[Pulau Timor Barat] Edisi Desa Boti : menemukan Genset, Soeharto dan Golkar

03Sept2011

Seusai berkelana sedikit di Pulau Rote, sorenya saya melanjutkan perjalanan ke Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin saya datangi di Kab. TTS ini, seperti Desa Mollo, Gunung Mutis, Pantai Kolbano, tapi  tujuan utama saya memang pergi ke Desa Boti yang katanya seperti Suku Baduy-nya NTT.

Peta Lokasi Desa Boti
Peta Lokasi Desa Boti

Dari Pelabuhan Tenau (Kupang) saya ngojek ke tempat ngetemnya bis-bis Soe. Ongkos bis Kupang-Soe 20rb. Dapat bis jam 4 sore, sampei di So’e jam 6 sore.  Minta diturunkan di hotel, diturunkanlah daku di Hotel Sejati. Besoknya pagi-pagi baru berangkat ke Desa Boti.

Kota So’e memang dingin, apalagi pagi-pagi dan ngebut diatas motor ojek yang menderu pada kecepatan 80 km/jam (diam-diam saya mengintip speedometer dari balik bahu mamang ojek yang masih muda ).  Yahhh…maklum masih pagi, masih belum banyak saingan bis-bis lintas Timor di Jalan Raya Lintas Timor yang mulus dan lebar ini.  Sepanjang jalan, masih banyak dijumpai rumah bulat beratap ilalang dan berpintu rendah, asap mengepul dari puncak atap bulatnya.  Karena penasaran, saya sempat minta berhenti dan mampir disalah satu rumah warga yang memiliki rumah bulat di pekarangan belakang rumahnya.  Ibu tuan rumah yang baik hati, untungnya bersedia mengijinkan saya masuk ke dalam rumah bulat yang kini hanya digunakan sebagai dapur saja itu.

Ume Kbubu
Ume Kbubu

Di Kota Niki-niki, kami belok kanan (serong kanan, kalau kata orang NTT), memasuki jalan aspal yang rusak dan rusak parah kondisinya.  Di Pasar Desa Oinlasi (Kecamatan Kie), kami ambil jalan kanan lagi, tapi sebelumnya berhenti di warung untuk beli oleh-oleh pinang sirih, tembakau, dan kue-kue, serta bekal minum untuk kami.  Pasar Oinlasi ini ramainya setiap hari Selasa, dan sangat menarik untuk dikunjungi dan untuk berburu kain tenun khas Timor.

Jalanan semakin bertambah buruk, dan kami berulangkali tersesat salah jalan karena tukang ojeknya belum pernah ke daerah ini.  Bahkan kami dihadapkan pada tebing yang longsor, tapi masih bisa dilewati dengan motor walaupun harus extra hati-hati.

Bis trayek Kupang-Oinlasi
Bis trayek Kupang-Oinlasi

Di bawah tebing, terlihat banyak orang berkumpul, saya pun turun untuk sekedar melepas penat sambil mengobrol dengan mereka.  Rupanya mereka tengah menanam bibit pohon ke dalam poly bag untuk kemudian hari ditanam di tebing yang longsor tadi.  Semuanya murni dari prakarsa masyarakat setempat, tidak ada campur tangan pemerintah maupun LSM.

Penghijauan
Penghijauan

Rupanya dari longsoran tebing ini, Desa Boti Dalam tidak jauh lagi, tapi tetap saja kami nyasar lagi dan ketemu gerbang pagar kayu yang salah !!  Tapi akhirnya sampai juga kami di depan pagar kayu yang benar, masuk ke pelataran luar, lalu ada pagar lagi ke halaman dalam.

Pagar yang salah
Pagar yang salah

Saya ragu-ragu untuk masuk karena sepi sekali, tidak ada siapapun.  “Permisiii…..” teriak saya berkali-kali, akhirnya ada seorang ibu tua muncul sambil membawa sapu lidi, tersenyum, dan membukakan pintu pagar, lalu bicara dalam bahasa Boti (bahasa Dawan) yang tidak saya mengerti, mungkin mempersilahkan saya masuk.  Rupanya beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, untungnya lalu muncul perempuan belia yang bisa berbahasa Indonesia.  Nona Klui namanya, rupanya pernah sekolah hingga tamat SMP, tapi tidak melanjutkan sekolahnya karena “Mau menenun saja di sini…” begitu jelasnya dengan suara lirih dan senyum malu-malu.

