untuk penelitian vulcanology, pembangkit energy-nya memakai solar system, tampak berkilauan di terangi teriknya cahaya matahari.  Pemandangan ke laut lepas sangat luar biasa, kalau sore dan pagi hari pasti pemandangannya lebih luar biasa lagi.  Tak ada satu pun pepohonan tumbuh di sini.

Mengingat kami benar-benar saltum, akhirnya diputuskan pendakian hanya sampai di sini saja.  Saya yang sangat penasaran ingin mendaki sampai puncak memang merasa kecewa, tapi sadar dengan resiko jika memaksakan diri.  Kata Pak Saeful, orang yang biasa menjadi guide bagi wisatawan, dari sini  ke puncak cuma sekitar 700 meter lagi, tapi medannya sangatlah berat, bahkan kadang-kadang harus merangkak segala saking terjalnya…..

Seperti biasa kalau sehabis jalan menanjak, maka jalan menurun adalah surga.  Dan memang tidak terlalu berat.  Dengan menumpukkan berat badan di tumit yang langsung melesek dalam pasir, perjalanan turun menjadi lebih cepat dan lebih nyaman.  Cumaaa…..debunya yang ditinggalkan langkah teman yang berada di depan membuat mata pedas dan nafas sesak, apalagi kalau arah angin sedang naik.

Teman-teman yang cuma memakai sendal jepit, begitu kepayahan dengan sengatan panas dan tajamnya pasir, berjingkrang-jingkrak terburu-buru menuruni lereng menuju keteduhan pohon pinus.  Ingin rasanya langung rebahan di atas tumpukan tebal dan empuknya daun-daun pinus yang berguguran dan terhampar di bawah batang pohon.

Playing with Danger..!!!

“Yaaa…kok meletusnya kecil..:(

Itu komentar konyol, sangat konyol, dari saya yang sejak tadi siap dengan si Olly (kamera poket Ollympus milik saya), bertengger diujung perahu, menunggu-nunggu “letusan spektakuler” dari kawah Anak Gunung Krakatau yang memang sedang aktif.

Saya sadar bahwa saya sedang bermain-main dengan bahaya.  Saya juga tahu kalau saya saat ini tidak sedang melihat acara TV tentang letusan Krakatau, melainkan sedang ada disana, di zona bahaya letusan.  Tapi, anehnya rasa takut seperti hilang entah kemana, yang ada hanyalah kagum dan takjub dengan fenomena yang ada dihadapan.  Saya tidak sendiri, selusin orang teman lainnya pun terdiam takjub mengagumi fenomena dahsyat itu.

Pemandangan menakjubkan dari sang Anak Gunung Krakatau yang sedang mengepul-ngepul langsung menghilangkan semua penat dan puyeng,,, Asapnya yang berwarna putih coklat kehitaman membumbung tinggi ke langit biru…, membentuk jamur raksasa yang terus membumbung tinggi dan membesar…seperti asap hasil letusan bom atom yang ada di buku-buku… lalu angin membelokkan arah asap itu.  Sinar matahari agak terhalangi, dan butiran debunya terasa menimpa kami , untungnya cuma sedikit.  Di permukaan laut banyak terhampar debu putih yang mengalir terayun-ayun gelombang. Semakin tinggi asap itu pun bercampur dengan awan putih… Tidak tercium bau belerang…yang tercium adalah bau seperti aspal terbakar.

Perahu memutari sang Anak Gunung Krakatau hingga berada persis di depan lubang kawah, yang ternyata tidak berada persisi di puncaknya, melainkan agak melipir di punggungan gunung.  Lokasi ini dinilai aman karena tidak berada dalam arah angin asap…  Dari lokasi ini, kami bisa melihat dengan jelas sewaktu suatu letusan dimulai…, lalu batu-batu terlontar ke udara dan mendarat di lereng gunung yang gundul gersang dan hitam legam…  Batu-batu itu pecah selama menggelinding menuruni lereng…, sewaktu pecah jelas terlihat warna merah membara dari bagian dalam batu…. dan batu-batu pijar itu akan tiba dilaut…. cessss…..pijarnya musnah didinginnya air laut.

