Pulau Alor (NTT) : Berkenalan dengan lautnya yang berarus dan dingin

Pada hari ke-2 (17-Agst-2012) di Pulau Alor , saya berkenalan dengan arus lautnya yang kuat dan suhu air yang sangat dingin.

Sudah hampir tengah hari ketika saya dan teman-teman berkumpul di Dermaga Desa Alor Kecil untuk memulai petualangan mengintip alam bawah laut Alor yang tersohor.  Sempat cekcok sedikit dengan Pak Asa (nelayan setempat yang sudah kami  kontak untuk menyewa perahu) gara-gara perahu yang ditawarkan kepada kami, ukurannya kecil dan telanjang tanpa atap….. Wewww…. bisa selegam orang Alor nanti kami, seharian terpanggang terik matahari.  Akhirnya perahu ditukar dengan yang beratap dan berukuran lebih besar, tentu dengan sewa yang lebih besar pula :p

Desa Alor Kecil berjarak kira-kira 15 km dari Kota Kalabahi, sekitar 20 menit bermobil.  Tampak di seberang dermaga Desa Alor Kecil adalah Pulau Kepa yang mungil, di sana terdapat salah satu resort sekaligus dive center milik asing (tentu saja).  Dibelakangnya tampak puncak Pulau Pura yang seperti puncak gunung biru.

Dermaga Desa Alor Kecil

Matahari bersinar sangat terik, tapi anginnya sejuk menampar-nampar.  Kami berperahu menuju Pulau Ternate,  snorkling spot pertama hari ini.

Arus laut yang kencang dan suhu air yang dingin mengejutkan kami semua.  Ketiadaan jaket pelampung, memperparah keadaan saya yang “takut tenggelam”, walaupun sudah membekali diri dengan  “pelampung” darurat dari dry bag yang digembungkan.  Arus laut menyeret kami dengan cepat menjauhi posisi perahu , mamang perahu dengan sigap melemparkan tali tambang untuk menolong….huupp….kami berpegang erat-erat pada tali yang ditarik ke arah perahu.

just slightly under the sea

Pemandangan bawah lautnya indah, tentu saja.  Airnya sangat jernih.  Di sini terdapat tebing dalam laut yang sangat curam, dasarnya tidak kelihatan, biru gelap membuat ciut nyali.  Tebing laut curam adalah surganya para penyelam, banyak makhluk-mahkluk laut cantik yang bisa ditemui di sepanjang dinding tebing.

the gang in the water

Kami singgah sebentar di Pulau Ternate, mengobrol dengan penduduk setempat yang tengah berkumpul di bawah pohon rindang di tepi pantai.  Ibu-ibu menjajakan kain tenun, sementara para pemuda nya duduk-duduk santai di sebuah perahu rusak sambil mendengarkan musik ajep-ajep dari sebuah laptop, sambil ber-internet ria.

Aaahhhh….dua generasi dari  zaman yang berbeda saling bersisian,  generasi asli tradisional dan generasi buatan global.

generasi tradisional dan generasi digital di Pulau Ternate (Alor, NTT)

Hari ke-3 kami akan melanjutkan perkenalan dengan arus dan dinginnya laut Alor (selat Pantar), juga berkenalan dengan  makhluk-makhluk lautnya.  Bedanya, kaau kemarin menjadi tamu pak Asa dari Desa Alor Kecil, kali ini kami akan menjadi tamunya Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm ), ikut program snorkling dan diving.  Menyedihkan memang, WNI menjadi tamu WNA untuk menikmati keindahan negrinya sendiri 😦

Kami bahkan sarapan ala western..!!!

Uuuppsss…dan sebuah kejutan tidak menyenangkan datang diawal hari ketiga, yaitu tidak ada kapal yang bisa saya tumpangi yang akan berangkat ke Pulau Lembata…!!!  Terpaksa saya harus mengurungkan niat untuk pergi ke Desa Lamalera, desanya para pemburu paus, yang sudah sangat saya idamkan untuk dikunjungi…. 😦

Saya harus mengubah rencana perjalanan, membatalkan penerbangan Lewoleba – Kupang yang sudah dipesan jauh-jauh hari, dan harus mencari tiket penerbangan Alor – Kupang untuk besok atau paling lambat tanggal 21-Agustus (tanggal kepulangan saya kembali ke Jakarta), untungnya masih ada seat kosong untuk besok pagi.  Hatipun lumayan tenang…dan siap untuk menikmati hari ini di laut Alor yang dingin dan berarus kencang.