Suasana area depan Wilayah Boti Dalam
Suasana area depan Wilayah Boti Dalam

Saya dibawa masuk melalui 1 pintu pagar lagi ke area halaman dalam Sonaf Raja Boti (Sonaf = istana), menuruni undakan-undakan dari batu.  Teduh sekali suasana disini.  Saya diterima di teras depan.  Ada bangku kayu kelapa untuk duduk-duduk, dan kursi kayu kusam buatan sendiri, juga kursi plastik dari toko yang juga sudah usang.  Yang menarik, disekitar tempat duduk ada beberapa potongan bambu besar untuk membuang ludah selama mengunyah sirih pinang.

Suasana di Sonaf Raja Boti
Suasana di Sonaf Raja Boti

Ahh ya… saya teringat dengan sirih pinang dan kue-kue yang saya beli di Oenlasi tadi.  Ibu tua, Nona Klui, dan anak perempuannya Ibu Tua, segera mengambil pinang sirih dan mulai mengunyahnya.  Untung saya tidak ditawari untuk mengunyah juga.  Ada goreng pisang hangat dan ubi jalar rebus, serta teh manis hangat yang disodorkan kepada saya.  Enak sekali rasanya, karena semuanya hasil kebun sendiri, bahkan minyak gorengnya pun buat sendiri dari kelapa yang banyak tumbuh di sini.  Jadi harumnya beda sekali dengan “pisgor kota” .

Jamuan untuk saya, tamu tak diundang :-p
Jamuan untuk saya, tamu tak diundang :-p

Sambil makan pisang goreng, saya banyak bertanya tentang adat keseharian Boti, tapi selalu di jawab dengan “Nanti Mama Raja kasih jelaskan.  Saya tidak boleh kasih jelaskan sebelum Mama Boti kasih jelaskan.”  Ketika saya tanya kenapa, jawabnya adalah “Nanti kalau semua orang boleh kasih jelaskan, maka semua orang adalah Raja.  Raja Boti su tidak ada lai, itu tidak boleh”.  Begitupun ketika saya minta izin untuk foto-foto, baru boleh jika Mama Raja sudah memberi penjelasan.  Ahh…sungguh adab sopan santun yang sangat luhung.  Tapi jadinya sukar sekali untuk mencari topik pembicaraan umum yang bisa sama-sama kami obrolkan.

Saat pisang goreng saya sudah hampir habis, Mama Raja yang ternyata adik bungsunya Bapa Raja Usif Nama Benu, bersedia datang dan mengobrol dengan saya.  Berkebaya putih dan berkain tenun khas Boti dengan warna merah pudarnya yang sangat khas itu.  Yang menarik perhatian saya adalah tenunan motif lambang Partai Golkar yang berderet menghiasi kancingan kebayanya.  Ketika dengan berkelakar saya bertanya tentang hal itu, dengan senyum lembut beliau berujar “Partai Golkar-nya itu baik, yang buat jadi tidak baik itu adalah orang-orangnya”.  Lagi-lagi saya tertohok oleh kebijaksanaan adi luhung Suku Boti.

Sewaktu saya melongok ke dalam Sonaf (istana Raja Boti), didinding belakang kusi kebesaran Raja Boti masih tergantung foto hitam putih alamarhum mantan Presiden Soeharto di sebelah kanan foto almarhum Raja Boti terdahulu.  Ya Tuhan…., sepertinya waktu memang terhenti di sini.  Semuanya seperti datang dari masa lalu.  Yang sedikit merusak suasana masa lalu itu hanyalah lambang partai itu, lalu genset merah disamping sonaf beserta kabel-kabel listrik.  Genset itu ternyata sumbangan dari Dinas Budaya dan Pariwisata .

boti6

Sayangnya saya tidak bisa bertemu dengan Bapak Raja, bahkan tak seorang lelaki Suku Boti pun saat itu, karena mereka semuanya sedang pergi ke ladang.  Sebenarnya saya penasaran ingin melihat adat “gelungan rambut” pria Boti, yang kata teman saya seperti gambar-gambar orang jaman Majapahit.  Saya juga tidak menemukan anak-anak kecil di sini, hanya wanita remaja dan dewasa saja, termasuk Nenek Raja, istri mendiang Raja Boti terdahulu yaitu Usif Nune Benu (wafat pada bulan Maret 2005).

