Pulau Alor (NTT) : terlantar vs terselamatkan

Kejutan Hari Keempat (19-Agustus-2012)

“Bye everyone….!!!!” teriak saya kepada teman-teman yang masih akan mengikuti program diving / snorkling dengan Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm ) yang saat itu sedang berkumpul untuk sarapan.

Pagi ini saya dan kelima kawan akan kembali ke Kupang dengan pesawat pagi dan melanjutkan petualangan ke tujuan lainnya.  Saya, karena telah gagal menyebrang ke Pulau Lembata, mengubah haluan dan berencana akan ke perbatasan RI-Timor Leste di Mota’ain, tidak ikut kelima kawan lainnya yang akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Rote karena tahun lalu sudah pernah ke sana.

======================

Bandara Mali yang mungil ini hanya ramai ketika ada pesawat datang & pergi, 2 kali sehari biasanya, tapi hari ini hanya 1 pesawat yang datang dan berangkat.  Suara raungan sirine menandakan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat.  Kira-kira 15 menit kemudian barulah sang pesawat muncul seakan-akan keluar dari balik bukit, lalu mendarat mulus di landasan.

Para penumpang turun satu persatu keluar menemui penjemputnya.  Para penumpang naik segera menggantikan mereka di dalam pesawat.

“Ayo cepat…. cepaatt… semuanya tolong duduk di kursinya masing-masing…” seru Bapak Captain Crew berperut bulat menonjol, seuntai kalung rantai emas besar melingkari lehernya yang berlipat-lipat.

Semuanya sudah duduk dengan tertib di kursinya masing-masing, seat-belt sudah dipasang, ketika mesin pesawat tiba-tiba mati, lalu sang captain crew muncul kembali dari kabin, mengumumkan sesuatu yang sangat mengejutkan, yaitu pesawat tidak bisa berangkat karena mengalami kerusakan teknis dan harus diperbaiki, seluruh penumpang diharapkan turun kembali ke ruang tunggu bandara dengan membawa seluruh barang bawaan-kabin-nya masing-masing…..!!!!

Wajah-wajah penumpang yang terkejut dengan mata yang bertanya-tanya serta kekhawatiran yang juga tersirat nyata didalamnya, saling menatap satu sama lainnya.  Ragu-ragu, semua penumpang berdiri, memungut kembali semua bawaan kabin nya masing-masing, lalu kembali bersusah payah menyusuri lorong antar tempat duduk kabin, menuju pintu belakang pesawat, karena hanya pintu itu saja yang dibuka.

O..ooooo…..rupanya kejutan tidak menyenangkan masih saja timbul di hari kepulangan kami dari Alor.

Ruang tunggu mendadak penuh kembali dengan para penumpang yang bingung, kecewa, marah, tapi juga merasa lega karena kerusakan pesawat diketahui sebelum pesawat tersebut terbang. Kalau tidak terdeteksi…, hmmmm….. entahlah apa yang akan terjadi…, tak berani kami membayangkannya..

Kebingungan juga semakin bertambah dengan ketidak jelasan kapan pesawat bisa selesai diperbaiki dan kapan bisa terbang lagi.  Kepala Bandara dan PIC maskapai kewalahan menerima serangan pertanyaan bertubi-tubi dari seluruh penumpang.

Matahari semakin tinggi, halaman bandara sudah sepi, para pengantar sudah pulang sejak tadi.

Semua orang di ruang tunggu sepertinya menelepon seseorang sekarang, kebanyakan minta dijemput lagi, yang memiliki jadwal penerbangan berikut hari itu misah-misuh gelisah dan menelepon maskapai untuk membatalkan penerbangan berikut dan berharap uang tiketnya dapat diambil kembali (harapan yang mustahil…) , para traveller seperti kami juga sibuk menghitung waktu dan mengatur ulang rencana perjalanan.  Teman-teman saya yang berencana hari itu juga melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat ke Pulau Rote, terpaksa membatalkan pemesanan tiket kapal.  Sementara saya yang akan melakukan perjalanan darat tanpa harus booking-booking, sibuk memikirkan alternatif tujuan lain yang bisa dijangkau dengan tersia-sianya 1 hari ini, destinasinya tentu harus “menarik & menantang”, dan waktunya tidak boleh mengacaukan jadwal penerbangan pulang saya ke Jakarta 2 hari yang akan datang.