Sebuah kapal milik Dive Alor Dive sudah menunggu kami di Dermaga Pantai Reklamasi (Kalabahi).   Kapal ini dilengkapi dengan kompressor untuk pengisian udara ke dalam tabaung-tabung yang akan digendong  para diver, sebuah dapur kecil, sebuah toilet.   “Wet area” tempat untuk menaruh barang2 yang basah-basah seperti wetsuit, fin, snorkle, google, BCD, tangki, dll.   “Dry area” yang dilengkapi dengan matras plus bantal untuk tempat beristirahatnya para divers, kursi-kursi di depan kabin kapten untuk “sun bathing”, dan “capten cabin” yang nyaman.  Sangat nyaman sekali.

Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm )

Donovan dan crew nya (3 orang warga Alor + 1 kapten kapal yang ternyata orang Sukabumi :p ), sibuk memberikan pelayanan terbaik untuk kenyamanan para client nya yang hari ini terdiri dari 4 penyelam WNA, 6 penyelam WNI, 8 snorklerer WNI.

Kapal melaju tenang membelah Teluk Mutiara yang diapit daratan Alor yang bergunung-gunung.  Tepat di depan mulut Teluk Mutiara, menjulang Pulau Pura yang seperti puncak gunung, di sebelah kanan terdapat Pulau Kepa yang mungil dan Dermaga Kampung Alor Kecil tepat dihadapannya.

http://www.divealordive.com/location%20map.htm

Kapal melaju ke arah kiri dari Pulau Kepa, kemudian merapat ke tepian Pulau Pura, jangkar dilepas, rupanya ini adalah Dive Site pertama hari ini, disebut “Mike Delight” Dive Site.

Para penyelam berkumpul untuk briefing dengan Donovan serta bersiap dengan gear nya masing-masing.  Kami, yang akan snorkling sibuk melirik-lirik arus laut yang sepertinya masih sederas kemarin, oughhhh…. L

Dan betul saja, arusnya sangat kencang, juga masih sedingin kemarin.  Tidak butuh waktu lama untuk terseret menjauhi lokasi kapal.  Salah satu kawan penyelam terseret arus cukup jauh dari kapal dan terdampar didekat daratan sehingga harus dijemput oleh kapal.

Lautnya masih sejernih kemarin, kalau saja arusnya bisa sedikit lebih tenang, pasti akan lebih menyenangkan mengintip-intip para clown fish cantik yang sedang sibuk menjagai sarang annemon-nya.

Ada seorang nelayan sedang mencari ikan menggunakan sampan kecil, diatas sampannya terdapat bubu yaitu alat penangkap ikan berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu.  Saya menceburkan diri ke laut yang jernih dan terseok-seok melawan arus mengejar sampan si bapak nelayan, untuk mengamati kegiatannya.  Si Bapak Nelayan sudah menaruh bubu tersebut di dekat sebuah batu karang besar, ditindihi batu-batu dan diikat supaya tidak terbawa arus laut.  Esok hari, bubu tersebut mudah-mudahan sudah berisi ikan.

Ohh…rupa-rupanya selain dengan bubu, beliau  juga akan menombak ikan.  Saya yang sejak tadi membuntuti beliau sudah siap-siap dengan kamera untuk mengabadikan aksinya.  Tapi sayang, akibat kedatangan kami, ikan-ikan besar lari ke laut dalam.  Bapak nelayan pun tidak memperoleh buruan dan pindah mencari lokasi lain yang tanpa pengganggu.

ready to hunt…but…the big fishes are gone 😦

Seseorang dari kapal memanggil-manggil kami semua yang sedang asyik-asyiknya mengamati ikan warna warni beserta terumbu karang indah-indah, untuk segera naik kapal untuk menuju lokasi lainnya.  “Sampai jumpa Pak Nelayan, maaf kami telah mengganggu…!!!”