Desa Boti Dalam ini sepertinya memang sudah “sedikit dipoles” untuk kepentingan wisata.  Sehingga di halaman depan telah dibangun semacam “penginapan” untuk wisatawan dan sudah dibangun pula MCK “normal” seperti yang biasa kita “warga m1/2 modern” gunakan sehari-hari.  Di sana juga sudah dibangun semacam “showroom” yang berisi kain tenun dan berbagai kerajinan tangan untuk dijual.  Bahkan tersedia pula showroom untuk demonstrasi pemintalan benang kapas dan proses menenun,  para perempuan Boti yang ditugaskan untuk memperagakan proses memintal benang kapas dan menenun juga sudah siap sedia memperagakan keahliannya kepada setiap tamu yang datang.  Sesuatu yang kurang hanyalah proses pewarnaan yang memang “sangat rumit” bagi kita-kita yang tidak terbiasa melakukannya dan prosesnya sendiri memang memakan waktu yang sangat panjang pula.  Seperti yang pernah saya lihat di Desa Kaliuda (Sumba Timur).

Aneka tenun Boti yang indah.  Woowww...... bingung sendiri pilihnya
Aneka tenun Boti yang indah. Woowww…… bingung sendiri pilihnya

Lagi-lagi adat Boti yang “melarang tuan rumah makan sebelum tamunya selesai makan” membuat saya harus makan siang sendirian disaksikan oleh Tuan Rumah yang duduk “ngedeprok” bersandar di tiang pintu.  Awalnya agak risi, makan ditonton seperti itu, tapi saya harus “menguatkan diri” dan terus makan sebanyak yang saya mampu, guna menghormati sang tuan rumah yang begitu baik hati dan penuh adab sopan santun. Semua bahan makanan yang disajikan merupakan hasil kebun dan ternak sendiri, mungkin hanya garam saja yang dibeli.  Makanannya disajikan dalam wadah-wadah yang terbuat dari batok kelapa, tembikar, dan anyaman daun lontar.  Ukuran sendok makan dari batok kelapa yang cukup besar, sedikit menyulitkan untuk mulut kecil saya.  Adat Boti memang mengharuskan untuk menjamu tamunya makan sebelum pulang.

Saya memang SMP, Sudah Makan Pulang dehhh….

Kira-kira jam 12 siang saya membangunkan tukang ojek yang sedang tidur lelap dibawah pohon rindang.  Lalu kami memulai perjalanan pulang yang sama beratnya seperti tadi waktu berangkat.  Kali ini kami mengambil jalan lain, tidak melewati sungai super lebar itu, tetapi melewati jalanan yang biasa dilalui oleh truk-truk pengangkut pasir, batu dan kayu, serta yang biasa dilalui oleh kendaraan 4WD yang biasa disewa oleh para turis.  Dan seperti tadi ketika berangkat, kali ini pun kami bertanya ditiap belokan jalan supaya tidak nyasar.

Longsor dimana-mana
Longsor dimana-mana

 

Tapi ternyata jalur inipun sudah rusak parah, bahkan putus karena longsor di 2 tempat yang berbeda.  Yang tersisa hanya seruas jalan setapak di bibir jurang dan berdinding tebing kapur kering yang sewaktu-waktu masih bisa longsor lagi.  Saya pun tidak berani tetap duduk di ojek selagi melewati jalur ini.