Satu per satu, penumpang lainnya sudah kembali ke rumahnya masing-masing.  Tinggallah kami ber enam, Pak Nope (seorang guide asal So’e yang baru selesai tugas memandu turis-turis Italia di Alor) dan sepasang turis warga Spanyol yang tersisa di teras bandara, menunggu jemputan angkot “Cinta” langganan kami.

Saya sempat bertemu dan mengobrol ringan sejenak dengan mereka berdua sewaktu di Kampung Takpala, 2 hari yang lalu, dan rupanya keduanya masih ingat saya jadi sejak kedatangan di bandara tadi pagi kami sudah asyik mengobrol, dan kini kami semua sudah seperti 1 group sejak awal.  Itulah keakraban dan kebersamaan sesama pejalan yang selalu saya rindukan, sudah seperti kenal bertahun-tahun walaupun baru bertemu 5 menit yang lalu.. J

Hari ini, adalah hari terakhir juga bagi kedua turis Spanyol, Dani & Anne.  Mereka memutuskan untuk menunggu di bandara karena tidak punya tempat lain lagi untuk dituju.  Jadilah kami berbaur saling bertukar cerita di teras bandara, bahkan para petugas bandara pun ikut nimbrung.

Angkot “Cinta” yang biasa mengantar jemput kami kemana-mana tidak juga muncul.  Perut lapar karena tidak sempat sarapan akibat terburu-buru berangkat mengejar pesawat pagi, khawatir tidak jadi terbang dan harus mengubah lagi rencana perjalanan, serta bosan menunggu bergumul menjadi satu.  Sementara tidak ada satu warung pun yang buka di bandara ini, biasanya warung kecil disebelah sana itu buka kalau saat ada pesawat datang dan pergi.  Yang ada hanya petugas bandara dan rumput ilalang di tepi landasan.

ilalang kering kerontang di tepi bandara

Lama menunggu, sang bemo “Cinta” pun akhirnya tiba, suara klaksonnya yang heboh sudah terdengar sebelum sang bemo kelihatan…  Bemo “Cinta” ini kami sebut demikian karena memang ada tulisan itu di body nya, selain tulisan-tulisan lain dan beraneka gambar-gambar yang memenuhi body mobil dan kaca jendela, membuat penumpang sangat sulit melihat-lihat ke luar.  Hiasan bemo yang “wahhh” ini memang sudah menjadi  ciri khas bemo-bemo di NTT, plus suara musik disco retro trenzz dlsb yang membahana, membuat obrolan apapun hampir tidak mungkin dilakukan.

Bemo Cinta, our king of heroes from Kalabahi :p

Kami berkeliling Kota Kalabahi untuk mencari warung makan, tapi tak menemukan satupun yang buka.  Rupanya, walaupun hampir 95% warganya memeluk agama Kristen, tapi semua orang libur guna menghormati Hari Raya Iedul Fitri yang jatuh tepat jatuh pada hari ini.  Terpaksa kami merepotkan keluarganya Om Kris Dami, pemilik Homestay Cantik sekaligus pemilik si bemo Cinta, dan sekaligus pula jadi dewa penolong kami selama di Alor, untuk menyiapkan makan siang dadakan bagi para traveller yang terlantar hahahaa…

Homestay Cantik ini memang benar-benar cantik suasananya, begitu nyaman berasa di rumah sendiri.  Ada 4 kamar siap pakai dan 4 lagi yang sedang dibangun untuk mengakomodasi para tourist yang semakin banyak berdatangan di Alor.  Dari foto-foto yang berderet di bawah lapisan kaca di meja makan prasmanan, bisa dilihat perjalanan keluarga Om Kris dan siapa-siapa saja tamu (terutama selebritis) yang datang dan pernah menginap di sini, seperti Nadine Chandrawinata.

mengatur strategi perjalanan yang kembali acak-acakan
# Homestay Cantik, Kalabahi, Alor)

Kamar-kamar itu sekarang sedang kosong karena baru saja ditinggalkan tamu-tamu tourist Italia yang telah melanjutkan perjalanan mereka ke Pulau Pantar hingga Larantuka (Flores).  Terasnya yang teduh dengan tanaman-tanaman membuat kami nyaman beristirahat menunggu kabar dari pihak maskapai, jadi terbangkah atau batal dan baru besoknya kami terbang..???  Kami tidak berani pergi jauh-jauh karena takut suatu saat ada telpon dari mereka, jadi hanya sempat berjalan-jalan di sekitar kota hingga ke Pelabuhan Pantai Reklamasi.