Perahu memutari Pulau Rakata lagi, kami mendarat di pantainya yang dulu sempat saya datangi itu.  Lokasi ini juga dinilai aman, karena bersebrangan dengan lokasi lereng berkawah, walaupun arah angin seringkali membawa awan panas berwarna kecoklatan tepat diatas lokasi kami, tapi tidak membahayakan.

Kami asyik memasak makan siang dan bersnorkling di situ, seolah-olah kondisi Gunung Krakatau masih dalam keadaan normal saja.  Salah satu teman yang bisa disebut sebagai perintis wisata volcano, Mas Andi Azimuth, ditemani salah seorang awak perahu, setelah memperlengkapi diri dengan safety yang memadai, memulai expedisi mendaki Sang Anak Gunung Krakatau yang sedang terbatuk-batuk, menantang bahaya demi pengalaman tak terkira….  Saya juga penasaran, tapi saya tidak seberani dia dan tidak memiliki perlengkapan safety apa-apa, serta tidak berpengalaman.

Saya bergidik ngeri sewaktu ingat cerita dari Pak Saeful waktu itu, tentang korban-korban yang terkena hamburan batu-batu pijar.

O ya, di kali kedua menyambangi Krakatau ini, kami mengambil rute penyebrangan dari Pelabuhan Canti (Kalianda, Lampung), karena lebih murah sewanya.  Perahu kayu yang kami sewa tidak dilengkapi kursi-kursi untuk penumpang, kami duduk-duduk dan tiduran di atas lantai kayu dalam lambung perahu, beralaskan tikar.  Begitu memasuki perairan dalam, ombak mulai membuat perahu oleng ke kiri ke kanan ke depan dan ke belakang… walahhh… gawat… bisa-bisa ….. Goyangan perahu semakin menggila… benar-benar seperti permainan kora-kora goyang bebasss….seperti di Dufan.. Suatu kali, perahu terangkat tinggi akibat ombak besar, dan begitu turun lagi sudah dihadang ombak besar lainnya dan seketika air laut mengguyur masuk dari arah depan mengguyur kami yang sedang tidur di lantai lambung kapal…waaaaa…..semua pun menjerit karena kaget… Lantai perahu dan tikar serta sebagian backpack teman-teman menjadi basah…

Pulangnya kami memakai rute yang sama, bermalam semalam di Pulau Sebesi.  Dan menghabiskan waktu dengan bersnorkling disana sini, walaupun tidak begitu nyaman karena arusnya yang sedang tidak tenang.

Krakatau memang menyuguhkan pengalaman petualangan yang sangat lengkap, baik bocah gunung (bonung) yang suka naik-naik ke puncak gunung, maupun bagi bocah laut (bolat) yang suka bermain-main dengan lautan untuk bersnorkling ataupun diving.

Jadi siapkan sepatu trekking terbaik Anda, juga fin, snorkling gear, diving gear juga, serta kamera pada saat akan mengunjungi Krakatau ^_^

==========

Thanks to bolat n bonung : Ridwan, Mamats, Darwin, Dee, Endro, DewiSt, Mas Andy Azimuth, Charlie, the 3 musketeer bule, Mbak Aya, Pak Saeful dan Kru perahu

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/krakatau-bolat-vs-bonung/   Oleh : Dian Sundari

Advertisements

Lagun Cabe – Krakatau (01 September 2007)

Setelah puas trekking di Krakatau, kini giliran acara snorkling. Spot yang disarankan Pak Samsul adakah Lagun Cabe. Lagun Cabe ini merupakan salah satu spot snorkell di sekitar Krakatau ini, letaknya di dekat pulau yang ada di samping Pulau Rakata, hanya beberapa menit perjalanan ber-speed boat dari Anak Gunung Krakatau.