Pfffiuhhhh….benar-benar jalur yang sangat menantang…

“Selamat bertualang ke Desa Boti”

=======================================================================

 

Penginapan di So’e :

Hotel Sejati, Jl. Gajahmada No. 18, phone 0388-21101 (tarif Rp.100rb per malam, kamar mandi dalam)

 

Transportasi :

  • Kupang-Soe dengan bis kecil , Rp.20rb, 2 jam, bisnya ada sampai malam
  • Soe-Desa Boti dengan ojek (Rp.100rb, sudah termasuk bensin)

Informasi mengenai Budaya Suku Boti yang cukup lengkap :

Tips :

  • Jangan lupa membawa oleh-oleh kue-kue , speaket sirih+pinang+tembakau
  • Berikan “sumbangan” sewajarnya
  • Wajib mengikuti segala adat yang berlaku
  • Bertutur kata santun
  • Memakai sunblock, topi, kaca mata, dan membawa air minum untuk persediaan selama perjalanan, dan jas hujan kalau perginya pas musim hujan
  • Berangkat sepagi mungkin dari So’e supaya kebagian bis ke Oinlasi, dan kesananya tidak terlalu panas. Yang terbaik memang nyewa ojek dari Oinlasi atau dari Desa Tumu (sebelum Oinlasi), selain pastinya lebih murah (mungkin Rp60rb pp), ojeknya pasti banyak yang sudah pernah ke Desa Boti jadi sudah berpengalaman dengan trayek offroad-nya yang ekstrim, kalau nyewa ojek dari Soe, kemungkinan besar belum pernah ke Desa Boti
Advertisements

DIANTARA DEBU LEMBATA

Whooosshhhh….debu mengepul bergulung-gulung di belakang labomi (bus truck) yang membawa kami, para peserta Festival Adventur Indonesia 2014 di Pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur), dari satu desa adat ke desa adat lainnya.

Labomi siap berangkat
Labomi siap berangkat

Hidung dan mulut serentak ditutup, entah itu pakai masker, sapu tangan, kerudung, atau hanya dengan sekedar mingkem dan pencet lubang hidung….  Seketika aku teringat sebuah buku catatan perjalanan berjudul “Selimut Debu” yang ditulis oleh petualang sekaligus jurnalis kelahiran Lumajang yang sekarang katanya menetap di Beijing, yaitu Agustinus Wibowo.  Buku yang mengisahkan pengalamannya selama berkelana di pedalaman Afghanistan.  Alkisah, penduduk Afghanistan hidupnya tak pernah lepas dari debu.

Begitu juga di Lembata, sebuah pulau diantara gugusan pulau-pulau yang membentuk Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Iklim kering khas NTT menyedot uap air dari tanah, membuat partikel-partikel tanah menjadi mudah terurai dan terbang menjadi debu.  Pepohonan kering kerontang, hitam bekas terbakar.  Sungai-sungai menyusut dan kering.  Mata air berhenti mengalir.

kering
kering

Lembata mengingatkanku dengan keras, akan pentingnya air dalam kehidupan.  Di Kampung Lama Lewotolok, yang berada di kaki gunung Ile Ape, ketika untuk mendapatkan sejerigen kecil air terlebih dahulu harus berjalan kaki berkilometer jauhnya, tidak sampai hati rasanya untuk menghamburkan bahkan hanya segayung air. Sehari semalam tanpa kegiatan rutin MCK dengan air melimpah, tanpa listrik, tanpa kasur empuk, bahkan tanpa dinding rumah.  Ini bagiku adalah pembelajaran hidup dan pengayaan hati nurani.

Diantara debu dan kekeringan Lembata, ada keramahan tiada tara dari para penduduknya, ada seni adi busana luhung turun temurun berupa mahakarya tenun ikat yang dibuat dengan kecintaan dan tradisi, ada keteguhan hidup diantara segala keterbatasan, ada kecintaan abadi terhadap tradisi.

Tenun ikat tradisional dari Desa Lamagute
Tenun ikat tradisional dari Desa Lamagute

Lihatlah tata cara mereka dalam menyambut tamu, penuh dengan adab dan anggah ungguh tradisi.  Di Lamagute, di Kampung Lama Lewo Belen, di Desa Jontona, di Desa Laba Limut, kami disambut dengan upacara adat, disuguhi berbagai tari-tarian yang entah berapa bulan sebelumnya mereka berlatih, berbagai ragam makanan disuguhkan untuk kami, para tamu dari kota besar.