Dive site selanjutnya masih di sekitar Pulau Pura, dinamakan sebagai “paradise point”, katanya banyak ikan-ikan besar bergerombol di dalam sana.  Sementara di perairan dangkal dekat kapal, yang kami temui melulu pasir.  Ada ikan-ikan kecil dan segerombol soft coral disana-sini.  Agak ke tengah langsung bertemu dengan tebing laut (drop-off), ombaknya juga lumayan menampar-nampar membuat pusing.  Jadi, kami malah asyik bermain-main dengan anak-anak kecil di dermaga Pulau Pura sementara menunggu para penyelam naik ke permukaan.

Wahhh…tak terasa sudah tengah hari…, masih ada satu lagi dive site yang akan kami kunjungi hari ini, lokasinya ternyata di tepi Pulau Ternate, dekat lokasi snorkling kami kemarin.

Saya yang sudah terjangkit penyakit masuk angin, mual plus malas, memilih duduk-duduk saja di atas kapal.  Malas kedinginan lagi..:p

Arus laut masih sekencang biasanya, lumayan terseret arus  jauh juga teman-teman penyelam dan yang snorkling-an.  Kapal lepas jangkar dan bergerak menjemput mereka.

Kamera saya yang dibawa teman lumayan banyak menangkap ikan-ikan cantik dan coral-coral cantik di bawah sana.  Bahkan yang mengejutkan adalah ada “mawar laut” berwarna merah menyala yang berhasil difoto oleh salah satu teman saya.

“Mawar Laut” Alor

Wooowww…cantik sekali, kejutan yang sangat indah di hari ketiga ini.  “Mawar laut” adalah underwater icon yang dijagokan di Kepulauan Riung 17 Pulau di Flores sana.

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Dive center di Alor :

–  http://www.divealor.com/index.html

–  La P’tite Kepa Diving http://www.alor-diving.com/

–  http://www.alor-divers.com/

–  http://www.alor-divers.com/

 

 

Advertisements

Pulau Alor (NTT) : Keakraban Sekejap di Kampung Tradisional Takpala

“SELAMAT HUT KEMERDEKAAN RI-67…!!!!”

Sejak sore hari kemarin, jalanan kota Kalabahi (Kab. Alor-Solor, NTT) sudah meriah dihiasi umbul-umbul dan bendera merah putih.  Tim Drum Band giat melakukan latihan gladi-resik , berpawai keliling kota, ditonton segenap warga kota yang bermunculan ke tepi jalan demi mendengar dentuman drum dan lengkingan terompet mereka.

latihan drumband di Kota Kalabahi

Sementara itu kami sibuk berbelanja baju ganti, perlengkapan mandi, dan sarung, akibat bagasi yang tidak diangkut si pesawat.

Pagi ini, hati terasa plong dengan adanya informasi bahwa bagasi kami sedang dalam perjalanan udara dari Kupang ke Alor sini.  Uuupsss….terpaksa kami harus melewatkan upacara peringatan HUT RI yang ke 67 pagi ini, karena harus ke Bandara Mali untuk menjemput si bagasi.

Jam 8 pagi waktu setempat, bunyi sirine pertanda datangnya pesawat di bandara memecah pagi yang cerah.  Ohh..syukurlaaahhhh….bagasi kami lengkap semua…   “Selamat Datang di Alor backpack orange ku….” hahaaa…

Bagasi yang hilang akhirnya kembali 🙂

Kini, setelah semua bagasi datang, maka kami siap bertualang mengeksplorasi alam dan budaya Alor.  Teman-teman yang ikut Diving Program sudah meluncur ke dermaga di Pantai Reklamasi.  Teman-teman yang akan snorkling masih sibuk bersiap diri sambil meunggu jemputan bemo “Cinta” untuk keliling kota dan ke Alor Kecil.  Saya, yang penasaran ingin mengunjungi salah satu kampung adat, bersiap menaiki ojek ke Kampung Takpala di Desa Lembur Barat, Kec. Alor Tengah Utara.