Dermaga Pantai Reklamasi yang sepi di siang hari

Ternyata penantian kami hari itu sia-sia, pesawat tidak bisa terbang hingga sore tiba, dan diberitahukan bahwa akan terbang besok pagi-pagi.  Hmmm….rupanya kami harus mencicipi menginap semalam di Homestay Cantik dan mencicipi lagi masakan istrinya Om Kris Dami yang enak.  Tentu saja semua biaya penginapan dan makan ditanggung oleh pihak maskapai.

gaya penumpang terlantar yang marah besar 🙂

Jadi sore-sore kami kembali ke bandara, mengambil bagasi.  Bersiap untuk menginap semalam lagi di Pulau Alor, bertemu dengan semua teman-teman penyelam dari groupnya Mr. Donovan ( http://www.divealordive.com/about%20us.htm ) yang tadi pagi sudah kami beri ucapan selamat tinggal.

“The ferry is broken, now the plane is broken too…???”   Itu adalah komentar dari salah seorang turis Amerika menanggapi  cerita kenapa saya dan teman-teman masih saja ada di sini malam ini.  Kemarin saya sudah bercerita kepadanya bahwa saya tidak jadi ke Pulau Lembata gara-gara ferry nya rusak. Beginilah kondisi umum transportasi di wilayah Indonesia Timur.

Miss Anne si turis Spanyol, bahkan berseloroh “Nope…, I’m gonna stay at the hotel, I’m not going anywhere else, I’m not gonna take any transportation again, not even a bemo.  Worry that for some reason that we don’t know, the bemo may be broken too…”

Hahahaaa…. Anne dan Dani memang sudah mengalami 2 penundaan keberangkatan pesawat, pertama adalah pesawat Kupang-Makassar yang menyebabkan mereka harus menginap di Kupang, dan sekarang ditimpa lagi dengan penundaan pesawat Alor – Kupang yang menyebabkan mereka harus menginap lagi di Alor.  Untungnya mereka berdua adalah backpacker kakap kelas dunia, yang “sudah bisa menikmati” kondisi apapun yang mereka temui selama di perjalanan.

Yuppp….kesulitan demi kesulitan selama perjalanan tidak akan membuat seorang traveller kapok… , malah akan menjadi pupuk penyemangat untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya, dan bagi hidupnya.

Strategi perjalanan kembali harus diatur, menyesuaikan dengan waktu yang sudah semakin sempit.  Kebetulan tadi pagi sewaktu terdampar di Bandara Mali , saya bertemu dengan Om Nope yang ternyata adalah seorang guide asal So’e yang beberapa hari lalu datang ke Alor mengantar tamu-tamu dari Italia yang menginap di Homestay Cantik milik Om Kris Dami.  Saya pernah ke So’e tahun lalu dan pergi ke Desa Adat Boti di Bagian Selatan dari So’e.  Om Nope mengusulkan agar saya pergi ke Desa Fatumnasi saja di Gunung Mutis, katanya pasti tidak akan menyesal kalau pergi ke sana.  Tahun lalu saya sebenarnya mencanangkan pergi ke Fatumnasi juga, tapi tidak ada waktu, sooo…Fatumnasi deh jadiii…!!!

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Advertisements

Pulau Alor (NTT) : Berkenalan dengan lautnya yang berarus dan dingin

Pada hari ke-2 (17-Agst-2012) di Pulau Alor , saya berkenalan dengan arus lautnya yang kuat dan suhu air yang sangat dingin.

Sudah hampir tengah hari ketika saya dan teman-teman berkumpul di Dermaga Desa Alor Kecil untuk memulai petualangan mengintip alam bawah laut Alor yang tersohor.  Sempat cekcok sedikit dengan Pak Asa (nelayan setempat yang sudah kami  kontak untuk menyewa perahu) gara-gara perahu yang ditawarkan kepada kami, ukurannya kecil dan telanjang tanpa atap….. Wewww…. bisa selegam orang Alor nanti kami, seharian terpanggang terik matahari.  Akhirnya perahu ditukar dengan yang beratap dan berukuran lebih besar, tentu dengan sewa yang lebih besar pula :p

Desa Alor Kecil berjarak kira-kira 15 km dari Kota Kalabahi, sekitar 20 menit bermobil.  Tampak di seberang dermaga Desa Alor Kecil adalah Pulau Kepa yang mungil, di sana terdapat salah satu resort sekaligus dive center milik asing (tentu saja).  Dibelakangnya tampak puncak Pulau Pura yang seperti puncak gunung biru.