Upacara Selamat Datang di Kampung Adat Lama Lamagute
Upacara Selamat Datang di Kampung Adat Lama Lamagute
Upacara Selamat Datang di Kampung Lama Lewotolok
Upacara Selamat Datang di Kampung Lama Lewo Belen

Lihatlah seruan dan binar mata anak-anak serta penduduk disepanjang jalan dan di desa-desa adat yang menjadi tujuan kami.  Itu adalah antusiasme tulus.  Wooww…lihatlah begitu antusiasnya anak-anak Desa Wulondani ketika mengejar drone bermuatan kamera milik salah satu tim liputan stasiun televisi nasional, yang terbang berputar-putar di seputar lapangan pasar barter Wulondani.

Terpesona oleh drone
Terpesona oleh drone

Alam Lembata yang kering menciptakan keindahan tersendiri.  Langitnya biru bersih.  Mataharinya menyorot cerah sepanjang hari. Gunung Ile Api nya menawarkan bentangan alam yang indah ke seluruh penjuru pulau.  Lautnya biru jernih sejauh batas cakrawala. Tersembunyi dibawah lautnya, ada terumbu karang sehat warna warni beserta ikan-ikan hias beraneka bentuk dan warna.

Kawah lama Gunung Ile Api
Kawah lama Gunung Ile Api Lewotolok
Alam bawah laut Jontona
Alam bawah laut Jontona
Taman Terumbu karang cantik di Jontona
Taman Terumbu karang cantik di Jontona

???????????????????????????????

Lima hari tentu tidaklah cukup untuk mendalami apapun.  Hanya cukup untuk sekilas membaca beberapa paragraf tentang Lembata.  Tahun-tahun sebelumnya aku sudah sempat membaca paragraf tentang Flores dari Labuan Bajo hingga Maumere, juga tentang Sumba dari Kodi hingga ke Desa Kaliuda di timur, lalu tentang Sawu, lalu Rote, sempat pula mengintip Desa Boti, Desa Fatumnasi yang cantik di Gunung Mutis, lalu merambah Alor.  Membaca paragraf demi paragraf diantara lembaran halaman-halaman buku tebal berjudul Nusantara.

http://kedang-lembata.blogspot.com/2012/10/profile-dan-sejarah-lembata.html
http://kedang-lembata.blogspot.com/2012/10/profile-dan-sejarah-lembata.html

“The world is a book, those who do not travel, read only a page” demikian sabda Saint Augustin yang menjadi penyemangatku untuk setapak demi setapak menjelajahi Nusantara.

==============================

Pengalaman menakjubkan di Pulau Lembata ini diperoleh selama mengikuti rangkaian kegiatan acara Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 tanggal 24-28 September 2014 yang diselenggarakan oleh Way2East didukung oleh Pemda Kab Lembata dan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia.

http://www.way2east.com/events/Festival-Adventure-Indonesia-2014-di-Lembata
http://www.way2east.com/events/Festival-Adventure-Indonesia-2014-di-Lembata

aeSAM_3352

Tulisan ini diikutsertakan dalam ajang Lomba Blogging http://www.way2east.com/events/Lomba-Foto-Menulis-Blog-Tentang-Lembata-NTT

===============================

Cara untuk mencapai pulau yang cantik ini :
Via Kupang :
• Naik pesawat Susi Air (telp. 0383-41077, Kupang :+62 811 381 3801 / +62 811 381 3802, Bandara Wunopito Lewoleba +62 812 3602 5244, booking online : http://fly.susiair.com/ ).
• naik Kapal Cepat Cantika , 3-4 jam (berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau, Kupang, sampai di Pelabuhan Lewoleba sekitar jam 1 siang), jadwal Rabu (Kupang-Lewoleba-Larantuka), Kamis ( Larantuka-Lewoleba-Kupang), tarif tiket : Rp 260 ribu untuk kelas ekonomi dan bisnis, sedangkan kelas VIP, Rp 360 ribu).
• Naik kapal lambat :
• KM Bukit Siguntang : kapal PELNI Kupang-Lewoleba-Maumere-Makassar , phone 0383-41521 / 41031
• KMP Fery Ile Boleng : ferry Kupang-Lewoleba setiap Selasa , Lewoleba-Kupang setiap Sabtu, phone 0383-41521 / 41031