Begitu sampai di Lagun Cabe, para bocah laut yang sudah tidak sabar, langsung menceburkan diri ke laut, lengkap dengan snorkell gear-nya masing-masing, masih baru-baru lhooo…. label harganya pun belum dicopot!!! Sedangkan gw, memutuskan untuk tiduran sebentar di perahu, enak banget dikipasi angin laut dan dinina bobok oleh ayunan perahu di atas ombak….. Sementara sang Chef Oom Ridwan sibuk memasak udang tepung goreng dan terong tepung goreng. Para awak perahu ada yang memancing dari atas perahu dan ada pula yang nyebur bersnorkell untuk menembak ikan. Lumayan…., mereka memperoleh beberapa ekor ikan yang cantik-cantik corak warnanya, duh sayang sekali…..

Si Oly amphibi gw, langsung jadi primadona, yang tujuannya buat moto ikan-ikan dan terumbu karang malah dipake buat narsis di dalam laut (seperti biasanyaaaa……). Penasaran dengan keadaan alam bawah laut yang dari teriakan-teriakan para bocah laut ikan dan terumbu karangnya bagus-bagus, gw pun menceburkan diri bergabung dengan mereka.

Dan benar saja, ikannya banyak beraneka ragam dan berwarna warni, si Nimo dan annemonnya juga ada, dan membuat Ocid sang bocah Postpone tertantang untuk menangkapnya, ehh…tapi malah tersengat sampai tanggannya kembung merah dan gatel-gatel. Arusnya cukup deras, mengombang ambing kami sampai suatu ketika terbawa ke tempat yang terlalu dangkal dan banyak terumbu karangnya, alhasil lutut, paha, dan betis baret-baret tersayat tajamnya karang, lumayan perih…. Yahhhh…itulah akibatnya kalo saltum waktu snorkell…ngga pakai wet suit dan sarung tangan, rasain sendiri dehhh….

Setelah puas ber-snorkell dan batere si Oly pun dah habis, dan perut sudah keroncongan, gw naik lagi ke perahu, ternyata di permukaan laut yang agak dalam dekat perahu, banyak sekali udang-udang halus berenang-renang, dan nakal juga nih udang kecil menyengat kulit tangan dan kaki yang langsung jadi merah-merah dan gatel.

Wahhh….wangi udang goreng tepung langsung menyambut hidung gw begitu naik ke perahu. Dan kami pun, sambil masih basah kuyup, langsung menggasak jatah makan siang kami. Sebagai makanan penutup, dihidangkanlah puding….hmmmm…..maknyossss…..adem diperut enak di mulut…. terima kasih ya Chef Ridwaaaannnn…..

Setelah makan siang dan beristirahat sebentar menurunkan makanan di perut, acara snorkell di lanjutkan lagi sampai kira-kira jam 3 sore. Selanjutnya kami berperahu lagi kembali ke Pantai Carita.

Di perjalanan pulang ini, kami harus melawan arus, dan ombaknya semakin besar. Tidak beberapa lama, seisi perahu sudah basah kuyup terciprat pecahan ombak. Terpal pelindung di samping kanan kapal pun di turunkan untuk sedikit melindungi kami dari cipratan ombak. Speed boat kami terlompat-lompat menerjang ombak yang semakin ke tengah semakin besar, teman-teman yang duduk di bagian depan berteriak-teriak setiap kali kapal menerjang ombak besar dan air laut langsung mengguyur mereka.

Sementara gw yang udah ganti baju, duduk di belakang, berusaha melindungi diri dari cipratan air laut dengan cara menyelubungi diri pake kain sarung. Sewaktu terpal terpasang di samping kapal, cara ini berhasil, tapi sewaktu terpalnya robek ngga kuat menahan hempasan ombak, selubung sarung pun jadi sia-sia karena air laut muncrat seperti hujan besar mengguyur ke dalam kapal. Akhirnya terpontang-panting gw pindah ke bagian dalam hidung kapal tempat semua tas di simpan dan aman dari cipratan ombak. Sisa perjalananpun di lewatkan dengan meringkuk seperti kucing diantara tas-tas di dalam hidung perahu, sambil ditertawakan seluruh teman-teman. Ha..ha…biarin deh kaya kucing, asal ga masuk angin!!!!

Sewaktu meringkuk di dalam hidung kapal, rasanya seperti di dalam truk yang melaju kencang di jalanan berbatu, bunyi jedak jeduk sewaktu dinding kapal menghantam ombak hingga terangkat melambung, persis kaya ban dan as roda truk yang menggilas batu gede dengan kecepatan tinggi.