Uupsss…..saya hampir lupa membeli oleh-oleh sirih-pinang untuk Ketua Adat Takpala.  Sebetulnya, tuan rumah lah yang berkewajiban menyajikan sirih-pinang kepada tamunya, tapi tak apalah…

Mama penjual sirih pinang di Pasar Alor

Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, menyusuri jalan aspal kecil dan lengang di bibir pantai.  Rute terakhir menuju kampung Takpala ini sungguh trek yang menantang, berupa jalanan berbatu menanjak terjal dan berliku.  Hampir ciut nyali saya dan minta turun saja dari ojek, tapi mamang ojek bersikeras agar saya duduk tenang-tenang saja dan tidak perlu takut, karena katanya beliau sudah terbiasa mengantar tamu ke sini.  Aww…ya sudahlah…saya pun berpegangan erat-erat ke body motor supaya tidak terpental :p

serong kanan ke Takpala

Ohhh..ya ampun, pemandangan sepanjang perjalanan menanjak ini sungguh indah, hamparan laut biru membentang di bawah sana.  Sungguh sulit berkonsentrasi berpegangan menjaga keseimbangan di atas ojek yang merayap terseok-seok mendaki di jalanan berbatu.  Beberapa orang anak kampung yang tengah asyik bermain di halaman rumahnya menatap ingin tahu ke arah saya, tapi spontan mereka tersenyum dan membalas sapaan “halooo…” dan lambaian tangan saya.  Anak-anak di sini sepertinya sudah sangat terbiasa melihat pelancong.  Dan tibalah saya di pelataran “parkir” di mulut kampung.  Dari sini pemandangan ke arah lautan sangat leluasa.

Pemandangan ke Laut biru

Sedikit mendaki lagi, maka sampailah saya di pintu masuk kampung, disambut  Ibu-ibu penjaja cinderamata yang menggelar lapaknya di halaman, di bawah pohon rindang.  Anak-anak asyik bermain di sekitarnya.

Deretan rumah-rumah panggung beratap bulat meruncing terbuat dari rumbia kering dan disangga 4 tiang utama dari kayu merah gelondongan yang sangat kuat. Terdapat 15 unit rumah adat (loppo).   Sistem ikat memperkuat kekokohan struktur rumah loppo.  Tali pengikat tersebut adalah berupa pohon tanaman merambat yang kuat lagi lentur.

Rumah loppo terdiri dari 4 tingkatan, yang pertama adalah semacam teras tempat menerima tamu.  Sehelai tikar digelar diatas lantai kayu, tuan rumah menyajikan sirih pinang kepada tamunya, bincang-bincang pun terus berlangsung, lalau minuman kopi panas disajikan.  Demikianlah adab penerimaan tamu di sini.  Tapi berhubung saya adalah orang “luar”, maka adabnya sedikit jungkir balik hahaa…saya yang memberikan sirih pinang sebagai oleh-oleh dan saya tidak ikut mengunyahnya hahaa…tapi saya meminum kopi yang disuguhkan Bapak Martinus Kapelkay sampai habis J

Asyik mengobrol bersama Keluarga Kapelkay

Sebuah tangga tegaklurus menembus  “lubang pintu” berbentuk segi empat,  menghubungkan teras  dengan bagian dalam rumah.  Tingkat kedua adalah bagian utama, seluruh kegiatan berpusat di ruangan ini, memasak, makan, dan tidur.   Bagian ruangan untuk tempat tidur berada di pinggir, sangat bersahaja, hanya sehelai tikar.  Tungku memasak ditempatkan diatas lantai kayu dialasi lumpur keras untuk mencegah perambatan panas dan kebakaran.  Ruangan utama ini hangat tapi juga masih ada sirkulasi udara.

Diatas ruangan ini, terdapat ruangan ketiga untuk menyimpan persediaan bahan pangan seperti jagung, beras, umbi, kopi, dll.  Lalu yang paling atas adalah tempat untuk menyimpan barang-barang berharga, seperti moko, benda pusaka, dll.

Saya sangat asyik mendengarkan penuturan Bapak Martinus, hingga lupa waktu.  Uppsss…sudah hampir tengah hari, saya sudah ditunggu teman-teman di Dermaga Desa Alor Kecil untuk memulai petualangan mengintip alam bawah laut Alor yang tersohor.

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/