Via Larantuka
• Kapal Cepat Ina Maria 29 :
o Larantuka-Lewoleba : Selasa, Rabu & Kamis, berangkat pukul 09.30 wita
o Lewoleba-Larantuka : Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, berangkat pukul 09.00 wita.
• Kapal Cepat Fantasi Express 1 (tarif : Rp 75 ribu), pp setiap hari jam 09.00 wita, phone 0383-41007 / 410008
• KM Lewoleba Karya , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Sinar Mutiara , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Alfian Lembata, Larantuka-Lewoleba, pp setiap hari jam 10 malam
• KMP Namparnos , Larantuka-Lewoleba- Baranusa-Kalabahi, setiap Senin dari Larantuka, setiap Minggu & Senin dari Kalabahi (Alor)

Kendaraan selama di Lewoleba :
Labomi atau bus truck, bus kecil, angkutan pedesaan, dan ojek

PENGINAPAN :
Hotel banyak terdapat di Lewoleba :
o Hotel Palm Indah (3 star), 0813 371 81220 / 0815 196 06853
o Hotel Lewoleba, Jl.Awolong-Walakeam-Lewoleba
o Lile Ile Backpackers Homestay, Jl. Trans Lembata
o Hotel An’nisa , dekat Pelabuhan Lewoleba (Pantai SGB Bungsu), Phone 0383-41012
o Hotel Rezeki, Jl. Trans Lembata (depan Taman Swaolsa Titen), Phone 0383-41128
o Hotel Lembata Indah, Jl. Berdikari – Lewoleba
Di Desa Lamalera :
o Falmina homestay
o Ben Homestay
o Maria Homestay
Atau bisa menginap di rumah penduduk di Jontona (apabila mengambil rute trekking via Jontona), dan di desa Lewotolok (apabila mengambil rute trekking via Jontona.
Guide trekking Ile Ape : Bapak Elias di Jontona (0812 3785 4464).

Bank di Lewoleba : BRI dan Bank NTT
Sinyal HP : Telkomsel

Where to eat :
o Restoran Berkat Lomblen, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o Restoran Bandung , Jl. Trans Lembata (dekat Hotel Rejeki)
o Restoran Ayu Nisa, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o dekat pelabuhan Lewoleba banyak warung-warung makanan Jawa

Pulau Alor (NTT) : Keakraban Sekejap di Kampung Tradisional Takpala

“SELAMAT HUT KEMERDEKAAN RI-67…!!!!”

Sejak sore hari kemarin, jalanan kota Kalabahi (Kab. Alor-Solor, NTT) sudah meriah dihiasi umbul-umbul dan bendera merah putih.  Tim Drum Band giat melakukan latihan gladi-resik , berpawai keliling kota, ditonton segenap warga kota yang bermunculan ke tepi jalan demi mendengar dentuman drum dan lengkingan terompet mereka.

latihan drumband di Kota Kalabahi

Sementara itu kami sibuk berbelanja baju ganti, perlengkapan mandi, dan sarung, akibat bagasi yang tidak diangkut si pesawat.

Pagi ini, hati terasa plong dengan adanya informasi bahwa bagasi kami sedang dalam perjalanan udara dari Kupang ke Alor sini.  Uuupsss….terpaksa kami harus melewatkan upacara peringatan HUT RI yang ke 67 pagi ini, karena harus ke Bandara Mali untuk menjemput si bagasi.

Jam 8 pagi waktu setempat, bunyi sirine pertanda datangnya pesawat di bandara memecah pagi yang cerah.  Ohh..syukurlaaahhhh….bagasi kami lengkap semua…   “Selamat Datang di Alor backpack orange ku….” hahaaa…

Bagasi yang hilang akhirnya kembali 🙂

Kini, setelah semua bagasi datang, maka kami siap bertualang mengeksplorasi alam dan budaya Alor.  Teman-teman yang ikut Diving Program sudah meluncur ke dermaga di Pantai Reklamasi.  Teman-teman yang akan snorkling masih sibuk bersiap diri sambil meunggu jemputan bemo “Cinta” untuk keliling kota dan ke Alor Kecil.  Saya, yang penasaran ingin mengunjungi salah satu kampung adat, bersiap menaiki ojek ke Kampung Takpala di Desa Lembur Barat, Kec. Alor Tengah Utara.