Ngga lama, kapten kapal berteriak bahwa kita sudah sampai. Dan sewaktu keluar dari dalam hidung kapal dan melihat ke depan, ternyata waaaa…….benar saja kita sudah sampai di pantai Carita yang saat itu sedang penuh dengan wisatawan yang sedang menunggu sunset, orang-orang bertebaran dari ujung ke ujung. Yahhhh…..kok banyak orang begini???? Kami yang terbiasa dengan pantai yang lengang tanpa penghuni, kecewa berat dengan keadaan pantai ini. Setelah berdebat dengan Pak Samsul yang menyerankan kami untuk mendirikan tenda di pantai ini, akhirnya kami sepakat untuk trekking menuju Curug Gendang dan berkemah di sana.

Sambil menunggu Pak Samsul yang pulang dulu ke rumahnya, kami bergantian mandi di kamar mandi umum yang tersedia di situ. Busyett…airnya enak banget, bak mandinya panjang sambung menyambung dari kamar mandi satu ke yang lainnya, cuma diberi dinding pemisah kamar mandi. Jadi kami bisa mandi sambil mengobrol dan saling meminjam sabun, tanpa melihat teman kami yang juga sedang mandi telenji…hi…hi…seru….air bak mandinya jernih banget….jadi pengen nyebur dan berenang dari ujung ke ujung…..

Seusai mandi, kami berleha-leha di pantai menikmati sunset sambil direcoki para pedagang asongan dan tukang pijet serta tukang tatoo. Dan tentu saja ber-narsis-narsis lagi, dengan berbagai gaya.

To Be Continue with d story at Curug Gendang

K-r-a-k-a-t-o-a (1 September 2007)

K-r-a-k-a-t-o-a

31 Agustus – 2 September 2007

Bete gara-gara batal ke Bromo n Sempu, weekend ini gw ikutan trip Krakatau bareng-bareng Ridwan, Darwin, Mamad, Dini, dan Emyl.


Catpernya dibikin jadi trilogi nih, biar ga terlalu cape bacanya. Yang ini adalah yang pertama, yang keduanya Lagun Cabe, dan yang ketiganya Curug Gendang.


Jumat, 31 Agustus 2007

Pulang nguli, gw langsung ngojek ke tempat kost gw, ganti pakaian dan ngusung backpack. Kali ini bawaannya segambreng banget karena di ittenerary-nya ada acara camping (yang so pasti kudu bawa sleeping bag, matras, termos air panas, kain sarung, n headlamp) dan ada acara snorkling-nya juga (snorkle gear bikin bawaan tambah ribet, yasud wetsuit ga di bawa, nyeburnya pake celana pendek n kaos aza), wah selain itu ada acara trekking-nya pula ke Anak Krakatau (mutusin mo pake sendal gunung + kaos kaki aza, dan ternyata adalah keputusan yang sangat salah).

Dengan nebeng temen sekantor yang rumahnya di Tangerang, jam 20:10 gw dah nyampe di Terminal Cikokol – Tangerang, dari situ ngelanjut pake Arimbi ke Cilegon (ongkos Rp 12.000 non AC). Rencananya kami mau nginep di rumahnya Ridwan di Cilegon. Jam 22:15 sampailah di Cilegon, diinstruksikan Ridwan supaya turun depan Kantor PLN dan nunggu di RM Top Ten sampai dia jemput sepulang kerja. Sambil nunggu Ridwan, n karena laper pula belum makan dari siang tadi, gw pesen nasgor udang n udang goreng tepung, plus wedang jahe biar perut anget. Iseng2 SMS temen-temen Jakarta, ternyata mereka belum kemana-mana, masih nongkrong di Café di daerah Blok M sana, astagaaaaaa……ini dah jam 22:20, mo jam berapa mereka nyampe di sini????