Dermaga Desa Alor Kecil

Matahari bersinar sangat terik, tapi anginnya sejuk menampar-nampar.  Kami berperahu menuju Pulau Ternate,  snorkling spot pertama hari ini.

Arus laut yang kencang dan suhu air yang dingin mengejutkan kami semua.  Ketiadaan jaket pelampung, memperparah keadaan saya yang “takut tenggelam”, walaupun sudah membekali diri dengan  “pelampung” darurat dari dry bag yang digembungkan.  Arus laut menyeret kami dengan cepat menjauhi posisi perahu , mamang perahu dengan sigap melemparkan tali tambang untuk menolong….huupp….kami berpegang erat-erat pada tali yang ditarik ke arah perahu.

just slightly under the sea

Pemandangan bawah lautnya indah, tentu saja.  Airnya sangat jernih.  Di sini terdapat tebing dalam laut yang sangat curam, dasarnya tidak kelihatan, biru gelap membuat ciut nyali.  Tebing laut curam adalah surganya para penyelam, banyak makhluk-mahkluk laut cantik yang bisa ditemui di sepanjang dinding tebing.

the gang in the water

Kami singgah sebentar di Pulau Ternate, mengobrol dengan penduduk setempat yang tengah berkumpul di bawah pohon rindang di tepi pantai.  Ibu-ibu menjajakan kain tenun, sementara para pemuda nya duduk-duduk santai di sebuah perahu rusak sambil mendengarkan musik ajep-ajep dari sebuah laptop, sambil ber-internet ria.

Aaahhhh….dua generasi dari  zaman yang berbeda saling bersisian,  generasi asli tradisional dan generasi buatan global.

generasi tradisional dan generasi digital di Pulau Ternate (Alor, NTT)

Hari ke-3 kami akan melanjutkan perkenalan dengan arus dan dinginnya laut Alor (selat Pantar), juga berkenalan dengan  makhluk-makhluk lautnya.  Bedanya, kaau kemarin menjadi tamu pak Asa dari Desa Alor Kecil, kali ini kami akan menjadi tamunya Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm ), ikut program snorkling dan diving.  Menyedihkan memang, WNI menjadi tamu WNA untuk menikmati keindahan negrinya sendiri 😦

Kami bahkan sarapan ala western..!!!

Uuuppsss…dan sebuah kejutan tidak menyenangkan datang diawal hari ketiga, yaitu tidak ada kapal yang bisa saya tumpangi yang akan berangkat ke Pulau Lembata…!!!  Terpaksa saya harus mengurungkan niat untuk pergi ke Desa Lamalera, desanya para pemburu paus, yang sudah sangat saya idamkan untuk dikunjungi…. 😦

Saya harus mengubah rencana perjalanan, membatalkan penerbangan Lewoleba – Kupang yang sudah dipesan jauh-jauh hari, dan harus mencari tiket penerbangan Alor – Kupang untuk besok atau paling lambat tanggal 21-Agustus (tanggal kepulangan saya kembali ke Jakarta), untungnya masih ada seat kosong untuk besok pagi.  Hatipun lumayan tenang…dan siap untuk menikmati hari ini di laut Alor yang dingin dan berarus kencang.

Sebuah kapal milik Dive Alor Dive sudah menunggu kami di Dermaga Pantai Reklamasi (Kalabahi).   Kapal ini dilengkapi dengan kompressor untuk pengisian udara ke dalam tabaung-tabung yang akan digendong  para diver, sebuah dapur kecil, sebuah toilet.   “Wet area” tempat untuk menaruh barang2 yang basah-basah seperti wetsuit, fin, snorkle, google, BCD, tangki, dll.   “Dry area” yang dilengkapi dengan matras plus bantal untuk tempat beristirahatnya para divers, kursi-kursi di depan kabin kapten untuk “sun bathing”, dan “capten cabin” yang nyaman.  Sangat nyaman sekali.

Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm )

Donovan dan crew nya (3 orang warga Alor + 1 kapten kapal yang ternyata orang Sukabumi :p ), sibuk memberikan pelayanan terbaik untuk kenyamanan para client nya yang hari ini terdiri dari 4 penyelam WNA, 6 penyelam WNI, 8 snorklerer WNI.