Uupsss…..saya hampir lupa membeli oleh-oleh sirih-pinang untuk Ketua Adat Takpala.  Sebetulnya, tuan rumah lah yang berkewajiban menyajikan sirih-pinang kepada tamunya, tapi tak apalah…

Mama penjual sirih pinang di Pasar Alor

Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, menyusuri jalan aspal kecil dan lengang di bibir pantai.  Rute terakhir menuju kampung Takpala ini sungguh trek yang menantang, berupa jalanan berbatu menanjak terjal dan berliku.  Hampir ciut nyali saya dan minta turun saja dari ojek, tapi mamang ojek bersikeras agar saya duduk tenang-tenang saja dan tidak perlu takut, karena katanya beliau sudah terbiasa mengantar tamu ke sini.  Aww…ya sudahlah…saya pun berpegangan erat-erat ke body motor supaya tidak terpental :p

serong kanan ke Takpala

Ohhh..ya ampun, pemandangan sepanjang perjalanan menanjak ini sungguh indah, hamparan laut biru membentang di bawah sana.  Sungguh sulit berkonsentrasi berpegangan menjaga keseimbangan di atas ojek yang merayap terseok-seok mendaki di jalanan berbatu.  Beberapa orang anak kampung yang tengah asyik bermain di halaman rumahnya menatap ingin tahu ke arah saya, tapi spontan mereka tersenyum dan membalas sapaan “halooo…” dan lambaian tangan saya.  Anak-anak di sini sepertinya sudah sangat terbiasa melihat pelancong.  Dan tibalah saya di pelataran “parkir” di mulut kampung.  Dari sini pemandangan ke arah lautan sangat leluasa.

Pemandangan ke Laut biru

Sedikit mendaki lagi, maka sampailah saya di pintu masuk kampung, disambut  Ibu-ibu penjaja cinderamata yang menggelar lapaknya di halaman, di bawah pohon rindang.  Anak-anak asyik bermain di sekitarnya.

Deretan rumah-rumah panggung beratap bulat meruncing terbuat dari rumbia kering dan disangga 4 tiang utama dari kayu merah gelondongan yang sangat kuat. Terdapat 15 unit rumah adat (loppo).   Sistem ikat memperkuat kekokohan struktur rumah loppo.  Tali pengikat tersebut adalah berupa pohon tanaman merambat yang kuat lagi lentur.

Rumah loppo terdiri dari 4 tingkatan, yang pertama adalah semacam teras tempat menerima tamu.  Sehelai tikar digelar diatas lantai kayu, tuan rumah menyajikan sirih pinang kepada tamunya, bincang-bincang pun terus berlangsung, lalau minuman kopi panas disajikan.  Demikianlah adab penerimaan tamu di sini.  Tapi berhubung saya adalah orang “luar”, maka adabnya sedikit jungkir balik hahaa…saya yang memberikan sirih pinang sebagai oleh-oleh dan saya tidak ikut mengunyahnya hahaa…tapi saya meminum kopi yang disuguhkan Bapak Martinus Kapelkay sampai habis J

Asyik mengobrol bersama Keluarga Kapelkay

Sebuah tangga tegaklurus menembus  “lubang pintu” berbentuk segi empat,  menghubungkan teras  dengan bagian dalam rumah.  Tingkat kedua adalah bagian utama, seluruh kegiatan berpusat di ruangan ini, memasak, makan, dan tidur.   Bagian ruangan untuk tempat tidur berada di pinggir, sangat bersahaja, hanya sehelai tikar.  Tungku memasak ditempatkan diatas lantai kayu dialasi lumpur keras untuk mencegah perambatan panas dan kebakaran.  Ruangan utama ini hangat tapi juga masih ada sirkulasi udara.

Diatas ruangan ini, terdapat ruangan ketiga untuk menyimpan persediaan bahan pangan seperti jagung, beras, umbi, kopi, dll.  Lalu yang paling atas adalah tempat untuk menyimpan barang-barang berharga, seperti moko, benda pusaka, dll.

Saya sangat asyik mendengarkan penuturan Bapak Martinus, hingga lupa waktu.  Uppsss…sudah hampir tengah hari, saya sudah ditunggu teman-teman di Dermaga Desa Alor Kecil untuk memulai petualangan mengintip alam bawah laut Alor yang tersohor.

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/