Nasgor n udgor dah habis, Ridwan lom dateng-dateng jugaaa… ngantuk banget lagi…halahhh…. Jam 23:30 barulah Ridwan nongol pake motor bebek, astaga… kasian banget tuh motor bebek musti bawa-bawa beruang segede gitu tiap hari…he…he…. Nyampe rumah Ridwan, eh ternyata ada Mas Ocid orang Postpone, ngobrol dulu di teras sampe jam 12an lebih, di temenin sinar bulan yang terang benderang, hmmm…..tapi udaranya panas khas Cilegon….ah ngantuk, tidur duluan ah…

Lagi enak-enak tidur, tiba-tiba gerombolan Jakarta dateng….dan seketika rumah Ridwan jadi hebohhh…. Waaaa… bawaannya gede-gede… kecuali bawaanya Emyl yang cuma 1 daypack kecil. Ngerumpi lagi sampe entah jam berapa, kita pun akhirnya tertidur kecapean sampai pagi.

Sabtu, 1 September 2007

Setelah sarapan nasgor bikinan Mbak Aya (istrinya Ridwan), kami berangkat menuju Carita dengan mencarter angkot. Wah gile, Om Ridwan sang Chef persipan bahan makanannya bener-bener TOP. Semuanya di kemas dalam 1 buah kotak plastik besar, sampai pisau daging pun (yang lebar tipis itu) dia bawa jugaaa….

Jam 9 pagi kami sampai di Carita, di rumahnya pak Samsul eh Saeful (eh sapa sih namanya ???), beliau ini adalah guide yang biasa nganter-nganter turis (biasanya turis asing) ke Krakatau dan Ujung Kulon, dan daerah-daerah sekitarnya. Kru kapal beserta speed boatnya sudah menunggu kami sejak tadi. Dari muara sungai tempat perahu-perahu nelayan bersandar, kami pun memulai perjalanan laut kami menuju Krakatau.

Semakin ke tengah, ombaknya semakin besar. Speed boat kami terlonjak-lonjak menerjang ombak Selat Sunda. Ombak yang terpecah menghasilkan cipratan-cipratan air yang langsung mengguyur para penumpang. Laju speed boat yang melonjak-lonjak juga membikin perut bergolak, muka Emyl berubah hijau pucat karena mabok laut. Sementara gw dan Mamad terkantuk-kantuk akibat minum Antimo ™. Sementara Ridwan, Dini, Darwin dan Mas Ocid , mereka bener-bener Bocah Laut.

Lagi enak-enaknya terkantuk-kantuk sambil nyender ke pegangan besi di pinggir speed boat dan sesekali terciprati pecahan ombak, tiba-tiba dibangunin Ridwan…waktu buka mata, di depan sana tampak pulau Rakata lengkap dengan anak Gunung Krakatau yang berwarna hitam dan puncaknya yang berwarna putih, sedangkan di sisi kiri dan kanan ada juga pulau-pulau lain yang rimbun ditumbuhi pepohonan tropis. Waaaa…..indahnyaaa……

Jam 11 kami merapat di pantai pulau Rakata yang pasirnya berwarna hitam legam dan puanaaaassss…. waktu diinjek kaki telanjang. Kami di sambut plang ucapan “Selamat Datang di Taman Wisata Gunung Anak Krakatau”, di situ juga ada semacam display beris
i sejarah letusan Krakatau beserta jenis-jenis batuan vulkanik dan flora-fauna nya. Dan ada saung jagawana, tapi orangnya ga ada.

Dengan berbekal air minum, cemilan, dan kamera (tak lupa pula mengolesi lagi kulit kami dengan lebih banyak sun block), kami memulai trekking kami di siang bolong ini menuju puncak Krakatau (maunya sih…..). Pasir hitam yang dulunya adalah lahar panas, sekarang juga tampak dan terasa panas membara di telapak kaki kami.

Teman-teman yang benar-benar bocah laut, kali ini benar-benar saltum. Cowok-cowoknya rata-rata cuma memakai kaos oblong, celana pendek, dan topi. Alas kakinya ada yang cuma memakai sendal jepit (Ridwan, Emyl, Dini, Ocid) dan ada juga yang memakai wet shoes (Darwin & Mamad). Alhasil yang pakai sendal jepit harus berkernyit-kernyit gara-gara telapak kakinya kepanasan dan tertusuk-tusuk pasir hitam krakatau yang bergerigi tajam, sampai-sampai Dini menyerah tidak bisa mengikuti kami ke atas. Untungnya gw pake sendal gunung plus kaos kaki jadi ngga terlalu menderita.