Kapal melaju tenang membelah Teluk Mutiara yang diapit daratan Alor yang bergunung-gunung.  Tepat di depan mulut Teluk Mutiara, menjulang Pulau Pura yang seperti puncak gunung, di sebelah kanan terdapat Pulau Kepa yang mungil dan Dermaga Kampung Alor Kecil tepat dihadapannya.

http://www.divealordive.com/location%20map.htm

Kapal melaju ke arah kiri dari Pulau Kepa, kemudian merapat ke tepian Pulau Pura, jangkar dilepas, rupanya ini adalah Dive Site pertama hari ini, disebut “Mike Delight” Dive Site.

Para penyelam berkumpul untuk briefing dengan Donovan serta bersiap dengan gear nya masing-masing.  Kami, yang akan snorkling sibuk melirik-lirik arus laut yang sepertinya masih sederas kemarin, oughhhh…. L

Dan betul saja, arusnya sangat kencang, juga masih sedingin kemarin.  Tidak butuh waktu lama untuk terseret menjauhi lokasi kapal.  Salah satu kawan penyelam terseret arus cukup jauh dari kapal dan terdampar didekat daratan sehingga harus dijemput oleh kapal.

Lautnya masih sejernih kemarin, kalau saja arusnya bisa sedikit lebih tenang, pasti akan lebih menyenangkan mengintip-intip para clown fish cantik yang sedang sibuk menjagai sarang annemon-nya.

Ada seorang nelayan sedang mencari ikan menggunakan sampan kecil, diatas sampannya terdapat bubu yaitu alat penangkap ikan berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu.  Saya menceburkan diri ke laut yang jernih dan terseok-seok melawan arus mengejar sampan si bapak nelayan, untuk mengamati kegiatannya.  Si Bapak Nelayan sudah menaruh bubu tersebut di dekat sebuah batu karang besar, ditindihi batu-batu dan diikat supaya tidak terbawa arus laut.  Esok hari, bubu tersebut mudah-mudahan sudah berisi ikan.

Ohh…rupa-rupanya selain dengan bubu, beliau  juga akan menombak ikan.  Saya yang sejak tadi membuntuti beliau sudah siap-siap dengan kamera untuk mengabadikan aksinya.  Tapi sayang, akibat kedatangan kami, ikan-ikan besar lari ke laut dalam.  Bapak nelayan pun tidak memperoleh buruan dan pindah mencari lokasi lain yang tanpa pengganggu.

ready to hunt…but…the big fishes are gone 😦

Seseorang dari kapal memanggil-manggil kami semua yang sedang asyik-asyiknya mengamati ikan warna warni beserta terumbu karang indah-indah, untuk segera naik kapal untuk menuju lokasi lainnya.  “Sampai jumpa Pak Nelayan, maaf kami telah mengganggu…!!!”

Dive site selanjutnya masih di sekitar Pulau Pura, dinamakan sebagai “paradise point”, katanya banyak ikan-ikan besar bergerombol di dalam sana.  Sementara di perairan dangkal dekat kapal, yang kami temui melulu pasir.  Ada ikan-ikan kecil dan segerombol soft coral disana-sini.  Agak ke tengah langsung bertemu dengan tebing laut (drop-off), ombaknya juga lumayan menampar-nampar membuat pusing.  Jadi, kami malah asyik bermain-main dengan anak-anak kecil di dermaga Pulau Pura sementara menunggu para penyelam naik ke permukaan.

Wahhh…tak terasa sudah tengah hari…, masih ada satu lagi dive site yang akan kami kunjungi hari ini, lokasinya ternyata di tepi Pulau Ternate, dekat lokasi snorkling kami kemarin.

Saya yang sudah terjangkit penyakit masuk angin, mual plus malas, memilih duduk-duduk saja di atas kapal.  Malas kedinginan lagi..:p

Arus laut masih sekencang biasanya, lumayan terseret arus  jauh juga teman-teman penyelam dan yang snorkling-an.  Kapal lepas jangkar dan bergerak menjemput mereka.

Kamera saya yang dibawa teman lumayan banyak menangkap ikan-ikan cantik dan coral-coral cantik di bawah sana.  Bahkan yang mengejutkan adalah ada “mawar laut” berwarna merah menyala yang berhasil difoto oleh salah satu teman saya.

“Mawar Laut” Alor

Wooowww…cantik sekali, kejutan yang sangat indah di hari ketiga ini.  “Mawar laut” adalah underwater icon yang dijagokan di Kepulauan Riung 17 Pulau di Flores sana.

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Dive center di Alor :

–  http://www.divealor.com/index.html

–  La P’tite Kepa Diving http://www.alor-diving.com/

–  http://www.alor-divers.com/

–  http://www.alor-divers.com/