Jalur yang kami lalui, melulu adalah pasir hitam, semakin ke atas pepohonan pinus semakin jarang dan akhirnya tidak ada sama sekali. Matahari memanggang kami dengan teriknya. Berjalan menjadi sangat sulit, karena pasirnya selalu menelan kaki kami hingga mata kaki. Berjalan mundur ternyata sangat membantu tapi harus hati-hati karena banyak bongkahan batu berwarna hitam. Sewaktu berjalan mundur, tampaklah pemandangan luar biasa ke laut lepas. Di depan sana terlihat pulau yang hijau ditumbuhi tanaman tropis, di sebelah kanan juga ada pulau serupa, sedangkan nun jauh di sebelah kiri samar-samar tampak pulau Sebesi. Dan ketika membalik badan lagi, anak gunung krakatau yang gersang dan berwarna hitam tampak menjulang menghadang kami. Saking panasnya, dari atas pasir hitam ini tampak seperti ada asap membentuk kaca fatamorgana.

Satu per satu kami sampai di pos 1 yang landai. Di sini ada semacam alat pemancar satelit, katanya untuk penelitian vulcanology, pembangkit energy-nya memakai solar system, tampak berkilauan di terangi teriknya cahaya matahari. Pemandangan ke laut lepas sangat luar biasa, kalau sore dan pagi hari pasti pemandangannya lebih luar biasa lagi. Tak ada satu pun pepohonan tumbuh di sini.



Mengingat kami benar-benar saltum, akhirnya diputuskan pendakian hanya sampai di sini saja, yaaaaa…….. sayang banget, padahal kata Pak Samsul ke puncak cuma sekitar 700 meter lagi (tapi medannya berat banget boooo…..ada yang musti merangkak segala saking terjalnya…..). Yahhh… yasud dengan kecewa dan dengan rasa penasaran yang membuncah, gw ikut mereka turun lagi. “Gw musti ke sini lagi dan musti naek sampai puncak” begitulah tekad gw waktu itu dan sekarang juga masih begitu, he…he….bukannya jumawa….tapi penasaran banget euy!!!!

Seperti biasa kalo sehabis jalan menanjak, maka jalan menurun adalah surga. Dan memang tidak terlalu berat. Dengan menumpukkan berat badan di tumit yang langsung melesek dalam pasir, perjalanan turun menjadi lebih cepat dan lebih nyaman. Cumaaa…..debunya yang ditinggalkan langkah teman yang berada di depan kami itu yang bikin ngga tahan, bikin mata pedes dan nafas sesek, apalagi kalo arah angin sedang naik.

Teman-teman yang cuma memakai sendal jepit, begitu kepayahan dengan sengatan panas dan tajamnya pasir. Ah…kasihan sekali mereka, sampai berjingkrang-jingkrak terburu-buru menuruni lereng menuju keteduhan pohon pinus. Dan ahhhh…..lega rasanya begitu kami mencapai daerah ber-pinus yang teduh, ingin rasanya langung rebahan di atas tumpukan tebal dan empuknya daun-daun pinus yang berguguran dan terhampar di bawah batang pohon.

Begitu sampai di pantai lagi, ternyata di situ sudah ada 3 buah tenda dan sang jagawana, yang ternyata sedang mengawal para peneliti vulcanalogy dari Perancis. Para peneliti itu tampak sedang berjalan-jalan di tepi pantai dari ujung ke ujung, kalo ngga salah ada 5 orang + 1 orang local guide cewek dan 3 orang jagawana. Setelah mengobrol sebentar dengan jagawana (dan tentu saja membayar retribusi Rp.100.000 dan mengisi buku tamu), kami melanjutkan perjalanan lagi, kali ini menuju Lagun Cabe yang merupakan salah satu spot snorkell di sekitar Krakatau ini.

To Be Continu with d story at Lagun Cabe………